Jakarta, IDN Times - Di jalanan Amsterdam, Rotterdam, hingga Utrecht, kisah Maroko dan Belanda telah tumbuh selama puluhan tahun.
Ada keluarga yang masih menyimpan kenangan tentang tanah leluhur di Afrika Utara. Ada generasi muda yang lahir di Belanda, berbicara bahasa Belanda, tetapi tetap membawa nama, budaya, dan kebanggaan Maroko dalam kehidupannya.
Kini, semua cerita itu akan menemukan panggung terbesar ketika duel Belanda vs Maroko di Piala Dunia 2026 tersaji pada babak 32 besar di Estadio Monterrey, Guadalupe, Meksiko, Selasa (30/6/2026).
Bagi jutaan diaspora Maroko di Belanda, pertandingan ini bukan hanya tentang kemenangan dan kekalahan. Ini merupakan pertemuan antara tempat mereka tumbuh dan akar keluarga yang selalu mereka bawa.
Kisah panjang itu bermula pada era 1960-an, ketika ribuan pekerja Maroko datang ke Belanda sebagai gastarbeiders.
Mereka datang untuk bekerja, tetapi tanpa disadari membawa sesuatu yang jauh lebih besar: budaya, tradisi, dan identitas yang perlahan menjadi bagian dari wajah masyarakat Belanda.
Generasi setelahnya hidup dalam dua dunia. Mereka tumbuh di kota-kota Belanda, menempuh pendidikan di sana, dan mengenal budaya Eropa modern. Namun, di rumah mereka tetap dekat dengan bahasa, tradisi keluarga, dan cerita tentang Maroko.
Sepak bola menjadi tempat dua dunia itu bertemu.
Dari lapangan-lapangan kecil dan akademi sepak bola Belanda, lahir pemain keturunan Maroko yang kemudian menghadapi pilihan besar: mengenakan seragam Tim nasional sepak bola Belanda atau membela Tim nasional sepak bola Maroko.
Nama seperti Hakim Ziyech, Noussair Mazraoui, dan Sofyan Amrabat menjadi gambaran generasi yang berdiri di antara dua bendera, dua budaya, dan dua cerita keluarga.
Karena itu, pertemuan Belanda vs Maroko dinilai memiliki makna lebih dalam.
Di tribune, ada dua warna yang bercampur. Di rumah-rumah, ada keluarga yang mendukung dua sisi berbeda. Dan di lapangan, para pemain membawa bukan hanya nama negara, tetapi juga perjalanan hidup mereka.
Pada akhirnya, Belanda vs Maroko Piala Dunia 2026 bukan sekadar duel di lapangan hijau. Ini jadi kisah tentang migrasi, identitas, keluarga, dan mimpi yang tumbuh dari dua negeri berbeda.
