3 Pelatih Asing yang Pernah Meraih Anugerah Coach of The Year

Tidak banyak pelatih asing yang mampu memenangkan penghargaan Gran Gala del Calcio untuk kategori Serie A Coach of the Year atau pelatih terbaik Serie A. Anugerah tersebut diberikan kepada pelatih yang mengantarkan prestasi untuk klubnya sepanjang musim. Sebagian besar penerima penghargaan Coach of the Year dari Gran Gala del Calcio merupakan pelatih asal Italia, seperti Antonio Conte, Massimiliano Allegri, dan Luciano Spalletti.
Sejak pertama kali digelar pada 1996/1997, hanya ada tiga pelatih non-Italia yang mampu memenangkan anugerah Serie A Coach of the Year dari Gran Gala del Calcio.
1. Sven-Goran Eriksson dinobatkan sebagai Serie A Coach of the Year pada 1999/2000
Sven-Goran Eriksson termasuk salah satu pelatih non-Italia yang melegenda di Serie A. Klub Serie A pertama yang dilatihnya adalah AS Roma pada Juli 1984--Mei 1987. Ia sukses mengantarkan I Giallorossi menjuarai Coppa Italia 1985/1986. Eriksson kemudian menangani Fiorentina selama 2 tahun pada Juli 1987--Juni 1989. Ia sempat menukangi Benfica selama 3 tahun pada 1989--1992, sebelum kembali ke Italia untuk melatih Sampdoria pada 1992--1997. Eriksson sukses membawa Il Samp meraih gelar juara Coppa Italia 1993/1994.
Masa-masa terbaiknya di Serie A terjadi ketika menangani Lazio pada Juli 1997--Desember 2000. Eriksson sukses mengukir sejarah dengan membawa Lazio meraih gelar juara Serie A 1999/2000, Piala Winners 1998/1999, Piala Super Eropa 1999/2000, dan Coppa Italia 1997/1998 dan 1999/2000. Ia menjadi pelatih asing pertama yang memenangkan penghargaan pelatih terbaik Serie A atau Coach of the Year dari Gran Gala del Calcio 1999/2000. Tidak heran, Eriksson dianggap sosok legendaris bagi fans Lazio.
2. Jose Mourinho meraih penghargaan Coach of the Year dalam dua edisi beruntun pada 2008/2009 dan 2009/2010
Jose Mourinho pertama kali mendarat di sepak bola Italia kala menangani Inter Milan pada 2008--2010. Pelatih asal Portugal itu menggantikan posisi Roberto Mancini dan dituntut mengantarkan Inter Milan meraih gelar juara Serie A dan Liga Champions Eropa (UCL). Mourinho sukses memenuhi harapan tersebut dengan menjuarai Serie A 2008/2009. Ia dinobatkan sebagai Coach of the Year atau pelatih terbaik Serie A oleh Gran Gala del Calcio berkat pencapaian tersebut.
Mourinho berhasil mencetak sejarah ketika membawa I Nerazzurri meraih treble winner dengan menjuarai Serie A, Coppa Italia, dan Liga Champions 2009/2010. Ia menjadi pelatih Serie A pertama yang mampu memenangkan tiga kompetisi sekaligus dalam satu musim. Mourinho sukses mempertahankan anugerah Coach of the Year dari Gran Gala del Calcio edisi 2009/2010. Usai menorehkan catatan apik itu, Mourinho memilih meninggalkan Inter Milan dan bergabung dengan Real Madrid pada musim panas 2010.
3. Cesc Fabregas mencetak sejarah kala memenangkan penghargaan Serie A Coach of the Year 2025/2026
Cesc Fabregas baru memulai karier kepelatihannya bersama Como 1907 pada November 2023. Ia kala itu berstatus sebagai pelatih interim menggantikan posisi Osian Roberts. Meski minim pengalaman di dunia kepelatihan, pria asal Spanyol itu langsung membuat gebrakan dengan membawa Como promosi ke Serie A usai finis di peringkat kedua Serie B 2023/2024. Fabregas langsung dipercaya sebagai manajer tetap Como pada Juli 2024. Ia sukses mempertahankan posisi Como di Serie A dengan finis di peringkat 10 klasemen akhir 2024/2025.
Fabregas kemudian mengantarkan Como melaju ke Liga Champions 2026/2027 usai menempati posisi ke-4 pada klasemen akhir Serie A 2025/2026. Hebatnya lagi, ia mampu memoles para pemain muda Como menjadi pilar utama tim, seperti Martin Baturina, Jacobo Ramon, Nico Paz, dan Tazos Douvikas. Pencapaian tersebut membuat Fabregas dinobatkan sebagai Serie A Coach of the Year 2025/2026. Ia mengalahkan Cristian Chivu yang membawa Inter Milan menjuarai Serie A pada musim tersebut.
Ketiga pelatih telah mengukir prestasi mentereng bersama klubnya masing-masing. Eriksson sukses menciptakan sejarah bagi Lazio dengan menjuarai Serie A 1999/2000. Mourinho menjadi satu-satunya pelatih asing yang mampu meraih treble winner bersama Inter Milan. Sementara itu, Fabregas mampu memimpin Como finis ke UCL untuk pertama kalinya dalam sejarah klub.



















.jpg)
