Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Saat Amerika Serikat Berdamai dengan Iran di Lapangan Hijau
ilustrasi olahraga sepak bola (pixabay.com/jarmoluk)
  • Laga Amerika Serikat melawan Iran di Piala Dunia 1998 memicu kekhawatiran keamanan Prancis akibat konflik diplomatik kedua negara, termasuk sengketa prosedur salam sebelum pertandingan.
  • Para pemain Iran memberikan mawar putih kepada tim Amerika Serikat, lalu kedua tim berfoto sambil merangkul, menciptakan suasana damai di hadapan 39 ribu penonton.
  • Iran menang 2-1 lewat gol Hamid Estili dan Mehdi Mahdavikia; setelah laga, kedua tim saling menghormati, menerima FIFA Fair Play Award 1998.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bagi pencinta sepak bola era 1990-an, Piala Dunia 1998 Prancis tidak hanya dikenang karena kehebatan Zinedine Zidane atau gocekan Ronaldo Nazario. Pada penyisihan Grup F, tersaji sebuah pertandingan yang membuat seluruh dunia sempat was-was. Amerika Serikat menantang Iran di Stade de Gerland, Lyon, pada 21 Juni 1998.

Hubungan diplomatik kedua negara telah terputus sejak Revolusi Islam Iran terjadi pada 1979. Ini diperparah dengan krisis penyanderaan 52 orang warga negara Amerika Serikat di Teheran. Di percaturan politik internasional, keduanya berselisih bahkan hingga sekarang. Namun, di atas lapangan hijau, yang terjadi justru momen penuh kehangatan.

1. Pemerintah Prancis khawatir pertandingan Amerika Serikat versus Iran diwarnai sabotase

Begitu hasil undian grup mempertemukan Amerika Serikat dan Iran, tensi langsung memanas di luar lapangan. Dilansir FourFourTwo, media internasional menjuluki laga ini sebagai Mother of All Games (Ibu dari Segala Pertandingan). Isu keamanan menjadi prioritas nomor satu pemerintah Prancis sebab khawatir akan terjadi demonstrasi atau sabotase di dalam stadion.

Terjadi perselisihan terkait siapa yang harus menghampiri siapa untuk bersalaman. Menurut aturan FIFA, tim B (Iran) harus berjalan menghampiri tim A (Amerika Serikat). Namun, pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, melarang keras para pemainnya berjalan menuju anak asuh Steve Sampson. Masalah ini akhirnya selesai setelah kubu Stars and Stripes mengalah dan setuju mendatangi skuad Iran terlebih dahulu.

2. Para pemain Iran menyerahkan buket mawar putih, simbol perdamaian dalam budaya Persia

Alih-alih kental dengan nuansa permusuhan, para pemain Iran justru bersikap ramah ketika memasuki lapangan. Ali Daei dan kawan-kawan membawa sebuket mawar putih, simbol perdamaian dalam budaya Persia. Anak asuh Jalal Talebi tersebut menyerahkan buket mawar kepada para pemain Amerika Serikat saat bersalaman.

Momen mengharukan terjadi sesaat sebelum laga dimulai. Dilansir The Guardian, kedua tim memutuskan untuk membaur dan berfoto bersama dalam satu barisan, saling merangkul pundak. Sebanyak 39 ribu penonton di Stade de Gerland dan jutaan orang yang menyaksikan lewat layar televisi melihat contoh olahraga mampu meruntuhkan tembok permusuhan politik.

3. Mengandalkan para pemain yang merumput di Jerman, Iran menang dengan skor 2-1

Saat pertandingan dimulai, kedua tim langsung tampil ofensif. Ini lantaran mereka sama-sama mengincar kemenangan pertama fase grup. Iran yang dimotori para pemain yang merumput di Jerman, seperti Ali Daei, Karim Bagheri, dan Khodadad Azizi, tampil lebih efektif dan agresif.

Dilansir situs resmi FIFA, Iran berhasil unggul lebih dulu lewat sundulan Hamid Estili pada babak pertama sebelum Mehdi Mahdavikia menggandakan keunggulan lewat serangan balik cepat pada menit ke-84. Amerika Serikat hanya mampu memperkecil kedudukan lewat gol Brian McBride pada pengujung waktu normal. Skor 2-1 untuk kemenangan Team Melli tak berubah hingga peluit tanda berakhirnya pertandingan ditiup wasit. Ini juga menjadi kemenangan pertama Iran selama berpartisipasi di Piala Dunia.

4. Saat pertandingan berakhir, para pemain kedua tim saling berpelukan dan bertukar seragam

Peluit yang ditiup wasit tidak menghentikan respek yang sudah terbangun bahkan sebelum pertandingan. Para pemain dari kedua kubu saling berpelukan, berjabat tangan, dan bertukar jersey sebelum menuju kamar ganti. Tidak ada provokasi bernada politik atau gestur kebencian.

Bek Amerika Serikat saat itu, Jeff Agoos, bahkan mengeluarkan pernyataan legendaris selepas pertandingan. "Kami melakukan lebih banyak hal untuk perdamaian dalam 90 menit daripada yang dilakukan para politikus dalam 20 tahun," ungkap Agoos seperti dilansir CNN. Laga tersebut membuktikan rivalitas hanya terjadi selama 90 menit. Setelah itu mereka kembali menjadi pesepak bola yang saling menghormati.

5. Laga ini menjadi contoh terbaik bagaimana sepak bola bisa membawa pesan perdamaian

Kedua tim sama-sama gagal lolos dari fase grup sebab kalah bersaing dengan Jerman dan Yugoslavia. Namun, pertandingan Amerika Serikat versus Iran dinilai sebagai kesuksesan terbesar Piala Dunia 1998 dari sisi politis. Padahal FIFA sudah mengerahkan 150 personel kepolisian di dalam dan luar stadion untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Secara umum, pertandingan tersebut juga berlangsung sportif, sebab hanya ada satu kartu kuning yang keluar dari saku wasit Urs Meier. FIFA kemudian memberi FIFA Fair Play Award 1998 kepada Amerika Serikat dan Iran. Hingga sekarang, laga tersebut menjadi contoh terbaik bagaimana sepak bola bisa membawa pesan perdamaian yang melampaui sekat-sekat geopolitik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article