Gol Kai Havertz membuat Arsenal berhasil menahan Manchester City 1-1 sampai babak pertama selesai. Setelah jeda, intensitas pressure mereka berkurang sebagai dampak otomatis dari Manchester City yang mulai lebih mendominasi. Namun, Arsenal tidak sepenuhnya menghilangkan caranya tersebut.
Terlebih, mulai awal babak kedua, Mikel Arteta memainkan Gabriel Martinelli untuk menggantikan Noni Madueke. Kecepatan winger asal Brasil itu jelas bakal membantu menjaga pressure maupun untuk melakukan serangan balik. Sayangnya, keputusan Martinelli untuk melakukan tekanan pada menit 65 berbuah gol kemenangan Manchester City.
Martinelli sudah bergerak untuk menekan Marc Guehi ketika Gianluigi Donnarumma menguasai bola. Namun, tidak ada rekan setim yang mengikutinya di belakangnya. Itu membuat Nico O’Reilly leluasa menerima umpan lemparan dari Donnarumma di half space. Hanya dalam jangka waktu 13 detik, bola sudah tiba di dalam kotak penalti Arsenal dan diselesaikan Erling Haaland.
Arsenal pun kalah 1-2 dari Manchester City yang berpotensi menyebabkan kehilangan gelar juara Premier League 2025/2026. Mereka terkena bumerang dari taktik yang diterapkan. Sempat mendapat gol berkat pressure yang agresif, gawang David Raya akhirnya kebobolan akibat koordinasi kacau ketika melakukan skema yang sama.