- Manchester City membuat sejumlah kontrak palsu (sham contracts) yang tidak mencerminkan kesepakatan sebenarnya antara para pihak—dengan sejumlah mitra komersialnya serta menggunakan perjanjian palsu dengan pihak lainnya untuk secara artifisial meningkatkan pendapatan klub dan mengurangi biaya yang harus dikeluarkan.
- Klub menyampaikan laporan keuangan yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya dan menyembunyikan kondisi keuangan yang sebenarnya dari auditor serta regulator sepak bola.
- ManCity secara signifikan melanggar batas pengeluaran yang ditetapkan oleh Premier League maupun UEFA.
- Selama investigasi Premier League, Manchester City melakukan beberapa pelanggaran terhadap kewajiban untuk bekerja sama dan bertindak dengan itikad baik sepenuhnya terhadap League (dari empat dugaan pelanggaran, tiga dinyatakan terbukti).
Premier League Ungkap 4 Kesalahan Fatal Manchester City

Premier League menyatakan Manchester City melakukan 114 pelanggaran, termasuk pemalsuan kontrak dan laporan keuangan.
Panel independen menemukan adanya tambahan dana dari entitas yang dimiliki pemilik klub serta pengeluaran yang melebihi 900 juta poundsterling.
ManCity dinilai gagal memenuhi aturan Premier League dan UEFA, sementara tiga dari empat dugaan pelanggaran kerja sama dinyatakan terbukti.
Jakarta, IDN Times - Premier League akhirnya buka suara terkait 114 pelanggaran yang dilakukan Manchester City. Melalui pernyataan resminya, Premier League menegaskan ada empat pelanggaran yang sangat fatal dilakukan oleh ManCity, membuat posisinya tak diuntungkan.
ManCity awalnya bersikeras tak bersalah dalam kasus ini. Namun, Premier League menegaskan pelanggaran ManCity sifatnya berat dan sulit lepas dari sanksi usai ditinjau oleh tiga panelis independen.
1. Sederet pelanggaran ManCity
Premier League menegaskan, ManCity telah memalsukan sejumlah dokumen. Ada kontrak yang dipalsukan, hingga laporan keuangan asli disembunyikan. Berikut sederet pelanggaran yang dilakukan ManCity seperti pernyataan Premier League, dilansir Daily Mirror:
2. Modusnya dari perusahaan cangkang kasih uang ke klub
Terkait kerja sama komersial, modus yang ditemukan oleh panel independen adalah adanya tambahan uang dari Abu Dhabi United Group Investment and Development. Entitas ini sebenarnya dimiliki oleh pemilik klub, sehingga dianggap sebagai mekanisme untuk menekan biaya operasional yang lebih rendah dari sebenarnya.
Kemudian, pemalsuan laporan keuangan lainnya adalah laporan pendapatan diberikan versi artifisial, bukan yang asli selama periode 2009 hingga 2018. Mereka melaporkan selama periode tersebut biaya klub berada di bawah 900 juta poundsterling. Tapi, komisi independen menemukan sebenarnya pengeluaran klub melebihi 900 juta poundsterling.
3. ManCity dianggap gagal penuhi aturan Premier League dan UEFA
Dengan sederet pelanggaran itu, komisi independen dan Premier League menilai ManCity gagal memenuhi aturan Profitability and Sustainability Rules serta Club Licensing and Financial Fair Play Rules milik UEFA.
"Komisi menemukan, jika seluruh dokumen relevan dilaporkan secara akurat dalam laporan keuangan klub, ManCity melanggar batas pengeluaran baik ditetapkan oleh Premier League atau UEFA dalam jumlah signifikan. Selain itu, selama masa investigasi selama empat tahun, klub tak bekerja sama dan tidak memiliki itikad baik dalam kasus ini. Komisi menyimpulkan, ada upaya terkoordinasi dari klub demi menghentikan dan menghambat investigasi Premier League," begitu pernyataan resmi Premier League.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)


















