Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ironi Tottenham Hotspur, Klub Kaya Tapi Ada di Zona Degradasi
potret tribun Tottenham Hotspur Stadium (unsplash.com/Sung Jin Cho)
  • Tottenham Hotspur, meski termasuk klub terkaya dunia dengan valuasi 3,3 miliar dolar AS, kini terpuruk di zona degradasi Premier League musim 2025/26.
  • Kepergian Daniel Levy sebagai Executive Chairman membuat manajemen Tottenham limbung dan kehilangan arah setelah dua dekade kepemimpinan suksesnya.
  • Hengkangnya pemain bintang seperti Harry Kane dan Son Heung Min tanpa pengganti sepadan membuat performa tim menurun drastis hingga terdampar di posisi ke-18 klasemen.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Tottenham Hotspur adalah sebuah ironi musim ini. Mereka berstatus sebagai salah satu klub terkaya di dunia, tetapi justru berada di jerat degradasi Premier League.

Dalam laga pekan 32 Premier League 2025/26, Tottenham harus mengakui keunggulan Sunderland dengan skor 0-1. Kekalahan ini resmi menjerumuskan mereka ke zona degradasi.

Padahal, dilansir majalah Forbes, Tottenham masuk 10 besar klub terkaya di dunia. Mereka bertengger di posisi 9, dengan nilai klub sebesar 3,3 miliar dolar Amerika Serikat (setara Rp56,5 triliun). Kenapa mereka bisa ada di jurang degradasi?

1. Berawal dari perginya Daniel Levy

Kesuraman Tottenham musim 2025/26 ini bermula dari perginya sang bos, Daniel Levy. Per September 2025, dia tak lagi jadi Executive Chairman di Tottenham.

Berkat Levy, Tottenham menjadi salah satu kekuatan di sepak bola Inggris. Dia membawa Tottenham main di Eropa sebanyak 18 kali dalam 20 tahun terakhir. Dia juga menyulap akademi dan pusat latihan Tottenham menjadi salah satu yang tercanggih di dunia.

Puncaknya, dia turut andil dalam pembangunan Tottenham Hotspur Stadium, markas baru tim dengan kapasitas lebih besar. Dua trofi berhasil dipersembahkan Levy selama memimpin klub, yakni Piala Liga Inggris dan Liga Europa.

Selepas kepergian Levy, Tottenham langsung limbung. Mereka kehilangan sosok dengan kemampuan manajerial dan operasional ciamik, berakibat pada terombang-ambingnya manajemen klub.

2. Hilangnya para pemain bertaji di Tottenham

Selain mundurnya Levy, alasan lain yang bikin Tottenham sulit bersaing adalah hengkangnya para pemain berkualitas. Mereka menyia-nyiakan generasi emas talenta bintang yang sempat ada di skuad.

Harry Kane, Son Heung Min, Christian Eriksen, hingga Dele Alli, pergi dari klub tanpa adanya pengganti yang tepat. Sekarang, Tottenham berisikan pemain-pemain yang secara kualitas biasa-biasa saja.

Kapten tim dan pemenang Piala Dunia, Nicolas Romero menjadi beban. Micky van de Ven adalah bek biasa-biasa saja kecuali kecepatan dan kemampuannya dalam transisi. Pedro Porro tampil di bawah standar di kedua ujung lapangan musim ini.

Lalu, Richarlison bisa mencetak gol sesekali tapi tidak menawarkan banyak hal lain dan jarang fit. Kiper Guglielmo Vicario mengalami penurunan drastis sejak musim debutnya. Mohammed Kudus dan Xavi Simons cuma modal mahal saja.

3. Hasilnya? Tottenham terjerembab musim ini

Buntut dari semua kekacauan itu, Tottenham kini harus rela bertengger di posisi 18 dengan raihan 30 poin. Mereka terlempar ke zona degradasi, bersama Burnley dan Wolverhampton Wanderers.

Premier League masih tersisa enam laga lagi. Masih banyak waktu bagi Tottenham Hotspur untuk menyelamatkan diri. Namun, melihat situasi yang ada, jangan heran jika kelak mereka mentas di Championship musim depan.

Editorial Team