Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kaishu Sano dan Konsistensi Jepang Memaafkan Pelaku Kekerasan Seksual

Kaishu Sano dan Konsistensi Jepang Memaafkan Pelaku Kekerasan Seksual
jersey timnas Jepang (Unsplash.com/Braden Hopkins)
Intinya Sih
  • Kaishu Sano, pemain FSV Mainz 05, sempat ditangkap atas dugaan kekerasan seksual pada Juli 2024 namun dibebaskan tanpa dakwaan dan tetap dipanggil ke timnas Jepang.
  • Penelitian menunjukkan lemahnya penegakan hukum kekerasan seksual di Jepang, termasuk mitos patriarki, definisi hukum yang sempit, serta praktik kompensasi uang atau jidan bagi pelaku.
  • Banyak figur publik Jepang seperti Hirofumi Arai dan Masahiro Nakai juga pernah terlibat kasus serupa namun kembali berkarier, mencerminkan budaya permisif terhadap pelaku kekerasan seksual.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Ada satu nama yang bikin publik Jepang geram jelang keikutsertaan mereka di Piala Dunia 2026. Kaishu Sano namanya, gelandang bertahan yang berstatus pemain klub Bundesliga Jerman FSV Mainz 05. Ia jadi perbincangan karena riwayat keterlibatannya dalam sebuah kasus kekerasan seksual pada Juli 2024. Ia sempat ditangkap, tetapi kemudian dibebaskan oleh otoritas Jepang.

Pertanyaannya, pantaskah status tersangka itu dilupakan begitu saja? Apa yang membuat pelatih Hajime Moriyasu nekat tetap memanggilnya ke timnas?

1. Kaishu Sano terjegal kasus kekerasan seksual sebelum kepindahannya ke Jerman

Pada pertengahan Juli 2024, kepolisian Tokyo mendapat laporan dari seorang perempuan yang mengaku jadi korban pemerkosaan atau seks tanpa persetujuan oleh tiga orang pria. Salah satu dari ketiga terduga pelaku adalah Kaishu Sano yang seminggu sebelumnya baru saja menandatangani kontrak dengan FSV Mainz 05 dari Kashima Antlers. Sano ditangkap di dekat hotel tempat kejadian perkara bersama dua rekan sebayanya. Namun, setelah beberapa waktu, polisi membebaskannya tanpa dakwaan. Tak ada detail jelas tentang kasus itu. Apakah Sano mengingkari atau mengakui perbuatannya tak pernah dirilis ke publik.

Satu-satunya pernyataan datang dari Sano yang menyatakan permintaan maafnya terhadap korban dan publik karena telah membuat masalah. Dilansir AFP, Sano sempat ditahan selama kurang lebih 2 minggu sebelum akhirnya dibebaskan karena kasus tersebut tidak dilanjutkan. Kabar itu disambut lega oleh FSV Mainz yang menyambutnya bergabung pada akhir Juli 2024 dan masih menaunginya hingga kini.

2. Kasus kekerasan seksual kerap dianggap sepele di Jepang

Kasus macam ini bukan yang pertama kali melibatkan pesepak bola profesional. Harus diakui, banyak pula kasus yang berakhir damai karena kurang bukti. Ini memang dilema dalam kasus kekerasan seksual. Khusus untuk ranah Jepang, sebuah riset menarik pernah ditulis David T. Johnson untuk International Journal of Asian Studies dengan judul ‘Is rape a crime in Japan?’.

Dalam riset tersebut, ada beberapa poin yang menjelaskan bagaimana Sano bisa lepas dari dakwaan pemerkosaan. Menurut Johnson, tingkat kekerasan seksual di Tokyo per 100 ribu penduduk bisa lebih rendah dibanding kota-kota besar lain di dunia (seperti New York, London, atau Sidney) karena berbagai faktor. Pertama, rendahnya keinginan korban untuk melapor karena ketidakpercayaan terhadap aparat, ditambah adanya mitos pemerkosaan (rape myth) yang berakar dari persepsi patriarki. Yakni, perempuan sudah seharusnya menunjukkan penolakan ketika ada lelaki yang melakukan pendekatan seksual, meski sebenarnya mereka juga menginginkannya. Mitos ini yang membuat banyak orang bisa berargumen kalau “tidak” bisa berarti “iya”.

Kedua, definisi pemerkosaan dalam hukum Jepang yang bisa disalahgunakan. Meski telah dilakukan beberapa kali revisi, masih ada celah yang bisa dimanfaatkan pelaku untuk mengelak dari tuduhan. Salah satunya kewajiban jaksa penuntut untuk membuktikan adanya koersi dan intimidasi yang tidak memungkinkan korban untuk melawan, termasuk keadaan tidak sadar, tidak stabil secara mental, relasi kuasa ekonomi dan sosial yang tidak seimbang, dan lain sebagainya. Pada 2023, keharusan ini akhirnya dihapus sehingga hubungan seksual tanpa persetujuan bisa dikategorikan pemerkosaan.

Namun, pelaku masih bisa bebas dari tuduhan seperti yang terjadi pada Kaishu Sano. Johnson menyoroti bahwa dalam hukum Jepang, pelaku pemerkosaan bisa memberi kompensasi dalam bentuk uang. Jidan istilahnya, dan itu bisa membebaskan mereka dari tuduhan, bahkan menggugurkan hukuman mereka pada persidangan. Semakin banyak pelaku, semakin ringan kompensasi yang dibayar per kepala (pelaku bisa patungan). Satu lagi, kasus perkosaan di Jepang juga sering tak masuk ke proses peradilan karena kurangnya bukti. Johnson mengadopsi istilah black box yang dipakai jurnalis sekaligus korban pemerkosaan Shiori Ito untuk kasus pemerkosaan. Ini karena kasus tersebut biasanya terjadi tanpa saksi mata (pihak ketiga) sehingga proses peradilannya seperti membuka kotak hitam pesawat (rumit dan lama) untuk membuktikan adanya persetujuan atau tidak.

3. Kaishu Sano bukan figur Jepang pertama yang “dimaafkan” karena kasus kekerasan seksual

Celah lain yang jadi sorotan dalam hukum Jepang soal kasus kekerasan seksual adalah hukuman untuk pelaku. Berdasar revisi pada 2023, hukuman maksimal untuk pelaku kekerasan seksual di Jepang adalah kurungan seumur hidup dan tenggat pengusutan/pelaporan kasusnya diperpanjang jadi 20 tahun. Namun, menurut data yang dihimpun Johnson, rata-rata durasi hukuman kurungan untuk pelaku pemerkosaan di Jepang hanya sekitar 2-5 tahun.

Aktor Hirofumi Arai adalah salah satu publik figur yang dipenjara gara-gara kasus pemerkosaan. Aktor Jepang berlatarbelakang zainichi (keturunan Korea yang sudah tinggal di Jepang sejak 1910-an) itu divonis 5 tahun penjara pada 2020 dan dinyatakan bebas bersyarat pada 2024. Saat kasusnya menyeruak pada 2018, kontrak film dan acara TV-nya dibatalkan. Namun, setelah bebas, ia dengan tampak kembali ke industri hiburan, meski harus diakui bukan proyek besar seperti pada era emasnya dulu.

Shiori Ito butuh bertahun-tahun untuk bisa dapat keadilan dari pemerkosanya, jurnalis senior bernama Noriyuki Yamaguchi. Ito bahkan sempat dituntut atas pencemaran nama baik. Ia juga jadi bulan-bulanan media, sementara Yamaguchi bisa tetap berkarier layaknya tak terjadi apa-apa. Presenter TV dan mantan idol Masahiro Nakai dinyatakan bebas dari dakwaan perkosaan lewat pembayaran kompensasi atau jidan dalam kasus yang melibatkannya pada 2023. Seperti Kaishu Sano, Nakai juga tidak menyangkal atau mengakui perbuatannya, ia hanya meminta maaf karena telah membuat masalah. Bedanya, Nakai langsung mengumumkan pensiun dari industri hiburan.

Kasus Sano jadi wujud lain betapa permisifnya Jepang terhadap pelaku kekerasan seksual. Lebih aneh lagi, pemberitaan soal kasus kekerasan seksual Sano di media Jepang sudah banyak terhapus. Bagaimana menurut pendapatmu? Apakah perlu Sano dipanggil melengkapi skuad Jepang di Piala Dunia 2026? Apakah Jepang begitu kesulitan menemukan penggantinya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Kidung Swara Mardika
EditorKidung Swara Mardika

Related Articles

See More