Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengulik Evolusi Taktik Deschamps Selama Menukangi Timnas Prancis

Mengulik Evolusi Taktik Deschamps Selama Menukangi Timnas Prancis
Pelatih Prancis, Didier Deschamps, bereaksi setelah kalah dalam pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 antara Prancis dan Spanyol di Stadion Dallas di Arlington pada 15 Juli 2026. (AFP/Charly Triballeau)
  • Didier Deschamps mengadaptasi taktik Prancis sepanjang 2012–2026, dari pendekatan pragmatis hingga pressing agresif, untuk memaksimalkan generasi pemain berbakat.
  • Pada Piala Dunia 2018 dan 2022, Prancis mengandalkan pertahanan rapat serta serangan balik; strategi ini menghasilkan gelar juara 2018 dan posisi runner-up 2022.
  • Di Piala Dunia 2026, Prancis memakai high-pressing berbasis gelandang muda, mencapai semifinal dengan 20 gol; Deschamps kemudian digantikan Zinedine Zidane.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Memimpin satu generasi berbakat dalam sebuah tim nasional adalah berkah sekaligus kutukan. Banyak pelatih hancur di bawah tekanan ego para pemain bintang, tetapi tidak untuk Didier Deschamps. Pelatih veteran ini telah membuktikan dirinya sebagai salah satu ahli strategi paling adaptif sepanjang sejarah Piala Dinia.

Selama memimpin Timnas Prancis pada Juli 2012–Juli 2026, Deschamps terus merombak skema permainan Les Bleus. Ia membongkar stigma bahwa dirinya adalah pelatih konservatif dengan menyajikan evolusi taktik. Dan hal tersebut rupanya membuat Les Blues selalu tampil menakutkan.

  1. 1. Taktik pragmatis racikan Didier Deschamps membawa Prancis menjadi juara Piala Dunia 2018

    Prancis berhasil menjuarai Piala Dunia 2018 berkat taktik pragmatis. Mereka menggunakan formasi fleksibel 4-2-3-1 yang berubah menjadi 4-3-3 ketika menyerang. Prancis juga mengandalkan pertahanan low block kokoh, lini tengah yang bekerja keras, serta kecepatan serangan balik mematikan.

    Dilansir The Guardian, pilar utama taktik Prancis di Piala Dunia 2018 terletak pada peran Blaise Matuidi sebagai gelandang dengan kerja ganda. Matuidi memperkuat pertahanan sekaligus mengontrol lini tengah bersama Paul Pogba dan N'Golo Kante. Saat kehilangan bola, seluruh pemain termasuk Antoine Griezmann dan Olivier Giroud turun membantu pertahanan demi menutup jalur operan lawan. Begitu bola berhasil direbut, Prancis langsung melancarkan serangan balik kilat memanfaatkan fisik Giroud yang kokoh saat menahan bola dan kecepatan Mbappe di sektor sayap.

    Mengingat mereka sering merelakan penguasaan bola kepada lawan, situasi bola mati menjadi senjata rahasia yang sangat diandalkan. Sebanyak 5 dari 14 gol Prancis sepanjang Piala Dunia 2018 lahir dari set piece. Singkatnya, Prancis lebih memilih bermain pragmatis daripada menguasai bola. Mereka mengandalkan kedisiplinan lini belakang, dan menyelesaikan peluang dengan sangat klinis.

  2. 2. Kylian Mbappe dibebaskan dari tugas turun bertahan ketika Prancis menjadi runner-up Piala Dunia 2022

    Timnas Prancis kembali menggunakan taktik pragmatis di Piala Dunia 2022 lewat formasi 4-2-3-1. Formulanya masih sama, yakni pertahanan kuat serta serangan balik efisien. Sistem fleksibel ini memungkinkan mereka meredam tekanan, menjaga kerapatan formasi, sekaligus mengeksploitasi kelemahan lawan. Namun, ada perubahan terkait siapa pemain dengan peran terpenting.

    Dilansir FIFA Training Center, kunci utama dari skema di 2022 adalah strategi rest attack yang diberikan Didier Deschamps kepada Kylian Mbappe. Ia dibebaskan dari tugas bertahan agar bisa menghemat energi, tetapi baru bekerja saat melakukan transisi menyerang. Selain itu, Prancis menerapkan sayap asimetris atau tidak seimbang. Ousmane Dembele ditugaskan tetap bergerak di sisi kanan lapangan, sementara Mbappe di sisi kiri lebih sering bergerak menusuk ke dalam (cutting inside). Sesekali Mbappe melakukan kerja sama dengan bek kiri, Theo Hernandez.

    Keseimbangan lini tengah juga terjaga dengan baik berkat duet jangkar Aurelien Tchouameni dan Adrien Rabiot. Kehadiran mereka sukses memberi kebebasan penuh kepada Antoine Griezmann untuk menjalankan peran sebagai kreator serangan sekaligus penghubung lini tengah dan depan. Giroud masih menjadi target man yang menahan bola sekaligus membuka ruang bagi para pemain sayap yang eksplosif.

  3. 3. Di Piala Dunia 2026, Prancis mengandalkan gelandang muda untuk menjaga intensitas tekanan

    Di Piala Dunia 2026, Prancis mengubah taktik demi memaksimalkan potensi para pemain muda. Strategi low-block ditinggalkan dan beralih ke sistem pressing yang jauh lebih agresif di sepertiga akhir lapangan (high-pressing). Ini memaksa lawan melakukan kesalahan di area sendiri, sekaligus memperpendek jarak para penyerang Prancis untuk langsung menusuk.

    Dilansir Soccer Drive, kunci keberhasilan taktik ini terletak pada peremajaan di lini tengah. Kehadiran para gelandang muda seperti Manu Kone dan Michael Olise, yang memiliki daya jelajah tinggi, memungkinkan Prancis menjaga intensitas tekanan sepanjang pertandingan tanpa kehilangan keseimbangan. Di lini depan, peran Kylian Mbappe kini telah bergeser dari sekadar penyerang sayap menjadi ujung tombak yang kerap membuka ruang dan jalur pergerakan untuk rekan-rekan setimnya.

    Dengan taktik tersebut, Prancis melaju ke semifinal Piala Dunia 2026, meski akhirnya ditaklukkan Spanyol. Mereka sukses mencetak 20 gol dari 8 pertandingan, menjadi tim paling subur bersama Inggris yang keluar sebagai peringkat ketiga. Dari 20 gol tersebut, 10 di antaranya datang dari Mbappe.

    Setelah 13 tahun menukangi Timnas Prancis, Didier Deschamps resmi meletakkan jabatan. Pengisi pos tersebut adalah rekan setimnya dulu, Zinedine Zidane. Tugas mantan manajer Real Madrid tersebut sudah jelas, yakni melanjutkan mentalitas juara warisan Deschamps.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More