Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kasus Doping yang Menutup Kiprah Diego Maradona di Piala Dunia
ilustrasi fans Maradona (unsplash.com/Carmen Laezza)
  • Diego Maradona membawa Argentina juara Piala Dunia 1986 lewat performa luar biasa, termasuk dua gol legendaris melawan Inggris yang menegaskan statusnya sebagai ikon sepak bola dunia.
  • Pada Piala Dunia 1994, Maradona dinyatakan positif ephedrine setelah laga kontra Nigeria, membuat FIFA menjatuhkan larangan bermain 15 bulan dan mengakhiri kiprahnya di turnamen tersebut.
  • Sanksi doping dari FIFA menjadi akhir karier internasional Maradona, menutup perjalanan sang legenda yang pernah membawa kejayaan bagi Argentina namun tersandung skandal besar di penghujung masa bermainnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Perbincangan perihal Piala Dunia tak seharusnya dilepaskan dari sosok Diego Armando Maradona. Legenda Argentina tersebut dikenal sebagai salah satu pemain paling berpengaruh dalam sejarah turnamen 4 tahunan itu berkat penampilan luar biasanya, terutama ketika mengantarkan negaranya meraih gelar juara pada 1986. Kegeniusan, kepemimpinan, dan aksi-aksi ikonis membuat nama Maradona selalu menjadi bagian dari sejarah panjang Piala Dunia.

Namun, perjalanan Maradona di Piala Dunia tidak hanya dipenuhi kisah kejayaan. Delapan tahun setelah mencapai puncak kariernya, ia justru mengalami akhir yang menyakitkan akibat kasus doping di Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Insiden tersebut tidak hanya mengakhiri kiprahnya di turnamen, tetapi juga menjadi penutup karier internasionalnya.

1. Diego Maradona mencapai puncak kejayaan di Piala Dunia 1986

Diego Maradona mencapai puncak kejayaannya pada Piala Dunia 1986 di Meksiko, ketika ia tampil sebagai motor utama permainan Argentina. Dengan kemampuan dribel luar biasa, kontrol bola yang sulit direbut, serta visi bermain yang tajam, Maradona berhasil membawa tim yang tak begitu diunggulkan menjadi juara dunia. Penampilannya di turnamen ini dianggap sebagai salah satu performa individu terbaik sepanjang sejarah sepak bola.

Salah satu momen paling ikonik terjadi pada perempat final melawan Inggris. Dalam pertandingan tersebut, Maradona mencetak dua gol yang sangat legendaris dan kontras satu sama lain. Gol pertamanya tercipta melalui aksi kontroversial yang kemudian dikenal luas sebagai “Hand of God”, ketika ia memanfaatkan situasi di depan gawang untuk mencetak gol dengan tangannya. Wasit tidak melihat pelanggaran tersebut dan gol tetap disahkan.

Beberapa menit setelahnya, Maradona kembali menunjukkan kualitas luar biasanya dengan mencetak gol spektakuler dari tengah lapangan. Ia melewati sejumlah pemain Inggris sebelum mencetak gol. Aksi ini kemudian dikenang sebagai salah satu gol terbaik dalam sejarah Piala Dunia. Kombinasi kontroversi dan kejeniusan tersebut membuat nama Maradona semakin besar dan menegaskan statusnya sebagai salah satu pemain paling berpengaruh di turnamen itu.

2. Diego Maradona tersandung kasus doping di Piala Dunia 1994

Kiprah Diego Maradona di Piala Dunia 1994 berubah drastis setelah tampil menjanjikan pada dua laga awal Argentina. Ia mencetak satu gol dalam kemenangan telak atas Yunani dan kemudian membantu timnya meraih kemenangan atas Nigeria. Namun, usai pertandingan melawan Nigeria, Maradona dinyatakan positif menggunakan zat terlarang ephedrine setelah menjalani tes doping.

FIFA kemudian menjatuhkan hukuman larangan bermain selama 15 bulan kepada Maradona. Sanksi tersebut menjadi hukuman keduanya dalam kurun 3 tahun setelah juga dijatuhi skorsing akibat kasus penggunaan kokain di Italia pada 1991. Keputusan itu sekaligus mengakhiri kiprah Maradona di Piala Dunia 1994 karena ia tidak diizinkan melanjutkan turnamen.

Maradona membantah telah sengaja mengonsumsi zat terlarang dan melalui kuasa hukumnya menyatakan hasil tes positif terjadi akibat kekeliruan penggunaan obat yang memiliki nama serupa. Presiden Argentina, Carlos Menem, juga menilai hukuman FIFA terlalu berat dan menyebutnya sebagai bentuk perlakuan yang berlebihan terhadap sang pemain. Meski demikian, FIFA tetap mempertahankan keputusannya sehingga kasus doping tersebut menjadi awal berakhirnya karier internasional Maradona.

3. Sanksi FIFA mengakhiri karier Maradona

Setelah dinyatakan positif doping, FIFA secara resmi menjatuhkan sanksi larangan bermain selama 15 bulan kepada Diego Maradona. Hukuman tersebut bersifat final dan tidak dapat diajukan banding, sebagaimana ditegaskan oleh otoritas FIFA pada saat itu. Dengan keputusan ini, Maradona dipastikan absen dari berbagai agenda penting, termasuk kompetisi internasional yang sedang dan akan berlangsung.

Sanksi ini tidak hanya berdampak pada kariernya di level tim nasional, tetapi juga hampir menutup peluangnya untuk kembali bermain di level klub. Pada usia yang mendekati 35 tahun saat masa hukuman berakhir, Maradona dianggap sudah tidak lagi berada pada kondisi ideal untuk bersaing di level tertinggi. Terlebih, ia memiliki riwayat masalah kebugaran dan kontroversi yang terus mengiringinya.

Reaksi terhadap keputusan FIFA pun beragam. Sebagian pihak menilai hukuman tersebut terlalu keras, sementara FIFA bersikeras bahwa keputusan diambil demi menjaga kredibilitas sepak bola dan aturan anti-doping. Akhirnya, kasus ini menjadi penanda berakhirnya kiprah internasional Maradona, sosok yang pernah mengantar Argentina menjadi juara dunia namun kemudian tersingkir oleh skandal yang meruntuhkan kariernya di panggung global.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article