Secara taktis, jadwal akhir pekan ini menguntungkan Madrid karena mereka bertanding lebih awal daripada sang pemimpin klasemen. Jika mampu menjinakkan Girona, Madrid akan memangkas jarak menjadi empat poin dan memberikan beban mental tambahan bagi Barcelona.
Tekanan psikologis inilah yang diharapkan Arbeloa mampu mengguncang konsistensi Blaugrana yang baru akan bertarung sehari setelahnya.
Dalam sejarah panjang sepak bola Spanyol, tekanan di puncak klasemen seringkali menjadi pemicu keretakan performa tim yang sedang unggul. Madrid ingin memastikan, setiap langkah Barcelona menuju gelar juara tidak akan berjalan mudah tanpa gangguan.
Arbeloa percaya, ketenangan tim dalam menghadapi situasi terhimpit akan menjadi pembeda besar di pekan-pekan krusial menuju tangga juara.
Filosofi menyerah sebelum perang usai merupakan sesuatu yang tabu bagi pemegang rekor juara terbanyak LaLiga tersebut. Mentalitas ini yang coba diinjeksikan kembali oleh Arbeloa ke dalam ruang ganti agar para pemain tetap memiliki rasa lapar yang sama.
Ia ingin pasukannya menunjukkan bahwa raksasa Madrid belum benar-benar mati, melainkan hanya sedang mencari momentum tepat untuk bangkit kembali.
"Selama masih ada opsi, kami akan terus berjuang, dan jika suatu hari nanti kami tidak lagi memilikinya, kami akan tetap berjuang. Ini tidak akan berubah; kami tahu apa yang kami wakili, lencana yang kami kenakan di dada kami, dan tuntutan yang menyertainya," kata sang pelatih, sebagai pesan psy-war kepada para rival.