Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Miguel Almiron, Pelanggar Pertama Aturan FIFA dan Kena Kartu Merah
Ilustrasi kartu merah. (IDN Times/Aditya Pratama).
  • Laga Turki vs Paraguay di Piala Dunia 2026 diwarnai dua pelanggaran aturan baru FIFA, termasuk insiden kiper Orlando Gill yang memegang bola lebih dari lima detik.
  • Miguel Almiron menjadi pemain pertama yang dikartu merah karena menutup mulutnya saat berdebat, tindakan yang kini dilarang FIFA untuk mencegah ujaran rasis dan homofobik.
  • Wasit menggunakan VAR untuk memastikan pelanggaran Almiron sebelum mengusirnya, sementara FIFA juga menegaskan hanya kapten tim boleh melakukan protes kepada wasit.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Duel Turki versus Paraguay menyajikan sejumlah cerita. Selain gol cepat Matias Galarza yang membuat Turki tersingkir dari Piala Dunia 2026, laga yang digelar di San Francisco Bay Area Stadium, Sabtu (20/6/2026), itu telah memunculkan dua pelanggaran atas aturan terbaru FIFA.

Bermula dari aksi kiper Paraguay, Orlando Gill, yang melanggar aturan memegang bola selama lima detik. Dalam momen itu, wasit akhirnya memberikan Turki sepak pojok.

Tapi, yang jadi sorotan adalah ketika Miguel Almiron diusir di masa injury time babak pertama. Semua bermula ketika terjadi friksi di lapangan.

Terjadi perdebatan antara pemain Paraguay dan Turki kala itu. Namun, Almiron tiba-tiba menutupi mulutnya dalam laga.

Insiden ini disadari salah satu pemain Turki, Mert Muldur, yang langsung berteriak ke wasit. Saat itu, wasit akhirnya menggunakan video assistant referee (VAR) untuk memastikan insidennya karena memang tak melihat gestur Almiron.

Setelah ditinjau dari tayangan ulang, wasit menemukan bukti jika eks winger Newcastle United itu melanggar aturan dengan menutup mulutnya dengan tangan.

FIFA memang melarang pemain menutup mulutnya dengan tangan ketika terjadi friksi di atas lapangan sepanjang Piala Dunia 2026. Tujuannya agar tak terjadi aksi rasis, serangan homofobik, dan lainnya. Selain itu, FIFA juga hanya memperbolehkan kapten tim yang protes kepada wasit.

Editorial Team

Related Article