Super League Mau Naik Kelas, Terus Harus Lakukan Apa?

- I.League berjanji menaikkan kualitas Super League melalui komunikasi lintas pelaku, kepastian kalender kompetisi, dan regulasi yang lebih terarah.
- Peningkatan club licensing menjadi fokus: seluruh peserta Super League 2026/27 sudah berlisensi, sementara kriteria lisensi akan diperluas dari lima menjadi tujuh aspek musim depan.
- I.League akan menyusun jadwal terpadu demi kepastian sponsor dan kontrak pemain, sambil mempertahankan daya saing Super League yang dinilai menarik pemain asing berkualitas.
Jakarta, IDN Times - Operator Super League, I.League, berjanji akan membuat kompetisi sepak bola Indonesia termasuk Super League, akan naik kelas. Agar hal itu terealisasi, ada beberapa hal yang akan dilakukan.
Direktur Kompetisi I.League, Asep Saputra, menyebut salah satu yang terpenting adalah komunikasi lintas pelaku dan pemangku kebijakan di lapangan. Hal tersebut bisa berpengaruh pada jadwal kompetisi.
"Kami ingin memastikan peran liga sebagai pembuat ekosistem dan tim tinggal menunjukkan performanya. Kami ingin memastikan kepastian jadwal dari kalender dan hal-hal berkaitan dengan regulasi," ujar Asep dalam acara Water Break PSSI Pers, beberapa waktu lalu.
1. Proses licensing club jadi penting

BRI kembali jadi sponsor Super League 2026/27. (Dok. BRI) Asep mengungkapkan, salah satu aspek penting yang harus ditingkatkan adalah club licensing. Saat ini, seluruh peserta Super League 2026/27 sudah mengantongi lisensi.
Kemudian, sebagian tim-tim yang berlaga di divisi Championship 2026/27 sebagian juga sudah memiliki lisensi berlaga untuk strata atasnya, meski ada beberapa yang belum. Hal ini, dijelaskan Asep, akan terus ditingkatkan.
"Ini adalah fase ekspansi. Salah satunya adalah penambahan lisensi klub. Ada lima aspek dalam lisensi klub dan musim depan akan ditambah dua lagi sehingga jadi tujuh," ujar Asep.
2. Jadwal kompetisi juga akan dibuat teratur

BRI kembali jadi sponsor Super League 2026/27. (Dok. BRI) Direktur Komersial I.League, Sadikin Aksa, menyebut elemen penting agar Super League naik kelas adalah kepastian jadwal. Dia berjanji, I.League akan terus menyusun jadwal kompetisi terpadu. Dengan begitu, sponsor akan dapat kepastian.
"Dulu, lihat jadwal saja sudah bersyukur. Dulu, bagaimana mau bikin proyeksi kalau jadwal juga enggak pasti. Dulu, enggak berani kontrak pemain tiga sampai empat tahun. Sekarang sudah mulai berani," ujar Sadikin.
3. Menjaga aspek kompetitif di kompetisi

BRI kembali jadi sponsor Super League 2026/27. (Dok. BRI) Sadikin juga mengeklaim, saat ini Super League jadi kompetisi paling kompetitif di ASEAN. Aspek kompetitif ini yang akan dipertahankan, karena juga bisa memancing sponsor.
"Datanya Nielsen terbesar penggila sepakbola di regional ada di Indonesia. Baik itu persentase maupun secara kuantitas. Kalau kita mau dibanding secara kuantitas, sudah pasti lebih besar dari mereka. Itulah menjadi market besarnya brand-brand dunia di Indonesia," ujar Sadikin.
Kompetitifnya Super League sampai jadi daya tarik, diamini oleh Arthur Irawan selaku pemilik Persik Kediri. Dia mengaku, gampang mendatangkan pemain asing berkualitas karena Super League juga memiliki reputasi.
"Saya rasa Super League itu sangat kompetitif, sedikit kayak Premier League, siapa pun bisa menang lawan siapa pun. Kami pun dari Persik, yang masih banyak kekurangannya, mau menjadi klub lebih besar, bisa menang lawan Bandung away kadang-kadang ya," kata Arthur.
















