Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

I.League Ingin Klub yang Kena Sanksi Komdis PSSI Tak Ajukan Banding

3 min read
I.League Ingin Klub yang Kena Sanksi Komdis PSSI Tak Ajukan Banding
Sesi jumpa pers soal Persija di Kantor I.League. (IDN Times/Sandy Firdaus)
  • Direktur Utama I.League Ferry Paulus meminta klub dan suporter tidak mengajukan banding atas sanksi Komdis PSSI agar hukuman memberi efek jera.

  • Sanksi muncul setelah kericuhan yang melibatkan suporter Persita, Persija, PSGC, dan PSIS; bentuknya denda serta larangan mendampingi tim dalam laga tandang.

  • I.League menekankan klub harus mengedukasi suporter agar akses suporter tandang, dengan alokasi tiket 10–15 persen, tetap terjaga dan kekerasan tidak berulang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, tidak menyarankan klub maupun suporter mengajukan banding atas sanksi Komite Disiplin (Komdis) PSSI. Tujuannya, agar ada efek jera bagi para suporter.

Komdis PSSI baru-baru ini menjatuhkan sanksi menyusul sejumlah insiden kericuhan di kompetisi sepak bola Indonesia, baik Super League maupun Championship. Di Super League, insiden melibatkan suporter Persita dan Persija. Sementara itu, kericuhan di Championship melibatkan suporter PSGC dan PSIS.

Sanksi yang dijatuhkan mencakup denda dan larangan bagi suporter mendampingi tim saat menjalani laga tandang. Meski pihak yang dijatuhi hukuman memiliki hak untuk mengajukan banding sesuai aturan, Direktur I.League, Ferry Paulus, menilai langkah tersebut bukan pilihan yang tepat.

  1. 1. I.League ingin menjaga kesempatan suporter tandang

    Para pemain Persita dan Persija bertanding dalam laga Super League musim 2026/27 di lapangan sepak bola.
    Situasi Persita vs Persija di Super League 2026/27. (Dok. Istimewa)

    Ferry menjelaskan, kehadiran suporter tim tamu di stadion merupakan hasil dari upaya panjang untuk membuka akses dukungan langsung bagi pendukung klub yang bertanding di kandang lawan.

    "Kami sudah mendorong hampir 3 tahun lebih (suporter away), sehingga PSSI dipantau FIFA untuk memberikan izin untuk bisa dihadiri suporter ke mana saja, diizinkan dengan beberapa catatan untuk yang punya rivalitas menjadi landasan utamanya," kata Ferry di Jakarta, Rabu (21/10/2026).

    Ia menjelaskan, alokasi tiket untuk suporter tim tamu berada di kisaran 10–15 persen dari kapasitas yang disediakan. Menurut Ferry, Persita tidak mempermasalahkan alokasi tersebut sehingga Persija mendapatkan kuota suporter tandang yang cukup besar.

    "Alokasi away itu 10–15 persen, Persita tidak ada masalah sehingga Persija mendapat jatah cukup lumayan banyak. Karena tidak ada indikasi. Kami I.League merasa ini penting untuk digarisbawahi. Jika terulang lagi kami dorong sanksi lebih berat," ujarnya.

  2. 2. Klub diminta lebih aktif mengedukasi suporter

    The Jakmania bersihkan tribun usai laga Persija vs Persib di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) (dok.Infokom the Jakmania)
    The Jakmania bersihkan tribun usai laga Persija vs Persib di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) (dok.Infokom the Jakmania)

    Ferry menegaskan, sanksi yang telah dijatuhkan Komdis PSSI seharusnya menjadi bahan evaluasi bagi klub dan suporter. Ia berharap hukuman tersebut menjadi pengingat agar perilaku anarkis tidak terus berulang dalam sepak bola Indonesia.

    Menurutnya, klub memiliki peran penting untuk memberikan edukasi kepada para pendukungnya, terutama mereka yang kerap terlibat dalam pelanggaran dan kericuhan.

    "Bahkan kalau bisa sampai tidak boleh away jika terus mengganggu. Ini early warning untuk menertibkan suporter, untuk klub memberikan edukasi yang sering membuat masalah," ucap Ferry.

  3. 3. Tak ingin kekerasan jadi sebuah kebiasaan

    WhatsApp Image 2026-09-12 at 4.38.59 PM.jpeg
    Koreografi Jakmania saat mendukung Persija Jakarta dalam duel melawan Persib di SUGBK, Sabtu (12/9/2026) (IDN Times / Sandy Firdaus)

    Ferry juga menilai pengajuan banding atas sanksi tersebut kurang tepat karena hukuman perlu memberikan efek jera. Ia mengingatkan agar kekerasan tidak berkembang menjadi kebiasaan di kalangan suporter.

    "Sanksi ini diajukan banding, tapi kami sebenarnya merasa itu kurang tepat. Disampaikan bahwa ada tendensi kalo berkelahi terus menjadi tren. Beberapa oknum yang punya indikasi harus dijatuhi sanksi lebih berat," tuturnya.

    I.League berharap klub dapat mengambil langkah lebih tegas dalam membina suporternya. Dengan begitu, kesempatan mendukung tim secara langsung di laga tandang dapat tetap terjaga tanpa diwarnai tindakan yang merugikan klub maupun kompetisi.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More