Pochettino Waspadai Timnas Australia, Sebut Lawan Tersulit di Grup D

- Mauricio Pochettino memuji mentalitas dan keyakinan kuat Timnas Australia jelang laga penting Grup D Piala Dunia 2026 melawan Amerika Serikat di Seattle Stadium.
- Pochettino menilai Australia sulit diprediksi karena fleksibilitas taktik, disiplin bertahan, serta kemampuan beradaptasi tinggi yang membuat persiapan lawan menjadi lebih rumit.
- Trio bek Harry Souttar, Alessandro Circati, dan Cameron Burgess jadi tembok kokoh Australia, sementara AS mengandalkan Christian Pulisic dan Folarin Balogun untuk menembus pertahanan tersebut.
Jakarta, IDN Times - Pelatih Timnas Amerika Serikat, Mauricio Pochettino melontarkan pujian kepada Timnas Australia jelang laga krusial Grup D Piala Dunia 2026. Bahkan, mantan pelatih Paris Saint-Germain (PSG) itu menyebut Socceroos sebagai salah satu lawan tersulit yang pernah dihadapi timnya dalam beberapa bulan terakhir.
Amerika Serikat dan Australia akan bentrok pada matchday kedua Grup D Piala Dunia 2026 di Seattle Stadium, Sabtu (20/6/2026) dini hari WIB. Pertandingan ini berpotensi menentukan peta persaingan menuju babak 32 besar setelah kedua tim sama-sama membuka turnamen dengan kemenangan meyakinkan.
Amerika Serikat datang dengan modal kemenangan 4-1 atas Paraguay, sedangkan Australia sukses menaklukkan Turki 2-0. Hasil tersebut membuat duel nanti menjadi laga yang sangat penting dalam perebutan posisi puncak klasemen Grup D.
1. Kekuatan mentalitas Australia jadi momok AS
Jelang pertandingan tersebut, Pochettino justru lebih banyak berbicara tentang kekuatan mental Australia dibandingkan kualitas teknik atau strategi permainan yang dimiliki tim asuhan Tony Popovic.
"Apa yang bisa saya katakan tentang Australia sudah jelas, yaitu cara mereka bermain," kata Pochettino dikutip ESPN.
"Tetapi bagi saya, yang paling diwaspadai adalah mentalitas, pola pikir, dan keyakinan mereka. Mereka benar-benar percaya pada apa yang mereka lakukan," lanjutnya.
Pochettino mengaku pengalaman menghadapi Australia dalam laga persahabatan tahun lalu masih membekas dalam ingatannya. Meski kala itu Amerika Serikat menang 2-1, ia menilai Socceroos memberikan perlawanan yang jauh lebih berat dibanding banyak lawan lainnya.
"Saat kami menghadapi mereka di Denver, itu salah satu pertandingan tersulit yang kami jalani dalam periode ini," ujarnya.
2. Australia sulit diprediksi
Pengakuan tersebut bukan tanpa alasan. Australia menunjukkan performa impresif saat mengalahkan Turki pada laga pembuka Grup D. Meski tak mendominasi penguasaan bola, mereka tampil disiplin dalam bertahan, agresif saat merebut bola, dan efektif ketika melancarkan serangan balik.
Menurut Pochettino, Australia memiliki kemampuan beradaptasi yang membuat mereka sulit diprediksi. Mereka mampu bermain dengan blok rendah maupun blok menengah, melakukan tekanan tinggi dalam situasi tertentu, serta membangun serangan dengan beberapa variasi berbeda dari lini belakang.
"Mereka membangun permainan dengan cara yang berbeda-beda. Saya melihat fleksibilitas yang membuat persiapan menghadapi Australia menjadi sangat sulit karena mereka memiliki banyak variasi permainan," kata pelatih asal Argentina tersebut.
Selain organisasi permainan yang solid, Pochettino juga menyoroti peran Tony Popovic dalam membentuk karakter tim. Ia menilai pelatih Australia itu berhasil menanamkan kepercayaan diri dan identitas yang kuat kepada para pemainnya.
"Saya sangat menghargainya. Mentalitas pelatih dan seluruh tim berhasil menciptakan karakter yang kuat. Selalu sulit menghadapi tim yang benar-benar percaya pada apa yang mereka lakukan," bebernya.
3. Trio bek Socceroos, Harry Souttar, Alessandro Circati, dan Cameron Burgess sangat kokoh
Australia diperkirakan kembali mengandalkan kekuatan lini belakang yang dikomandoi Harry Souttar, Alessandro Circati, dan Cameron Burgess. Trio bek jangkung tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat Socceroos tampil kokoh saat meredam serangan Turki pada laga pertama.
Di sisi lain, Amerika Serikat akan bertumpu pada kreativitas Christian Pulisic dan ketajaman Folarin Balogun untuk membongkar pertahanan Australia. Duel dua tim yang sama-sama meraih kemenangan pada laga pembuka ini diprediksi menjadi salah satu pertandingan paling menarik di Grup D Piala Dunia 2026.
Bagi Pochettino, ancaman terbesar Australia bukan hanya berasal dari taktik atau kualitas pemain. Yang paling berbahaya adalah keyakinan kolektif yang membuat Socceroos selalu mampu tampil kompetitif di panggung terbesar, yakni Piala Dunia 2026.


















