Piala Dunia 2026 siap menggelar semifinal sarat gengsi. Argentina akan bejumpa Inggris pada Kamis (16/7/2026) dini hari WIB di Atlanta Stadium, Atlanta, Georgia, Amerika Serikat. Bagi banyak orang, rivalitas kedua negara kerap dikaitkan dengan faktor geopolitik selepas Perang Falklands pada 1982. Namun, sejarah mencatat perseteruan The Three Lions dan La Albiceleste di lapangan hijau sebenarnya sudah berkobar jauh sebelum konflik militer meletus.
Rivalitas Argentina-Inggris Tersulut sebelum Perang Falklands

1. Sepak bola dibawa dan diperkenalkan di Argentina oleh para ekspatriat Britania Raya
Sejarah mencatat ironi besar, sepak bola Argentina lahir berkat orang Inggris sendiri. Pada paruh kedua abad ke-19, sekitar 10 ribu ekspatriat Britania Raya menetap di Buenos Aires dan memperkenalkan olahraga ini melalui komunitas pekerja kereta api. Pengaruh Inggris tersebut melekat kuat hingga kini melalui nama klub, seperti River Plate dan Boca Juniors. Sejumlah klub tertua Argentina, seperti Rosario Central dan Newell's Old Boys, didirikan para ekspatriat asal Britania.
Alexander Watson Hutton, guru asal Skotlandia yang mendirikan Buenos Aires English High School pada 1884, kemudian dinobatkan sebagai Bapak Sepak Bola Argentina. Melalui sekolah ini, klub Alumni Athletic Club lahir dan tercatat sebagai tim Argentina tersukses sepanjang awal abad ke-20. Dilansir These Football Times, Hutton juga mendirikan Association Argentine Football League, cikal bakal Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA). Unsur Britania dalam perkembangan bal-balan Argentina terus berlanjut pada dekade 1940-an saat AFA menggunakan jasa para wasit asal Inggris guna meningkatkan mutu kompetisi domestik.
2. Hegemoni klub-klub Inggris di mata penduduk Argentina menurun pada akhir dekade 1920-an
Kendati demikian, rivalitas mulai terbangun saat klub mapan Inggris gencar menggelar tur ke Amerika Selatan antara 1904 dan 1929. Pada awalnya, klub seperti Southampton tampil perkasa dengan menyapu bersih kemenangan dan menggelontorkan 40 gol. Namun, dalam kurun waktu 25 tahun, peta kekuatan bergeser drastis seiring pesatnya perkembangan taktik dan gaya bermain talenta lokal.
Penurunan hegemoni sang penemu sepak bola terlihat jelas saat Chelsea melakoni tur di Argentina pada Mei-Juli 1929. Dalam data milik RSSSF, klub asal London tersebut justru menelan 5 kekalahan dari 10 laga akibat kesulitan meredam kelincahan pemain lokal. Slah satunya saat Chelsea digilas Union de Santa Fe lima gol tanpa balas. Fakta tersebut mulai mengikis arogansi Inggris sekaligus membakar rasa percaya diri Argentina bahwa mereka mampu sejajar dengan bangsa Eropa di sepak bola.
3. Kemenangan atas Inggris pada 14 Mei 1953 berhasil memicu euforia penduduk Argentina
Upaya Argentina melawan rasa inferior berlanjut ke panggung internasional. Pertemuan pertama dengan Inggris di Stadion Wembley, London, Inggris, pada 1951 berakhir dengan kemenangan Inggris 2-1. Tensi politik mulai menjalar 2 tahun berselang saat Inggris bertandang ke Buenos Aires untuk melakoni dua laga persahabatan pada 1953. Laga pertama berakhir pada 14 Mei 1953 dengan kemenangan telak Argentina 3-1, sebuah hasil luar biasa yang memicu euforia nasional di Negeri Tango.
Meskipun Inggris berdalih kekalahan tersebut tidak resmi karena menurunkan skuad lapis kedua, publik Argentina tetap menganggapnya sebagai kemenangan yang sah. Dilansir The Guardian, seorang politisi Argentina bahkan menyatakan bahwa setelah berhasil menasionalisasi aset kereta api dari Inggris, mereka kini sukses menasionalisasi sepak bola. Inggris baru menurunkan tim utama pada 17 Mei 1953, tetapi pertandingan dihentikan pada menit ke-20 karena hujan deras. Hubungan kedua tim semakin memanas setelah Inggris mendepak Argentina dari fase grup Piala Dunia 1962 Chile melalui kemenangan 3-1.
4. Insiden Wembley di Piala Dunia 1966 serta sebutan binatang membuat rivalitas makin sengit
Pemicu rivalitas sebelum era perang terjadi pada perempat final Piala Dunia 1966 di Stadion Wembley. Pertandingan berjalan sangat keras menjurus kasar hingga kapten Argentina, Antonio Rattin, diusir keluar oleh wasit asal Jerman, Rudolf Kreitlein, akibat dinilai melakukan kekerasan verbal. Rattin melakukan protes keras dengan meremas bendera sudut bermotif Union Jack dan sengaja duduk di atas karpet merah kerajaan sebelum dikawal keluar polisi.
Dilansir Al Jazeera, media-media di Argentina langsung menjuluki laga kontroversial tersebut sebagai El Robo del Siglo (Pencurian Terbesar Abad Ini) karena kepemimpinan wasit dinilai berat sebelah. Ketegangan meruncing pascapertandingan setelah manajer Inggris, Alf Ramsey, melarang pemainnya bertukar kaus dan menyamakan skuad Argentina seperti binatang (animals). Sentimen dari Piala Dunia 1966 inilah yang menjadi bensin pengobar rivalitas mereka dan benar-benar meledak di Piala Dunia 1986.
Kedua tim akan kembali bertemu pada Kamis (16/7/2026) mendatang pada semifinal Piala Dunia 2026. Sentimen Perang Falklands kembali disulut, memperkeruh rivalitas antara Argentina dan Inggris. Menariknya, ini menjadi pertemuan resmi pertama mereka sejak 2005 sekaligus jadi pertama kalinya Lionel Messi menjajal The Three Lions sepanjang kariernya.