Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Luka Masa Lalu Inggris vs Argentina dalam Bayang-bayang Perang Falkland
Bomber Argentina, Julian Alvarez (nomor 9), usai mencetak gol ke gawang Swiss lewat tembakannya yang spektakuler (AFP / Thomas Coex)
  • Pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Inggris kembali membuka luka lama terkait sengketa Pulau Falkland yang memicu perang pada 1982.
  • Argentina menegaskan klaim atas Pulau Malvinas sebagai bagian dari negaranya, sementara Inggris mempertahankan hasil referendum 2013 yang menunjukkan mayoritas warga memilih tetap bersama Britania Raya.
  • Konflik historis ini turut merembet ke dunia sepak bola, menciptakan tensi emosional tinggi di antara suporter kedua negara hingga memicu bentrokan menjelang laga semifinal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - "Untuk Malvinas, untuk Diego, untuk Leo Messi yang terakhir kalinya." Begitulah teriakan, sorakan, selebrasi dari ruang ganti Argentina usai menang atas Swiss dalam perempat final Piala Dunia 2026 di Kansas City Stadium, Minggu dini hari WIB (12/7/2026).

Pernyataan pertama, "untuk Malvinas", merupakan bentuk ekspresi politik yang digemakan para pemain Argentina karena sudah tahu akan berhadapan dengan Inggris di semifinal Piala Dunia 2026. Frasa itu tak sepele untuk Argentina dan memiliki luka mendalam secara historis, melibatkan Inggris pula.

Islas Malvinas (Pulau Malvinas) atau dalam pergaulan internasional dikenal sebagai Pulau Falkland, merupakan wilayah di Samudra Atlantik Selatan, seberang laut Britania Raya, sekitar 480 kilometer dari lepas pantai timur Argentina.

Wilayah ini menjadi sengketa antara Inggris dan Argentina. Akibat Pulau Falkland, perang besar terjadi selama 74 hari sejak 2 April hingga 14 Juni 1982 silam, menewaskan 649 tentara Argentina dan 255 serdadu Inggris.

1. Sejarah kompleks yang mengawalinya

ilustrasi Pulau Falkland (commons.wikimedia/Godot13)

Insiden ini dipicu oleh adanya perselisihan sejarah antara Inggris dan Argentina. Pihak Argentina mengeklaim Pulau Malvinas (nama yang menjadi versi mereka) merupakan warisan dari kolonialisme Spanyol setelah kemerdekaan pada 1816. Selain itu, mereka merasa berhak karena lebih dekat dengan wilayah daratannya.

Sementara, Inggris menguasai Pulau Falkland secara de facto mulai 1833. Kemudian, mereka melakukan referendum pada 2013, dengan 99,8 persen masyarakat lokal memilih menjadi bagian dari Inggris.

Keputusan itu diambil warga lokal karena adanya faktor sejarah dan koneksi psikologis dengan leluhurnya. Sensus pada 2016 lalu, 43 persen penduduk di Pulau Falkland lahir di sana. Banyak dari mereka yang merupakan keturunan Wales dan Skotlandia, karena leluhurnya bermigrasi ke sana setelah Britania Raya mendudukinya pada 1833.

2. Perang argumen yang terjadi hingga sekarang

Perselisihan ini belum bisa diselesaikan hingga sekarang. Adu argumen masih terjadi, bahkan sejumlah pejabat tinggi negara di Argentina berani menentang klaim Inggris.

Presiden Argentina, Javier Milei, sempat menyatakan Pulau Falkland milik negaranya. Bahkan, dia mengklaim jika warga di Pulau Falkland adalah "dulunya, sekarang, dan selalu menjadi orang Argentina".

Kini jelang semifinal melawan Inggris, Menteri Luar Negeri Argentina, Pablo Quirno, bahkan menegaskan referendum yang terjadi pada 2013 lalu merupakan artifisial alias dibuat-buat. Selain itu, Quirno menegaskan, hingga sekarang Inggris melakukan pendudukan tak terlegitimasi.

"Klaim kami tak akan ditarik, mundur, atau dibiarkan. Pulau Falkland adalah sejarah, teritorial, laut, memori, dan takdir. Ada janji antargenerasi. Mereka suara negara yang tahu cara menunggu, tak kenal kata menyerah, tahu meminta tanpa penderitaan. Kita tak boleh terjebak dalam jebakan referendum," tegas Quirno, dalam kolomnya di La Nacion.

Komentar Quirno langsung dibalas oleh Sekretaris Bayangan Menteri Luar Negeri, Priti Patel, yang menyatakan jika warga di Pulau Falkland bangga dengan statusnya sebagai warga negara Britania Raya. Patel menyatakan, klaim Argentina tak akan mengubah sejarah.

"Komentar Argentina tentang warga Pulau Falkland sama ofensifnya dengan kesalahan mereka. Tak ada retorika revisionis dari Buenos Aires yang bisa mengubah fakta sejarah. Britania Raya tetap tegak berdiri di samping warga Pulau Falkland," tulis Patel, dalam akun X miliknya.

3. Sentimen yang lebih dari sekadar politik

Gelandang Inggris, Jude Bellingham, usai cetak gol ke gawang Norwegia (AFP / Patricia de Melo Moreira)

Sentimen yang lebih dari sekadar politik. Sebab, masalah Pulau Falkland merambah ke arena lain, salah satunya adalah sepak bola.

Apa yang terjadi pada Piala Dunia 1986, merupakan bentuk nyata dari konflik Pulau Falkland antara Inggris dan Argentina. Mendiang Diego Armando Maradona menegaskan gol "Tangan Tuhan" merupakan ekspresi dari balas dendam atas perang dengan Inggris pada 1982.

Maradona mendedikasikan gol tersebut sebagai tribute kepada seluruh pasukan Argentina yang gugur di medan perang. Kemenangan atas Inggris di perempat final dengan skor 2-1, ditegaskan Maradona, merupakan kado paling manis dan pembalasan yang sempurna atas perlakuan Inggris dalam Perang Falkland.

Dengan latar belakang yang bertensi tinggi, pihak keamanan Amerika Serikat menyusun skema pengamanan tak biasa. Mereka akan menerjunkan polisi di kawasan Atlanta dengan operasi kompleks, membagi personelnya sama rata, 50-50, karena sadar akan tensi emosional antara kedua pendukung.

Apalagi, dilansir Daily Mail, sempat ada insiden yang melibatkan suporter Inggris dan Argentina pada akhir pekan lalu. Tak cuma satu, tapi ada beberapa insiden yang tersebar di sejumlah titik.

Di stadion, ada duel tiga lawan tiga antara suporter Argentina serta Inggris. Sementara, ada video lain beredar ketika sejumlah suporter Argentina dan Inggris berkelahi di bar.

Curated For You

Editorial Team

Related Article