Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Howe, Conte, Nagelsmann: Siapa yang Pantas Gantikan Carrick di MU?
potret bagian stadion Old Trafford, markas Manchester United (unsplash.com/Nat Callaghan)
  • Michael Carrick terancam meninggalkan Manchester United setelah delapan laga tanpa kemenangan, kekalahan telak dari Bournemouth dan Como, serta kritik terbuka Bruno Fernandes terhadap taktiknya.
  • Eddie Howe menjadi favorit berkat pengalaman Premier League dan keberhasilan di Newcastle, tetapi pemulihan kesehatannya, kebutuhan proyek jangka panjang, serta kompensasi kepada Newcastle menjadi kendala.
  • Antonio Conte menawarkan rekam jejak hasil cepat namun berpotensi memicu konflik internal, sementara Julian Nagelsmann bebas kompensasi tetapi minim pengalaman Premier League dan catatan terakhirnya kurang meyakinkan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Michael Carrick kini di ambang pintu keluar Manchester United. Kekalahan 0-3 dari AFC Bournemouth pada pekan ke-8 English Premier League (EPL) 2026/2027, ditambah hasil memalukan 1-4 atas Como 1907 di Liga Champions Eropa sepekan sebelumnya, membuat Setan Merah menderita delapan laga tanpa kemenangan. Mereka hanya terpaut satu poin dari zona degradasi di liga. 

Kritik terbuka kapten kesebelasan, Bruno Fernandes, terhadap taktik Carrick usai melawan Como kian memperumit keadaan. Di balik layar, direksi klub tampaknya mulai serius menimbang pengganti dengan tiga nama paling santer disebut, yakni Eddie Howe, Antonio Conte, dan Julian Nagelsmann.

1. Eddie Howe jadi opsi favorit, tetapi punya masalah kesehatan dan beban finansial

Dari ketiga nama ini, Eddie Howe barangkali yang paling mudah diterima publik Old Trafford. Rekam jejaknya di Newcastle United berbicara banyak dengan membawa The Magpies dua kali lolos ke Liga Champions dan mengakhiri paceklik trofi selama 56 tahun lewat gelar juara Carabao Cup 2025. Ia dikenal sebagai sosok yang sabar dalam membangun identitas bermain dan budaya tim dari nol, sesuatu yang sulit dibentuk Manchester United usai era kepelatihan Sir Alex Ferguson.

Howe juga disebut sebagai kandidat favorit direktur sepak bola MU, Jason Wilcox, yang menilai pengalaman panjangnya di Premier League sebagai nilai jual utama. Ironisnya, nama Howe sebelumnya direkomendasikan mantan direktur olahraga, Dan Ashworth, saat MU mencari pengganti Erik ten Hag. Namun, akhirnya Sir Jim Ratcliffe memilih Ruben Amorim. Kini, dengan Amorim dan penerusnya sama-sama gagal, MU seolah berputar kepada opsi yang sempat mereka lewatkan.

Meski begitu, ada satu ganjalan besar mengenai alasan Howe mundur dari Newcastle pada musim panas 2026. Ia sempat dirawat karena pneumonia pada April 2025, sebulan setelah mengangkat trofi Carabao Cup. Ia belum sepenuhnya pulih secara fisik maupun mental saat kembali bertugas. Mempercepat kembalinya Howe ke ruang ganti yang penuh tekanan seperti MU berisiko mengulang pola kelelahan yang sama.

Dilansir Telegraph, selain faktor kesehatan, MU juga harus merogoh kocek kompensasi kepada Newcastle yang awalnya disebut mencapai 6 juta pound sterling (Rp145,1 miliar), meski kini diperkirakan turun ke sekitar 3 juta pound sterling (Rp72,5 miliar). Lebih krusial, pendekatan Howe selama ini condong kepada proyek jangka panjang yang dibangun perlahan ketimbang berperan sebagai pemadan kebakaran. Pertanyaannya, apakah pendekatan semacam ini cukup cepat untuk menyelamatkan MU dari krisis yang terjadi di depan mata?

2. Meski menjanjikan solusi instan, sikap keras Antonio Conte bakal bikin internal Manchester United memanas

Jika Eddie Howe menjual stabilitas, Antonio Conte menjual kepastian instan. Ia adalah satu-satunya pelatih yang tersisa di sepak bola Eropa dengan rekam jejak juara liga pada musim pertamanya bersama tiga klub berbeda, yaitu Juventus, Chelsea, dan Napoli. Bahkan, ketika mengambil alih Tottenham Hotspur pada November 2021, persis momentum serupa yang kini dihadapi Manchester United, Conte langsung membawa mereka lolos ke Liga Champions pada 2021/2022.

Di samping itu, Conte juga punya argumen solid soal warisan. Setelah meninggalkan Inter Milan pada Juni 2021, mereka tetap menjuarai Serie A Italia dan dua kali mencapai final Liga Champions di bawah Simone Inzaghi. Gaya kepelatihannya yang keras dan menuntut dinilai pas untuk skuad yang kehilangan standar dan mentalitas bertanding, persis kritik yang dilontarkan kepada pemain MU pada 2026/2027 ini.

Di balik gaya kepelatihannya yang keras, Conte selalu menuntut intensitas latihan yang sangat tinggi dari para pemainnya saat menukangi Tottenham dan Napoli. Metode fisik yang berat ini kerap kali berubah menjadi bumerang yang mengancam kebugaran skuad. Akibat masalah kebugaran, para pemain mengalami cedera dan performa kedua klub tersebut akhirnya merosot pada musim kedua kepelatihannya.

Ditambah lagi, reputasi Conte sebagai sosok yang sulit diajak kerja sama bukan isapan jempol. Ia nyaris selalu berselisih dengan manajemen di tiap klub yang ditanganinya. Puncaknya terjadi pada konferensi pers emosional di Tottenham pada Maret 2023, yang langsung mengakhiri masa jabatannya seminggu kemudian. Musim keduanya di Chelsea pun disebut sebagai periode yang sia-sia akibat hubungan yang memburuk dengan skuad.

Menurut laporan The Athletic, Conte diketahui akan meminta jaminan kontrol dan otoritas penuh sebelum menerima pekerjaan apa pun. Syarat ini dikhawatirkan bakal bertentangan dengan tatanan manajemen yang sedang dikembangkan Jason Wilcox dan Sir Jim Ratcliffe. Tak heran, beberapa sumber internal MU disebut akan syok bila klub benar-benar memilih Conte, karena khawatir memicu gesekan terbuka antara ruang ganti dan ruang direksi.

3. Julian Nagelsmann jadi kandidat siap pakai, tetapi rekam jejak kepelatihannya kurang bagus

Berbeda dari dua nama sebelumnya, Julian Nagelsmann justru melesat diam-diam berkat dukungan dari internal Manchester United yang terus membesar, menempatkannya sebagai kandidat baru. Salah satu faktor kuncinya adalah kedekatannya dengan Christopher Vivell, direktur rekrutmen MU yang pernah bekerja satu atap dengannya di RB Leipzig. Hubungan ini berpotensi membuat strategi transfer klub lebih selaras ketimbang opsi lain.

Nagelsmann juga membawa profil pelatih muda-progresif yang fasih berbahasa Inggris dan sudah terbiasa dengan tekanan tim raksasa, dari Bayern Munich hingga Timnas Jerman. Status bebas kontraknya membuat MU tak perlu keluar sepeser pun untuk biaya kompensasi, tidak seperti Eddie Howe yang membawa beban finansial. Nagelsmann pun bisa langsung tancap gas kapan saja dibutuhkan, menjadikannya kandidat paling praktis di antara tiga nama yang ada.

Meski begitu, catatan kepelatihan terakhirnya kurang meyakinkan. Ia dipecat Bayern Munich hanya semusim setelah membawa klub itu menjuarai Bundesliga Jerman. Kemudian, masa jabatannya di Timnas Jerman berakhir mengecewakan dengan tersingkir pada perempat final Euro 2024 dan kandas pada 32 besar Piala Dunia 2026 melawan Paraguay.

Lebih mengkhawatirkan, Nagelsmann belum memiliki pengalaman melatih klub Premier League, hal serupa yang dialami Erik ten Hag dan Ruben Amorim. Terlebih lagi, ia pernah menaruh keraguan soal struktur klub saat didekati Chelsea pada 2023, kekhawatiran yang terasa familier mengingat MU kini menghadapi persoalan serupa. Kritik terbuka Lisandro Martínez soal kebijakan transfer dan tata kelola di balik layar seakan menjadi alarm bahwa isu itu belum sepenuhnya beres di Old Trafford.

Kesimpulannya, pilihan Manchester United bukan semata soal siapa pelatih terbaik di atas kertas, melainkan siapa yang paling sesuai dengan struktur kekuasaan yang tengah dibentuk Jason Wilcox dan Sir Jim Ratcliffe. Siapa pun yang dipilih, tekanan untuk segera membuktikan diri akan sama beratnya dengan yang kini ditanggung Michael Carrick.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article