Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Trump Tantrum Lihat Taktik Tuchel saat Inggris Kalah dari Argentina
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berada di kantornya di Ruang Oval, Gedung Putih, Washington D.C. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)
  • Donald Trump menilai kekalahan Inggris dari Argentina di semifinal Piala Dunia 2026 disebabkan oleh kesalahan taktik Thomas Tuchel yang memilih bertahan setelah unggul.
  • Sejumlah pengamat dan mantan pemain, termasuk Wayne Rooney, mengkritik keputusan Tuchel mengganti formasi menjadi 5-3-2 karena membuat Inggris terlalu pasif dan kehilangan kendali permainan.
  • Harry Kane membela Tuchel dengan menyebut Argentina meningkatkan tempo dan dominasi setelah tertinggal, membuat Inggris kesulitan menekan serta mempertahankan keunggulan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, ikut mengomentari kekalahan Inggris dari Argentina di semifinal Piala Dunia 2026. Menurut Trump, kekalahan Inggris di Atlanta Stadium, Kamis dini hari WIB (16/7/2026), tak lepas dari blunder taktik yang dilakukan manajer Thomas Tuchel.

Inggris, bagi Trump, memiliki pemain yang hebat. Makanya, dia menyayangkan ketika Inggris memilih bertahan usai unggul lewat gol Anthony Gordon di menit 55.

"Skuad Inggris dipenuhi pemain hebat, dan saya main golf bersama beberapa di antaranya. Ada Harry Kane yang fantastis. Rasanya, mereka melakukan kesalahan ketika Kane dijadikan pemain bertahan," ujar Trump, dilansir BBC.

1. Kurang paham sepak bola, tapi....

Bek Argentina bernomor punggung 26, Nahuel Molina, dan penyerang Inggris bernomor punggung 18, Anthony Gordon, berebut bola selama pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Argentina di Stadion Atlanta, Atlanta, pada 15 Juli 2026. (AFP/Odd Andersen)

Trump mengaku pengetahuannya tentang sepak bola memang tak terlalu dalam. Tapi, sebagai orang awam dia bisa memahami seharusnya Inggris tak mengambil opsi bertahan ketika sudah unggul karena bisa membuat Argentina lebih leluasa dalam menekan.

"Saya tahu apa soal sepak bola? Namun, ketika sudah unggul, punya pemain terhebat, dan dipasang buat bertahan. Seharusnya kan main lebih menyerang. Bukannya begitu? Saya gak mau menggugatnya. Apa yang saya tahu soal melatih? Cuma, ini agak gak biasa," kata Trump.

2. Tuchel sudah diserang para pengamat dan mantan pemain

Gelandang Argentina bernomor punggung 24, Enzo Fernandez, merayakan gol pertama timnya selama pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Argentina di Stadion Atlanta, Atlanta, pada 15 Juli 2026. (AFP/Thomas Coex)

Sebelum Trump melontarkan pernyataan ini, sebenarnya sejumlah pengamat dan mantan pemain sudah mengkritisi taktik Tuchel. Mereka bingung karena Tuchel tiba-tiba mengganti skema Inggris menjadi 5-3-2 dengan menarik Anthony Gordon, Declan Rice, dan Reece James, dengan Ezri Konsa, Nico O'Reilly, serta Dan Burn.

Alhasil, Inggris digempur habis-habisan oleh Argentina. Statistik menunjukkan, penguasaan bola Inggris setelah unggul hanya 12 persen.

"Saya kaget dan tak mengerti bagaimana Inggris mengambil pendekatan dalam permainan, terutama setelah unggul. Saya tak mengerti, karena mereka mengundang para pemain Argentina untuk dengan bebas melepaskan umpan-umpan silang," kata Mueller, dilansir 433.

Sementara, eks striker Inggris, Wayne Rooney, menegaskan jika permainan The Three Lions pasca Inggris unggul malah menurun. Tuchel, ditegaskan Rooney, salah menerapkan strategi.

"Kami sudah dipermak. Semua gara-gara manajer dan keputusan yang dibuatnya. Kami jadi terlalu pasif. Melawan tim seperti Argentina, juara dunia, gak boleh seperti itu. Ini tes terbesar dan kami gagal," ujar Rooney, dilansir BBC Sport.

3. Kane sempat bela Tuchel

Penyerang Inggris bernomor punggung 9, Harry Kane, merayakan gol kedua timnya selama pertandingan babak 32 besar Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Republik Demokratik Kongo di Stadion Atlanta, Atlanta, pada 2 Juli 2026. (AFP/Odd Andersen)

Kane berkilah situasi di lapangan berbanding terbalik setelah Gordon mencetak gol. Argentina mendadak meningkatkan tempo permainan dan Inggris gagal meredamnya, meski punya niat menggandakan keunggulan. Menurut Kane, Albiceleste bisa menggempur Inggris di segala lini, sampai susah merebut bola dan mengambil alih kendali permainan.

"Kami kesulitan memberikan tekanan kepada mereka. Terutama pada babak pertama dan awal paruh kedua, kami menekan dengan baik, membuat mereka berada di bawah tekanan tinggi sehingga bisa merebut bola dan mengendalikan permainan," ujar Kane.

Ketika tertinggal, Kane menilai Argentina melakukan perubahan signifikan. Jumlah pemain Argentina di depan, dirasakan Kane, malah lebih banyak. Selain itu, para pemain Argentina selalu unggul saat duel satu lawan satu.

"Setelah mencetak gol, entah karena mereka menambah lebih banyak pemain ke depan atau kami tidak mampu lagi mengimbangi duel satu lawan satu, yang terjadi hanyalah gelombang demi gelombang serangan. Para pemain sudah melakukan banyak blok, tetapi pada akhirnya itu tidak cukup," ujar Kane.

Curated For You

Editorial Team

Related Article