Tidak ada yang berani menyangsikan kehebatan pemain-pemain Belanda. Dulu dunia menyaksikan talenta-talenta seperti Johan Neskeens, Johan Cruyff, Ruud Gullit, Frank Rijkaard, Ronald Koeman, Marco Van Basten hingga Edwin Van Der Sar. Era 2000-an awal pun melahirkan Wesley Sneijder, Arjen Robben dan Robin Van Persie.
Tapi usia memang tidak bisa dibohongi. Timnas mana pun di seluruh dunia menyadari bahwa regenerasi sangat penting demi menjaga performa, mempertahankan prestasi serta memberi tempat para pemain muda untuk menjadi bagian. Mengandalkan pemain tua di timnas memang sesuatu yang riskan.
Idealnya, para penerus di tim senior adalah mereka di level usia muda. Karena itu ada timnas di tingkat U-21, U-19, U-17 dan seterusnya. Namun tampaknya hal tersebut tidak berlaku untuk Belanda. Pemain muda yang bermunculan banyak yang layu sebelum berkembang.
Para pengamat yang beranggapan bahwa kegagalan Belanda mentas di Piala Eropa 2016 karena adanya "generasi yang hilang". Mereka adalah para pemain yang lahir di pertengahan dan akhir 1980-an, dan pernah membawa Belanda menjuarai Piala Eropa U-21 pada tahun 2007.
Banyak dari mereka yang terlihat begitu menjanjikan saat masih bersama tim junior tapi melempem begitu menginjak usia dewasa.
Dari sebelas pemain inti yang tampil sepanjang turnamen, hanya ada satu yang berhasil tembus tim senior. Dia adalah penyerang Ryan Babel yang kini memperkuat klub Turki, Besiktas. Bagaimana dengan yang lain? Ada yang bermain dengan tim papan tengah Eredivisie, bersama tim medioker di liga lain, bahkan ada yang telah pensiun dini dan banting setir menjadi rapper seperti Royston Drenthe.
Pemain-pemain senior di tim "Oranje" dianggap gagal menjembatani regenerasi dan selalu diandalkan menjadi tumpuan, meski umur perlahan menggerogoti permainan mereka di lapangan.
Sebuah teori kemudian muncul : pemain-pemain muda bertalenta milik Belanda terlalu cepat keluar negeri. Coba tengok Dennis Bergkamp dan Ruud Van Nistelrooy, dua penyerang legendaris yang "baru" menyeberang pada usia 25 ke atas. Mereka yang merantau terlalu cepat harus pula cepat meredup seperti Ibrahim Afellay bersama Barcelona dan Eljero Elia saat masih di Juventus.
Mereka yang memilih bertahan di dalam negeri pun menghadapi masalah : level liga Belanda yang semakin menurun. Klub-klub yang lolos ke Liga Champions pun tidak bisa mengimbangi gaya permainan klub seperti Real Madrid, Barcelona, Bayern Munchen, Paris Saint-Germain atau Chelsea.
Kesimpulannya, mereka tidak berkembang di dalam negeri dan sulit bersaing di ajang internasional.
Untuk ke depannya harapan akan disematkan ke pundak Virgil Van Dijk, Daryl Janmaat, Giorginio Wijnaldum, Daley Blind, Davy Klaassen, Marco Van Ginkel dan Memphis Depay.