Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Piala Dunia 2026 di Tengah Tren K-Shaped Economy
SoFi Stadium atau Stadion Los Angeles yang dijadikan venue Piala Dunia 2026. (pexels.com/Ramaz Bluashvili)
  • Piala Dunia 2026 menyoroti fenomena ekonomi global K-shaped, di mana kelompok kaya makin sejahtera sementara kelas menengah dan bawah kesulitan akibat inflasi dan daya beli yang menurun.
  • Kebijakan harga tiket dinamis serta biaya tinggi transportasi dan akomodasi menunjukkan orientasi FIFA pada penonton berdaya beli tinggi, memperlebar jarak akses bagi penggemar biasa.
  • Sebagian besar stadion Piala Dunia 2026 dimiliki korporasi swasta, mencerminkan orientasi pasar bebas yang minim dampak sosial langsung bagi masyarakat lokal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Piala Dunia kali ini terasa berbeda. Bisa jadi karena bias kondisi ekonomi negara kita yang buruk, tetapi bisa pula menjelaskan sebuah fenomena global. Salah satu yang jadi sorotan media adalah okupansi stadion yang menyisakan banyak kursi kosong, terutama pada beberapa pertandingan pembuka dan fase grup. FIFA mengeklaim hal itu bisa terjadi karena penonton banyak yang masih berada di aula utama dan tidak duduk di kursi.

The Athletic mencoba menjelaskan dari sisi lain, yakni fakta bahwa pada umumnya jumlah tiket terjual tidak selalu berbanding lurus dengan kehadiran. Ini biasanya terjadi karena sebagian tiket memang sudah dipesan untuk pihak sponsor, staf media, serta undangan resmi. Namun, melihat kebijakan harga tiket dinamis yang baru diberlakukan pada Piala Dunia 2026, bisa jadi ini adalah cerminan fenomena k-shaped economy.

1. K-shaped economy sering dipakai untuk menjelaskan kondisi ekonomi saat ini

K-shaped economy adalah fenomena yang sering dipakai untuk menjelaskan kondisi ekonomi saat ini, yakni ketika kelompok yang masuk kategori kelas atas mengalami peningkatan kekayaan. Sebaliknya, kelompok menengah dan bawah harus berjuang keras untuk bertahan hidup karena harga kebutuhan yang makin tak masuk akal. Ketika digambarkan dalam grafik, kondisi ini akan menciptakan sumbu yang menyerupai huruf k.

Dilansir AP News, tanda-tandanya biasanya adalah pertumbuhan ekonomi yang tampak solid, tetapi menyisakan beberapa masalah nyata. Misalnya pengangguran, yang terjadi karena banyak perusahaan dan bisnis yang melakukan moratorium perekrutan pekerja serta inflasi yang konsisten. Pada akhirnya, ini akan memicu turunnya daya beli, terutama dari masyarakat kelas menengah dan bawah. Familier?

2. Indikasi k-shaped economy dalam penyelenggaraan Piala Dunia 2026

Lantas, apa hubungannya dengan turnamen olahraga macam Piala Dunia 2026? Faisal Islam dari BBC menyoroti kecenderungan FIFA memikirkan penggemar dari kelompok tertentu, tepatnya yang punya privilese dan fleksibilitas untuk mengakses tiket yang harganya dinamis tergantung permintaan itu. Ia juga menambahkan bahwa, pada edisi Piala Dunia kali ini, FIFA benar-benar memeras kantong penggemar. Tak sebatas harga tiket, tetapi juga berbagai pengeluaran tambahan lainnya, seperti transportasi dan akomodasi.

Tidak seperti beberapa edisi Piala Dunia sebelumnya, yakni di Jerman (2006), Rusia (2018), dan Qatar (2022), tidak ada transportasi gratis yang disediakan penyelenggara dan tuan rumah untuk penonton. Buat yang memilih memakai kendaraan pribadi, siap-siap pula membayar biaya parkir seharga 75—200-an dollar AS (Rp1,3—3,5 juta). Harga hotel dan penginapan pun ikut naik sesuai dengan hukum permintaan dan ketersediaan.

3. Piala Dunia yang berorientasi pasar, bukan komunitas

Tak pelak, rasa-rasanya Piala Dunia 2026 sangat berorientasi pasar, bukan komunitas. Apalagi kalau kamu menilik fakta soal manajemen venue pertandingan. Mari kita bandingkan dengan Piala Dunia 2006 Jerman. Saat itu sebagian besar stadion yang dipakai tercatat sebagai milik publik (pemerintah daerah). Begitu pula dengan edisi 2014 di Brasil, 2018 di Rusia, dan 2022 di Qatar. Dengan begitu, harapannya uang sewa yang dibayar FIFA bisa kembali ke pemerintah lokal dan didistribusikan untuk kepentingan warga.

Di Amerika Serikat, logika ini tidak lazim. Sebagai negara kapitalis, sangat wajar ketika kita disuguhi fakta bahwa sebagian besar stadion venue Piala Dunia 2026 di negara mereka adalah milik korporasi besar. Mereka antara lain klub-klub swasta NFL seperti Los Angeles Rams, Dallas Cowboys, San Francisco 49ers, Kansas City Chiefs, dan Miami Dolphins. Kraft Group juga tercatat sebagai pemilik salah satu stadion venue Piala Dunia di AS. Pola tersebut juga terjadi di Meksiko dengan tiga stadion dimiliki korporasi, mulai dari raksasa multimedia Televisa, perusahaan minuman FEMSA, sampai MLM Omnilife. Hanya Kanada yang memakai stadion yang dikelola dengan dana publik.

Fakta ini mungkin terlihat ideal karena tidak mengusik dana publik, tetapi punya kelemahan tersendiri pula. Selain tidak memberikan dampak langsung kepada masyarakat luas, pemerintah lokal harus dibebani biaya operasional tambahan seperti renovasi dan perawatan fasum serta biaya pengamanan tambahan. Terlepas dari hitungan untung-rugi, Piala Dunia 2026 adalah bukti kalau ia dijalankan dengan sistem yang orientasinya pasar bebas. Akses hanya terbuka lebar untuk siapa saja yang punya kapital (modal), kemudian menyisihkan serta melupakan sisanya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article