Memalukannya ManCity, Dihancurkan Tim Papan Bawah Liga Champions

- ManCity kalah 1-3 dari Bodo/Glimt
- Bodo/Glimt menang sensasional dan merasa terangkat mentalnya
- Kemenangan disebabkan oleh disiplin bertahan dan serangan balik yang efektif
Jakarta, IDN Times - Pil pahit ditelan Manchester City. Bertandang ke Aspmyra Stadion, Rabu dini hari WIB (21/1/2026), mereka dipermak oleh Bodo/Glimt dengan skor 1-3.
ManCity sebenarnya begitu dominan di laga ini. Namun, mereka tampil begitu rapuh dalam pertahanan. Selain itu, ManCity juga ompong dan minim kreasi di lini depan.
1. Asyik menyerang, malah kebobolan
Paruh pertama, ManCity mampu menekan Bodo/Glimt dengan intens. Skema low block yang diterapkan Bodo/Glimt, membuat ManCity frustrasi.
Ketika asyik menyerang, ManCity malah kebobolan di menit 22. Kasper Hogh menjebol gawang The Citizens lewat skema serangan balik yang cepat.
Berselang dua menit, Hogh kembali jadi mimpi buruk ManCity. Dia menjebol gawang Gianluigi Donnarumma untuk kali kedua lewat tembakannya yang akurat.
Tertinggal, ManCity meningkatkan intensitas serangan. Tapi, mereka lagi-lagi dihukum oleh Bodo/Glimt di paruh kedua.
Jens Petter Hauge kemudian mencetak gol sensasional di menit 58, yang membuat ManCity makin tenggelam. ManCity sebenarnya punya peluang bangkit usai Rayan Cherki cetak gol untuk mempertipis ketertinggalan. Namun, kartu merah yang diterima Rodri malah membuat ManCity makin susah.
2. Kemenangan sensasional
Kemenangan atas ManCity membuat Bodo/Glimt merasa terangkat mentalnya. Meski saat ini masih ada di luar 20 besar, mereka menilai kemenangan atas ManCity begitu berharga.
"Rasanya luar biasa. Kami menampilkan performa terbaik hari ini dan sadar yang dihadapi tim kelas dunia," kata pelatih Bodo/Glimt, Kjetil Knutsen, dilansir situs resmi UEFA.
3. Disiplin bertahan, lalu menyerang balik
Knutsen menyatakan jika kemenangan tim asuhannya disebabkan oleh disiplin strategi yang baik. Tak ada pemain yang egois dan terus bekerja sama untuk bisa memotong alur serangan ManCity dan mematikan pergerakan para bintangnya.
"Kami memang perlu bertahan dengan rapi, jangan kasih mereka ruang di tengah, dan bekerja dengan 11 pemain bersama. Kami selalu memenangkan bola di posisi terbaik, dan menciptakan serangan balik. Itu yang membuat kami bisa menusuk mereka ketika ada ruang dan menciptakan gol-gol indah," ujar Knutsen.

















