12 Pemain Afrika yang Pernah Membela Liverpool

- Bruce Grobbelaar (Zimbabwe) menjadi penjaga gawang utama Liverpool selama 13 tahun, meraih 6 gelar liga dan trofi Liga Champions.
- Rigobert Song (Kamerun) tampil sebanyak 38 pertandingan resmi di semua kompetisi bersama Liverpool, meninggalkan kesan sebagai bek tangguh.
- Djimi Traore (Mali) berperan penting dalam rotasi lini belakang Liverpool, ikut membawa tim meraih gelar Liga Champions 2004/05 di Istanbul.
Pemain asal Afrika makin mendapat tempat di Premier League dalam beberapa dekade terakhir. Mereka bukan lagi jadi sekadar pelengkap, melainkan sering kali menjadi bagian inti skuad tim yang berperan penting dalam strategi tim. Bahkan, tak jarang ada yang punya peran besar dalam kesuksesan meraih gelar juara.
Salah satu tim yang mengandalkan pemain-pemain asal Afrika dalam beberapa tahun terakhir adalah Liverpool. Bahkan, The Reds sebenarnya sudah cukup sering memakai jasa pemain Afrika sejak dulu. Inilah 12 pemain Afrika yang pernah membela Liverpool. Apakah mereka sukses jadi andalan atau justru sebaliknya?
1. Bruce Grobbelaar (Zimbabwe)

Bruce Grobbelaar bergabung dengan Liverpool pada tahun 1981 dari Vancouver Whitecaps dengan nilai transfer sekitar Rp11 miliar. Ia menjadi penjaga gawang utama The Reds selama 13 tahun (1981–1994), dengan catatan 628 penampilan di semua kompetisi. Grobbelaar terkenal dengan refleks cepat, aksi penyelamatan akrobatik, dan gaya uniknya di bawah mistar gawang. Salah satu momen paling ikonik adalah saat final Liga Champions 1984 melawan AS Roma, di mana ia melakukan "spaghetti legs" dalam adu penalti yang sukses membuat lawan gagal mengeksekusi tendangan.
Selama kariernya di Liverpool, Grobbelaar meraih 6 gelar liga (First Division), 3 Piala FA, 3 Piala Liga, serta 1 trofi Liga Champions (1984). Ia dianggap sebagai salah satu kiper legendaris The Reds sepanjang sejarah. Meskipun berasal dari Zimbabwe, negara yang tidak terlalu dikenal dalam sepak bola dunia—Grobbelaar berhasil menorehkan warisan besar di Anfield dan menjadi inspirasi banyak pemain Afrika lainnya untuk berkarier di level tertinggi sepak bola Eropa.
2. Rigobert Song (Kamerun)

Rigobert Song didatangkan Liverpool pada Januari 1999 dari klub Salernitana di Serie A Italia dengan nilai transfer sekitar Rp72 miliar. Bek tengah asal Kamerun ini bertahan di Anfield hingga 2000 sebelum kemudian pindah ke West Ham United. Selama berseragam The Reds, Song tampil sebanyak 38 pertandingan resmi di semua kompetisi. Ia dikenal sebagai bek yang tangguh, agresif, dan memiliki pengalaman internasional luar biasa bersama timnas Kamerun.
Walau masa baktinya tidak lama, Song tetap meninggalkan kesan sebagai salah satu bek Afrika pertama yang memperkuat Liverpool di era Premier League. Prestasi besar mungkin tidak ia dapatkan bersama The Reds, tetapi pengalamannya di Anfield menjadi bagian penting dalam karier panjangnya yang meliputi lebih dari 100 caps bersama Kamerun dan tampil di empat edisi Piala Dunia. Kehadirannya juga membuka jalan bagi lebih banyak pemain asal Afrika yang kemudian berkesempatan memperkuat Liverpool.
3. Djimi Traore (Mali)

Djimi Traoré bergabung dengan Liverpool pada tahun 1999 dari klub Prancis, Stade Lavallois, dengan nilai transfer sekitar Rp40 miliar. Ia bermain untuk The Reds hingga 2006 dengan total 141 penampilan di semua kompetisi. Traoré adalah seorang bek kiri yang dikenal dengan fisiknya yang kuat, meskipun sering mendapat kritik karena inkonsistensinya. Namun, ia tetap menjadi bagian penting dalam rotasi lini belakang Liverpool di era awal 2000-an.
Puncak kariernya bersama Liverpool tentu saja adalah ketika ia ikut membawa tim meraih gelar Liga Champions 2004/05 di Istanbul. Meski tak selalu menjadi starter utama, Traoré tampil penuh di final legendaris melawan AC Milan yang berakhir dengan kemenangan dramatis lewat adu penalti. Selain itu, ia juga memenangkan Piala FA 2001, Piala Liga 2001, dan UEFA Cup 2001, sehingga bisa dibilang ia meninggalkan jejak yang cukup berharga dalam sejarah Liverpool.
4. El Hadji Diouf (Senegal)

El Hadji Diouf bergabung dengan Liverpool pada musim panas 2002 setelah tampil gemilang di Piala Dunia 2002 bersama Senegal. Ia direkrut dari RC Lens dengan nilai transfer sekitar Rp200 miliar. Diouf diharapkan menjadi bintang baru The Reds berkat kecepatannya, dribel, dan ketajaman di lini depan. Selama membela Liverpool hingga tahun 2004, ia mencatat 80 penampilan di semua kompetisi dan mencetak 6 gol. Sayangnya, kontribusi golnya tergolong minim dibanding ekspektasi besar yang dibebankan padanya.
Meski gagal bersinar di Anfield, Diouf tetap mencatat beberapa pencapaian, termasuk ikut membawa Liverpool memenangkan Piala Liga 2003. Namun, ia lebih sering dikenang karena kontroversinya di dalam maupun luar lapangan, termasuk hubungannya yang kurang harmonis dengan suporter dan rekan setim. Walau begitu, keberadaannya tetap menambah panjang daftar pemain asal Afrika yang pernah memperkuat Liverpool, sekaligus menjadi bukti bahwa tidak semua rekrutan berlabel bintang bisa memenuhi ekspektasi di Anfield.
5. Mohamed Sissoko (Mali)

Mohamed Sissoko didatangkan Liverpool pada musim panas 2005 dari Valencia dengan nilai transfer sekitar Rp170 miliar. Gelandang bertahan asal Mali ini langsung mendapat tempat di skuat utama Rafael Benítez berkat gaya bermainnya yang agresif, penuh tenaga, dan tanpa kompromi di lini tengah. Selama membela The Reds hingga tahun 2008, Sissoko mencatat 87 penampilan resmi di semua kompetisi. Meski tidak dikenal sebagai pencetak gol, perannya sangat vital dalam merebut bola dan menjaga keseimbangan permainan.
Prestasi terbaik Sissoko bersama Liverpool adalah ketika ia turut menjadi bagian dari tim yang meraih Piala FA 2006 setelah final dramatis melawan West Ham United. Ia juga ikut tampil di kompetisi Liga Champions, termasuk berkontribusi dalam perjalanan Liverpool hingga final 2007 melawan AC Milan. Meskipun akhirnya tersisih oleh kehadiran Javier Mascherano dan Xabi Alonso, Sissoko tetap dikenang sebagai gelandang pekerja keras yang memberikan warna berbeda di lini tengah Liverpool.
6. Kolo Touré (Pantai Gading)

Kolo Touré bergabung dengan Liverpool pada musim panas 2013 setelah kontraknya berakhir di Manchester City, sehingga ia datang dengan status bebas transfer. Bek asal Pantai Gading ini bertahan di Anfield hingga 2016, mencatat 71 penampilan resmi di semua kompetisi. Meski datang di usia yang tidak muda lagi, Kolo dikenal sebagai sosok bek berpengalaman yang memberi ketenangan dan kepemimpinan di lini belakang The Reds. Ia menjadi mentor bagi pemain-pemain muda Liverpool kala itu.
Selama memperkuat Liverpool, Kolo Touré memang tidak berhasil meraih trofi, namun ia ikut menjadi bagian dari perjalanan The Reds ke final Piala Liga 2016 serta final Liga Europa 2016 di bawah asuhan Jürgen Klopp. Walau keduanya berakhir dengan kekalahan, kontribusi dan pengalaman Touré sangat dihargai, terutama sebagai salah satu bek Afrika yang sukses berkarier lama di Premier League. Setelah meninggalkan Anfield, ia melanjutkan kariernya di Celtic sebelum pensiun dan beralih ke dunia kepelatihan.
7. Joel Matip (Kamerun)

Joël Matip bergabung dengan Liverpool pada musim panas 2016 setelah kontraknya habis di Schalke 04, sehingga ia direkrut dengan status bebas transfer. Bek tengah asal Kamerun ini langsung menjadi pilihan utama di lini belakang berkat postur tingginya (195 cm), kemampuan membaca permainan, serta ketenangan dalam mengawal pertahanan. Sejak berseragam The Reds, Matip mencatat lebih dari 200 penampilan resmi dan turut menyumbang beberapa gol penting, terutama lewat situasi bola mati.
Puncak kariernya di Anfield datang pada musim 2018/19, ketika Matip berperan krusial dalam membantu Liverpool menjuarai Liga Champions 2019 usai mengalahkan Tottenham Hotspur di final. Ia juga ikut mengantarkan The Reds meraih Premier League 2019/20, yang menjadi gelar liga pertama setelah penantian 30 tahun. Meski beberapa kali diganggu cedera, Matip tetap dikenang sebagai salah satu bek paling konsisten yang dimiliki Liverpool di era Jürgen Klopp. Kehadirannya menjadi bukti nyata kontribusi besar pemain Afrika di panggung tertinggi sepak bola Eropa.
8. Naby Keïta (Guinea)

Naby Keïta resmi bergabung dengan Liverpool pada musim panas 2018 setelah sebelumnya disepakati transfer dari RB Leipzig dengan nilai sekitar Rp1,2 triliun atau sekitar 52,75 juta euro. Gelandang asal Guinea ini datang dengan ekspektasi tinggi karena tampil impresif di Bundesliga berkat mobilitas, dribel, serta kemampuannya membantu serangan dan bertahan. Selama membela The Reds hingga 2023, Keïta mencatat lebih dari 129 penampilan resmi dan mencetak 11 gol di semua kompetisi.
Meski sering diganggu masalah cedera yang membuat kontribusinya tidak maksimal, Keïta tetap menjadi bagian penting dari skuat Jürgen Klopp dalam periode kejayaan Liverpool. Ia turut berperan saat klub menjuarai Liga Champions 2019, Piala Super UEFA 2019, Piala Dunia Antarklub 2019, dan tentu saja Premier League 2019/20 yang mengakhiri penantian 30 tahun. Walau akhirnya meninggalkan Liverpool pada 2023 untuk kembali ke Bundesliga bersama Werder Bremen, Keïta tetap dikenang sebagai salah satu gelandang Afrika berbakat yang pernah memperkuat Anfield.
9. Sadio Mane (Senegal)

Sadio Mané didatangkan Liverpool dari Southampton pada musim panas 2016 dengan nilai transfer sekitar Rp640 miliar atau setara 34 juta euro. Pemain asal Senegal ini langsung memberikan dampak besar berkat kecepatan, dribel tajam, dan ketajamannya di depan gawang. Selama berseragam The Reds hingga 2022, Mané mencatat 269 penampilan resmi dan mencetak 120 gol, menjadikannya salah satu pencetak gol terbanyak Liverpool di era modern. Ia juga membentuk trio lini depan legendaris bersama Mohamed Salah dan Roberto Firmino yang sangat ditakuti di Eropa.
Prestasi Mané bersama Liverpool sangat gemilang. Ia menjadi bagian penting dari tim yang menjuarai Liga Champions 2019, Premier League 2019/20, Piala Super UEFA 2019, Piala Dunia Antarklub 2019, serta meraih Piala FA dan Piala Liga 2022. Selain itu, Mané juga pernah menjadi top skor Premier League 2018/19 bersama Mohamed Salah dan Pierre-Emerick Aubameyang. Kepergiannya ke Bayern München pada 2022 meninggalkan jejak mendalam, dan ia akan selalu dikenang sebagai salah satu legenda Liverpool sekaligus salah satu pemain Afrika terbaik dalam sejarah klub.
10. Mohamed Salah (Mesir)

Mohamed Salah bergabung dengan Liverpool pada musim panas 2017 dari AS Roma dengan nilai transfer sekitar Rp717 miliar atau setara 36,5 juta euro. Sejak kedatangannya, winger asal Mesir ini langsung menggebrak dengan torehan gol luar biasa. Pada musim debutnya (2017/18), Salah mencetak 44 gol dari 52 penampilan, termasuk memecahkan rekor gol terbanyak dalam satu musim Premier League (32 gol dalam 38 laga). Hingga 2025, ia telah mencatat lebih dari 200 gol dalam 349 penampilan, menjadikannya salah satu pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah klub.
Prestasi Salah bersama Liverpool sangat luar biasa. Ia membawa The Reds menjuarai Liga Champions 2019, Premier League 2019/20, Piala Super UEFA 2019, Piala Dunia Antarklub 2019, serta Piala FA dan Piala Liga 2022. Secara individu, Salah telah meraih banyak penghargaan, termasuk Golden Boot Premier League (2017/18, 2018/19, 2021/22), Pemain Terbaik PFA 2018, serta dinobatkan sebagai Pemain Afrika Terbaik CAF sebanyak dua kali (2017 & 2018). Dengan kontribusinya yang konsisten, Salah bukan hanya menjadi legenda Liverpool, tapi juga simbol kejayaan pemain Afrika di sepak bola dunia.
11. Salif Diao (Senegal)

Salif Diao didatangkan Liverpool dari Sedan (Prancis) pada musim panas 2002 setelah tampil impresif bersama Timnas Senegal di Piala Dunia 2002. Nilai transfernya saat itu sekitar Rp71 miliar atau setara 4,7 juta euro. Gelandang bertahan ini awalnya diproyeksikan menjadi sosok kuat di lini tengah The Reds, namun performanya tidak konsisten. Selama membela Liverpool hingga 2007, Diao hanya mencatat 61 penampilan resmi dan mencetak 3 gol, sebagian besar dimainkan di ajang piala domestik.
Meski jarang menjadi starter reguler, Diao tetap tercatat sebagai bagian dari skuat Liverpool yang menjuarai Liga Champions 2004/05, walaupun ia tidak masuk dalam daftar final Istanbul yang legendaris. Ia juga ikut membawa klub meraih Piala Super UEFA 2005. Setelah itu, kariernya lebih banyak diwarnai masa peminjaman ke Birmingham City, Portsmouth, dan Stoke City. Walaupun tidak bisa memenuhi ekspektasi besar di Anfield, Salif Diao tetap tercatat dalam sejarah sebagai salah satu pemain Afrika yang berkontribusi bagi Liverpool pada masa transisi awal 2000-an.
12. Victor Moses

Victor Moses bergabung dengan Liverpool pada musim panas 2013 dengan status pinjaman dari Chelsea. Winger asal Nigeria ini didatangkan oleh Brendan Rodgers untuk menambah variasi serangan Liverpool. Sayangnya, kontribusinya cukup terbatas. Selama semusim di Anfield, Moses hanya mencatat 22 penampilan resmi dan mencetak 2 gol, salah satunya di laga debut melawan Swansea City. Nilai transfer pinjamannya kala itu ditaksir sekitar Rp27 miliar atau setara 1,5 juta euro.
Meskipun tidak memberikan dampak besar, Moses tetap menjadi bagian dari skuat Liverpool yang bersaing ketat dalam perebutan gelar Premier League 2013/14, di mana The Reds akhirnya finis di posisi kedua. Setelah masa pinjamannya berakhir, ia kembali ke Chelsea dan kemudian melanjutkan karier dengan status pinjaman ke beberapa klub lain sebelum akhirnya menemukan performa terbaiknya bersama Antonio Conte di Chelsea pada musim 2016/17. Walau singkat, masa baktinya di Liverpool menambah daftar pemain Afrika yang pernah memperkuat The Reds.
Secara keseluruhan, perjalanan 12 pemain Afrika bersama Liverpool memperlihatkan bahwa kontribusi mereka tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka bukan hanya sekadar pengisi skuad, tetapi juga bagian dari sejarah penting klub yang kaya akan tradisi. Dari Grobbelaar hingga Salah, kehadiran mereka membuktikan bahwa Anfield selalu terbuka bagi talenta hebat dari mana pun, termasuk Afrika.