Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenapa Fenomena Kursi Kosong Mewarnai Piala Dunia 2026?

Kenapa Fenomena Kursi Kosong Mewarnai Piala Dunia 2026?
Gelandang Korea Selatan, Hwang In-beom (#06), mencetak gol pembuka ke gawang Republik Ceko dalam laga Grup A Piala Dunia 2026 di Stadion Guadalajara, Zapopan, 11 Juni 2026. (Foto: Ulises RUIZ / AFP)
Intinya Sih
  • Fenomena kursi kosong di Piala Dunia 2026 muncul meski data resmi menunjukkan tiket terjual penuh, terutama saat laga Korea Selatan versus Republik Ceko di Guadalajara.
  • FIFA menjelaskan bahwa banyak penonton memilih berdiri atau berpindah tempat, sehingga kursi tampak kosong meski tiket telah dipindai dan tercatat sebagai hadir.
  • Harga tiket yang mahal akibat sistem dinamis serta biaya tambahan tinggi disebut menjadi faktor utama sepinya minat penonton menghadiri langsung pertandingan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Fenomena kursi kosong terus mewarnai Piala Dunia 2026. Sejumlah pertandingan, terutama pada laga Korea Selatan versus Republik Ceko, begitu akrab dengan pemandangan tersebut, membuat publik bertanya-tanya apakah semuanya disebabkan oleh berbagai dinamika di lapangan.

Piala Dunia 2026 sejak awal memang diprediksi sepi penonton. Harga tiket yang mahal dengan sistem dinamis, jajanan melambung, sampai polemik visa, membuat turnamen terbesar sepak bola dunia itu sulit mendapatkan atensi positif dari publik.

1. Jumlah penonton dipertanyakan

Dalam duel Korsel versus Ceko di Guadalajara, jumlah penonton diumumkan mencapai 44.985 orang dari kapasitas 45.664 kursi. Jumlah tersebut dipertanyakan karena terlihat dari tayangan televisi, sekitar ribuan kursi di tribune bawah kosong melompong.

FIFA buka suara soal insiden ini. Mereka mengklaim tiket sudah terjual dengan kapasitas yang diumumkan oleh announcer di stadion. Data itu, sesuai pernyataan FIFA, dikumpulkan lewat pemindaian barcode tiket di stadion.

"Kehadiran penonton secara resmi berdasarkan pemindaian tiket di stadion, bukan visual. FIFA berkolaborasi dengan otoritas stadion dan tim tiket untuk memastikan data yang ada itu valid," begitu pernyataan FIFA, dilansir Metro.

2. Banyak penonton tak duduk sesuai kursinya

FIFA menyatakan, banyak penonton yang duduk tak sesuai dengan kursinya. Mereka, diklaim FIFA, memilih berdiri dan mencari titik lain ketimbang duduk di kursi yang ditetapkan sepanjang laga.

"Mohon dipahami, ketika laga di Guadalajara, sejumlah tiket yang dipegang fans tak digunakan semestinya karena lebih memilih berdiri di ruang terbuka ketimbang menduduki kursi miliknya," tulis FIFA.

3. FIFA sempat klaim sudah jual lebih dari enam juta tiket

Presiden FIFA, Gianni Infantino, sebelumnya juga menyatakan jika pihaknya sudah menjual lebih dari enam juta tiket kepada suporter. Menurut Infantino, permintaan tersebut di luar prediksi, mempertimbangkan situasi yang terjadi di lapangan.

"Apalagi, tiket kami dimulai dari harga 60 dolar Amerika Serikat (Rp1,07 juta), terendah ketimbang olahraga lainnya di negara ini. Harga tiket rata-rata adalah 500 dolar AS (Rp8,9 juta), juga lebih murah ketimbang play-off. Kami menaruh tiket di pasar yang lebih murah, yang menunjukkan akurasinya," ujar Infantino

3. Kenyataan tak sesuai kejadian di lapangan

Pernyataan Infantino sebenarnya berkebalikan dengan kenyataan di lapangan. Dengan sistem dinamis yang diterapkan FIFA, harga tiket bisa melambung dan menjadi sangat mahal.

Sebagai sampel, tiket Kategori 1 untuk partai final naik nyaris 50 persen. Awalnya, tiket tersebut seharga 6.370 dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp108 juta. Tapi, ketika suporter mulai berebut, harganya meningkat hingga 10.990 dolar Amerika Serikat atau senilai Rp186,5 juta.

Bukan cuma tiket kelas atas saja yang mengalami kenaikan, tapi juga kategori di bawahnya. Tiket Kategori 3 partai final menjadi 5.785 dolar AS (Rp98,2 juta), naik dua kali lipat. Kemudian, tiket Kategori 2 menjadi 7.380 dolar AS (Rp125 juta).

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Satria Permana
EditorSatria Permana

Related Articles

See More