Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kisah Legenda Jepang: Tinggalkan Negeri Sakura, Jadi Koboi di Brasil
ilustrasi logo Timnas Jepang (unsplash.com/bradenh13)
  • Marcus Tulio Tanaka, legenda sepak bola Jepang berdarah Brasil-Italia, kini hidup tenang di pedesaan Palmeira d’Oeste setelah pensiun pada 2020.
  • Tulio membangun sekolah gratis bernama CEIA untuk 700 siswa di kampung halamannya sebagai bentuk balas budi dan kontribusi sosialnya.
  • Menjelang laga Jepang vs Brasil di Piala Dunia 2026, Tulio optimistis Jepang mampu tampil solid dan menantang dominasi Brasil.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Jepang akan menantang Brasil di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Duel tersebut dijadwalkan kick-off di Houston Stadium, Amerika Serikat, pada Selasa dini hari WIB (30/6/2026).

Pertemuan itu menjadi momen emosional bagi seorang Marcus Tulio Tanaka. Pria berusia 45 tahun itu adalah legenda hidup sepak bola Jepang, yang lahir dan memiliki darah keturunan Brasil-Italia-Jepang.

Tulio sukses mengukir sejarah sebagai bek tangguh yang mewakili Jepang di berbagai panggung internasional, termasuk Piala Dunia 2010. Namun, setelah memutuskan gantung sepatu pada Februari 2020 lalu, ia memilih jalan hidup yang sangat berbeda.

Legenda Urawa Reds dan Nagoya Grampus itu memutuskan untuk meninggalkan gemerlapnya Jepang, dan pulang ke kampung halamannya di pedesaan Brasil. FIFA melansir, kini ia menjadi "koboi filantropis".

1. Pensiun main bola, pilih hidup damai bareng sapi

Perjalanan Tulio cukup menarik. Tak seperti kebanyakan mantan pemain yang tetap berkecimpung di dunia sepak bola, Tulio justru sama sekali tidak merindukan si kulit bundar.

Memori yang tertulis selama 23 tahun karier profesionalnya memang membekas, namun, buku kenangannya telah ditutup rapat. Ia kini lebih memilih menikmati kehidupan yang lambat dan tenang di Palmeira d'Oeste, sebuah desa terpencil di Brasil yang hanya memiliki penduduk sekitar 10.000 jiwa.

"Saya tinggal di pedesaan, di sebuah peternakan, sekitar 600 kilometer dari Sao Paulo. Tempat yang sangat kecil, dengan orang-orang yang ramah dan tanpa lampu merah, jadi Anda dapat menghabiskan waktu dengan perlahan," cerita Tulio kepada FIFA.

Kehidupan barunya jauh dari hiruk pikuk kota besar, yang selalu dimintai tanda tangan dan foto oleh penggemar. Tulio benar-benar pulang sebagai warga biasa, dan sangat menikmati masa pensiunnya.

"Jika saya ingin pergi ke sungai, saya pergi ke sungai; jika saya ingin melihat sapi, saya bisa melihat sapi, inilah kehidupan yang saya sukai," ujar Tulio.

2. Bangun sekolah gratis sebagai balas budi

Meski hidup sederhana layaknya koboi, Tulio tidak melupakan tanggung jawab sosialnya kepada komunitas tempat ia dilahirkan. Merasa sangat bersyukur atas kesuksesan finansial dari sepak bola, ia mendedikasikan sebagian hartanya untuk membangun fasilitas pendidikan yang layak di kampung halamannya.

"Saya tahu pentingnya pendidikan dan saya menyadari itulah yang hilang di kota saya. Dengan bantuan ayah saya, kami mendanai dan membangun sekolah yang kami buka pada Juni tahun lalu," ujar pria yang memiliki 43 caps bersama Jepang tersebut.

Sekolah tersebut bernama CEIA, menampung 700 siswa, 42 guru, dan bahkan memiliki dua bus sekolah sendiri. Bagi Tulio, kebahagiaannya saat ini tidak lagi datang dari riuhnya stadion, melainkan melihat anak-anak belajar, memancing di sungai, atau melihat anak kuda yang baru belajar berjalan di peternakannya.

3. Pede Jepang bisa redam Brasil

Terkait duel babak 32 besar di Houston nanti, Tulio dihadapkan pada dilema. Ia harus memilih antara Brasil selaku kampung halamannya, atau Jepang yang membesarkan namanya di lapangan hijau.

Meski sulit memilih, Tulio merasa optimistis dengan peluang skuad Samurai Biru asuhan Hajime Moriyasu. Tulio menilai Jepang telah menunjukkan kelasnya, lolos sebagai runner-up grup neraka yang dihuni Belanda, Swedia, dan Tunisia.

"Jepang memiliki tim yang sangat terorganisasi dengan baik yang tahu persis apa yang ingin dilakukannya dan mampu mengeksekusi rencana permainannya," analisis Tulio.

Tulio yakin rintangan terbesar Jepang selama ini hanyalah soal memecahkan mitos babak perempat final atau semifinal. Ayase Ueda dan kawan-kawan sedang berada di performa dan generasi terbaiknya.

"Tentu saja Brasil telah memenangkan Piala Dunia berkali-kali, tapi saya pikir Jepang menuju ke arah yang benar, mereka berada di jalan yang tepat," ujar Tulio.

Curated For You

Editorial Team

Related Article