Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengungkap Kebangkitan Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026
Penyerang Spanyol, Mikel Oyarzabal, merayakan gol pertama timnya selama pertandingan sepak bola babak 32 besar Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Austria di Stadion Los Angeles di Inglewood pada 3 Juli 2026. (AFP/Etienne Laurent)

Timnas Spanyol tengah menikmati euforia usai mengalahkan Argentina dengan skor tipis 1-0 pada final Piala Dunia 2026. Kemenangan ini mengakhiri penantian selama 16 tahun sejak skuad La Roja yang dihuni Iker Casillas, Sergio Ramos, Xabi Alonso, dan Andres Iniesta menjuarai Piala Dunia 2010. Di balik keberhasilan tersebut, terdapat proses panjang yang dijalankan secara konsisten selama bertahun-tahun.

1. Ketenangan Luis de la Fuente yang membawa Spanyol kembali berjaya

Sebelum ditunjuk sebagai pengganti Luis Enrique di kursi pelatih Timnas Spanyol, Luis de la Fuente, sempat dipandang sebelah mata oleh publik dan media. Pasalnya, De la Fuente tidak memiliki rekam jejak kepelatihan di level klub elite. Kariernya lebih banyak dihabiskan bersama tim akademi dan kelompok umur, seperti Club Portugalete, Athletic Bilbao U-19, serta Deportivo Alaves, tanpa pernah meraih prestasi yang menonjol.

Titik balik karier De la Fuente datang saat dirinya bergabung dengan Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) pada 2013 sebagai pelatih Timnas Spanyol U-19. Kepercayaan ini langsung dia balas dengan mempersembahkan gelar UEFA European U-19 Championship 2015. Setelah dipromosikan menjadi pelatih Timnas Spanyol U-21 pada 2018, De la Fuente kembali membuktikan kualitasnya dengan mengantarkan tim meraih gelar UEFA European U-21 Championship 2019 serta medali perak Olimpiade Tokyo 2020.

Meskipun sukses membangun reputasi bersama timnas kelompok umur, penunjukan De la Fuente sebagai pelatih Timnas Spanyol senior berdasarkan rekomendasi jajaran internal RFEF tetap menuai skeptisisme. Bahkan, ketika La Roja kalah 0-2 dari Skotlandia pada laga kualifikasi UEFA Euro 2024, De La Fuente menjadi sasaran kritik karena dinilai belum memiliki arah permainan yang jelas dan gagal membangun fondasi tim. Alih-alih larut dalam tekanan, dia menjawab semua keraguan dengan membawa La Roja keluar sebagai juara UEFA Nations League 2022/2023 dan Euro 2024 sebelum akhirnya membawa pulang trofi Piala Dunia 2026.

2. Regenerasi pemain Spanyol dibangun lewat pembinaan yang sistematis

Usut punya usut, keberhasilan Spanyol dalam melahirkan talenta-talenta muda sepak bola tidak terlepas dari sistem pembinaan usia dini yang terstruktur di akademi klub, mulai dari La Masia milik Barcelona hingga La Fabrica milik Real Madrid. Mereka kemudian mendapat panggung untuk unjuk gigi melalui LaLiga FC Futures. Kompetisi U-13 yang digelar di pinggiran Kota Madrid ini pertama kali digagas jurnalis olahraga, Jose Ramon de la Morena, pada 1992 sebagai batu loncatan bagi para pemain muda menuju level profesional.

LaLiga FC Futures telah melahirkan banyak pemain yang kemudian menjelma sebagai tulang punggung generasi emas Timnas Spanyol. Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Iker Casillas, Fernando Torres, dan Gerard Pique merupakan pemain yang pernah tampil di LaLiga FC Futures yang sukses membawa La Roja menjuarai Euro 2008. Bersama-sama, mereka turut menyabet gelar Piala Dunia 2010 dan Euro 2012.

Piala Dunia 2026 menjadi momen bagi para pemain generasi baru untuk mentas. Lamine Yamal, Pau Cubarsi, Gavi, dan Rodri menjadi contoh pemain jebolan FC Futures yang sukses bersinar bersama La Roja berkat penampilan gemilang mereka. Regenerasi yang berlangsung mulus ini membuktikan bahwa Spanyol tidak terburu-buru membangun generasi emas baru, melainkan membina dan mengasah talenta muda supaya siap bersaing di kompetisi internasional.

3. Spanyol mengedepankan filosofi tiki-taka yang modern dan adaptif

Spanyol dikenal dengan filosofi permainan tiki-taka yang mengandalkan umpan pendek serta kesabaran dalam membangun serangan. Filosofi tersebut menjadi fondasi keberhasilan skuad La Roja di bawah asuhan Vicente del Bosque ketika memenangkan Piala Dunia 2010. Luis de la Fuente masih membawa filosofi tiki-taka ke panggung Piala Dunia 2026, hanya saja dengan pendekatan yang lebih modern.

Saat menguasai bola, Spanyol kerap membentuk struktur 2-3-5 dengan Rodri bersama para gelandang lain sebagai pusat sirkulasi bola sebelum mengalirkannya ke lini depan. Struktur ini memberi keleluasaan bagi para penyerang untuk bergerak dan saling bertukar posisi sehingga menyulitkan lawan dalam melakukan penjagaan. Ketika lawan terpancing untuk memberikan tekanan, La Roja dapat dengan cepat mengirimkan umpan ke ruang kosong yang dimanfaatkan Lamine Yamal dan Nico Williams untuk melancarkan serangan ke gawang lawan.

De la Fuente bukanlah pelatih yang terpaku pada satu pendekatan taktik, melainkan pelatih yang mampu menghadirkan taktik berbeda di setiap pertandingan. Saat menghadapi Argentina di final Piala Dunia 2026, misalnya, La Roja berfokus memutus jalur suplai bola kepada Lionel Messi yang mengakibatkan sang megabintang kesulitan membangun serangan. Meski demikian, identitas tiki-taka, seperti umpan-umpan pendek dan pressing tinggi, tetap dipertahankan De la Fuente.

4. Prestasi di Eropa telah menempa mentalitas juara pemain Spanyol

Di bawah kepelatihan Luis de la Fuente, Spanyol menjelma sebagai salah satu kekuatan terbesar di kompetisi sepak bola. Konsistensi La Roja terlihat dari keberhasilan mereka bersaing di berbagai ajang bergengsi, mulai dari level Eropa hingga internasional. Spanyol kini menjadi negara pertama yang memenangkan Euro dan Piala Dunia secara beruntun sebanyak dua kali, melampaui Jerman Barat yang pernah memenangkan Euro 1972 sebelum mengangkat trofi Piala Dunia 1974.

Rentetan prestasi yang gemilang ini tidak terlepas dari cara De la Fuente menanamkan mentalitas kompetitif kepada skuad La Roja agar siap bersaing, berjuang, dan rela berkorban demi meraih kemenangan. Dia juga menekankan pentingnya menjadikan kekalahan sebagai bahan evaluasi, bukan untuk saling menyalahkan. Berkat pendekatan tersebut, Timnas Spanyol terus berkembang dan tampil lebih kuat pada pertandingan berikutnya.

Kesuksesan Spanyol di panggung Piala Dunia 2026 bukanlah hasil yang didapat secara instan. Keberanian RFEF mempercayai Luis de la Fuente dibarengi sistem pembinaan pemain muda yang rapi menjadi rahasia di balik lahirnya generasi emas baru La Roja. Kini, Spanyol siap mempertahankan statusnya sebagai salah satu kekuatan elite sepak bola dunia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article