Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pesan Komite Wasit PSSI buat Klub dan Pemain: Jangan Mengganggu

3 min read
Pesan Komite Wasit PSSI buat Klub dan Pemain: Jangan Mengganggu
Ketua Komite Wasit PSSI, Yoshimi Ogawa di GBK Arena, Selasa (10/3/2026). (IDN Times/Tino).
  • Ketua Komite Wasit PSSI Yoshimi Ogawa meminta pemain dan ofisial tidak mendekati atau menekan wasit saat pemeriksaan VAR karena dapat mengganggu komunikasi dan keputusan.

  • Ogawa mengingatkan selebrasi gol harus menghormati lawan, terutama tidak dilakukan dekat bangku cadangan lawan agar tidak memicu emosi dan perselisihan.

  • Protes berlebihan berisiko mendatangkan kartu tanpa mengubah keputusan; PSSI mendorong klub, pemain, ofisial, dan wasit bersinergi menjaga ketertiban pertandingan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Ketua Komite Wasit PSSI, Yoshimi Ogawa mengingatkan pemain dan ofisial tim agar tidak memberikan tekanan berlebihan kepada wasit selama pertandingan.

Ia menyoroti tiga hal yang perlu menjadi perhatian bersama, yakni perilaku pemain saat proses pemeriksaan Video Assistant Referee (VAR), perayaan gol yang berpotensi memancing emosi lawan, serta protes berlebihan terhadap keputusan wasit.

Ogawa secara khusus menyoroti kebiasaan pemain dan ofisial tim yang mendekati wasit ketika proses pemeriksaan VAR berlangsung. Menurutnya, perilaku tersebut dapat mengganggu komunikasi antara wasit di lapangan dan petugas VAR, padahal komunikasi yang baik dibutuhkan agar keputusan dapat diambil secara tepat tanpa menghabiskan terlalu banyak waktu pertandingan.

Ia menegaskan, wasit memiliki kewenangan untuk memberikan sanksi kepada pemain maupun ofisial yang mengganggu pelaksanaan tugasnya. Sanksi tersebut dapat berupa kartu kuning hingga kartu merah sesuai dengan situasi yang terjadi.

"Sebenarnya, terkadang wasit perlu menggunakan kewenangannya. Artinya, memberikan kartu kuning atau kartu merah. Tapi, kami juga perlu meminta ofisial tim atau pemain untuk menjauh dari wasit, misalnya saat VAR sedang memeriksa, karena wasit perlu berkomunikasi dengan VAR," ujar Ogawa di GBK Arena, Jakarta, Jumat (23/10/2026).

  1. 1. Selebrasi gol harus menghormati lawan

    antarafoto-persebaya-surabaya-kalahkan-isenmulang-kalteng-fc-1791614336.jpg
    Pesepak bola Persebaya Surabaya Alex Martins Ferreira (ketiga kiri) melakukan selebrasi bersama rekannya usai mencetak gol ke gawang Isenmulang FC pada pertandingan BRI Super League di Stadion Sumpah Pemuda, Bandar Lampung, Lampung, Jumat (9/10/2026). ANTARA FOTO/Ardiansyah/nym.

    Selain perilaku pemain saat pemeriksaan VAR, Ogawa menyoroti perayaan gol yang dilakukan terlalu dekat dengan bangku cadangan lawan. Menurutnya, pemain berhak merayakan gol, tetapi cara dan lokasi selebrasi tetap harus mempertimbangkan sikap saling menghormati.

    Selebrasi yang dilakukan di tempat atau dengan cara yang kurang tepat berpotensi memancing reaksi emosional dari pemain maupun ofisial tim lawan. Karena itu, Ogawa meminta setiap tim menjaga sikap agar perayaan gol tidak berkembang menjadi perselisihan di lapangan.

    "Tapi, perayaan harus dilakukan oleh tim, bukan hanya untuk tim sendiri. Tempat selebrasinya juga harus diperhatikan. Oleh karena itu, kita perlu meminta tim lawan juga untuk bersikap baik, seharusnya begitu," ujarnya.

  2. 2. Emosi berlebihan bisa merugikan tim sendiri

    antarafoto-borneo-fc-kalahkan-bali-united-1789957209.jpg
    Pesepak bola Borneo FC Juan Felipe Villa (kiri) bersama Marcos Emanuel Astina (kanan) melakukan selebrasi seusai mencetak gol ke gawang Bali United pada pertandingan Super League 2026/2027 di Stadion Segiri, Samarinda, Minggu (20/9/2026). ANTARA FOTO/Angga Palguna/kye

    Ogawa memahami bahwa emosi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sepak bola. Intensitas pertandingan dapat memicu reaksi pemain maupun ofisial, terutama ketika mereka tidak puas dengan keputusan wasit.

    Namun, ia mengingatkan bahwa emosi yang tidak terkendali justru dapat merugikan tim sendiri. Protes yang dilakukan secara berlebihan berpotensi berujung pada sanksi disipliner, termasuk kartu kuning.

    Ogawa juga menyinggung situasi ketika keluhan kepada wasit keempat tidak menghasilkan perubahan terhadap keputusan yang dipermasalahkan. Dalam kondisi tersebut, pemain atau ofisial justru berisiko menerima hukuman tanpa memperoleh hasil yang diharapkan.

    "Meskipun mengeluh, tidak ada yang terjadi. Akhirnya, mungkin hanya kartu kuning. Ini tidak baik bagi ofisial tim atau pemain," katanya.

  3. 3. PSSI minta klub dan wasit bersinergi

    Wakil Ketua Komite Wasit PSSI, Yoshimi Ogawa dalam Refereeing Workshop for Media di GBK Arena, Rabu (30/4/2025). (IDN Times/Tino).
    Wakil Ketua Komite Wasit PSSI, Yoshimi Ogawa dalam Refereeing Workshop for Media di GBK Arena, Rabu (30/4/2025). (IDN Times/Tino).

    Ogawa menegaskan bahwa persoalan gangguan terhadap proses pemeriksaan VAR, selebrasi gol, dan protes berlebihan tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada wasit. Menurutnya, klub, pemain, dan ofisial tim perlu bekerja sama untuk menciptakan pertandingan yang tertib.

    Ia menilai, meminta wasit terus-menerus menggunakan kewenangannya bukanlah solusi ideal. Klub juga harus mengambil peran dalam mengedukasi pemain dan ofisial agar menghormati perangkat pertandingan serta memahami batasan perilaku selama laga berlangsung.

    "Kalau kita bisa bekerja sama dengan klub, maka kita harus bersinergi. Jika selalu meminta wasit untuk bertindak dan menggunakan kewenangannya, ini tidak baik," ujar petinggi Komite Wasit PSSI itu.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More