Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sejak 2023, Fabregas Sudah Sindir Taktik Tuchel di Inggris

Sejak 2023, Fabregas Sudah Sindir Taktik Tuchel di Inggris
Bek Argentina bernomor punggung 26, Nahuel Molina, dan penyerang Inggris bernomor punggung 18, Anthony Gordon, berebut bola selama pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Argentina di Stadion Atlanta, Atlanta, pada 15 Juli 2026. (AFP/Odd Andersen)
Intinya Sih
  • Cesc Fabregas sejak 2023 sudah menyoroti gaya taktik Thomas Tuchel yang cenderung defensif saat timnya unggul, terutama dalam konteks pertandingan besar.
  • Fabregas menjelaskan bahwa perubahan strategi menjadi bertahan dapat mengubah mindset pemain dan memberi ruang bagi lawan untuk lebih menekan.
  • Dalam semifinal Piala Dunia 2026, Inggris di bawah Tuchel mengalami hal serupa; setelah unggul 1-0 lalu bertahan, mereka akhirnya kalah 1-2 dari Argentina.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pelatih Como cum peraih gelar Piala Dunia 2010 sebagai pemain, Cesc Fabregas, sudah menyindir taktik yang dipakai Thomas Tuchel saat Inggris jumpa Argentina di semifinal Piala Dunia 2026.

Sindiran itu hadir lagi tak lama setelah pendekatan Tuchel dikritik, yang berujung kekalahan Inggris 1-2 dari Argentina. Alih-alih terus menekan, Inggris justru memilih bertahan saat unggul 1-0.

1. Terungkap dalam sebuah wawancara

Pada sebuah wawancara dengan Sky Sports pada 2023, Fabregas menyebut memang ada manajer yang akan cenderung jadi lebih bertahan saat unggul 1-0. Itulah yang dilakukan Inggris saat lawan Argentina.

"Ketika kamu menang 1-0, manajer kadang mengganti penyerang atau gelandang dengan bek, lalu tim kamu tiba-tiba main dengan lima bek. Saat seperti itu, mindset pemain di lapangan berubah jadi lebih bertahan," kata Fabregas.

2. Itulah yang dialami Inggris

Fabregas mengungkapkan, ketika seorang manajer mengambil langkah demikian, selain mengubah mindset pemain, hal itu membuat lawan melihat celah. Lawan pun jadi lebih berani menekan.

"Ketika mindset bertahan itu sudah menghampiri satu tim, tim Anda memancing lawan untuk menekan. Lawan akan lebih menyerang dan menguasai daerah permainan Anda," kata Fabregas.

3. Hasilnya, gol tercipta bagi lawan

Fabregas menyebut, ketika itu terjadi, jangan heran gol bisa terjadi bagi tim yang menyerang. Sebab, tim yang bertahan akan lebih banyak menerima aksi serangan dari lawan dalam bentuk apa pun.

"Yah, memang tim yang bertahan bisa melakukan serangan balik. Namun, 80 sampai 90 persen, cara ini malah jadi bumerang. Karena kalian mengundang lawan untuk menyerang lebih banyak," kata Fabregas.

Dalam laga semifinal Piala Dunia 2026 lawan Argentina, Inggris sebenarnya masih unggul 1-0 sampai menit 75 laga. Namun, Tuchel selaku pelatih malah memasukkan banyak pemain bertahan.

Hasilnya, seperti kata Fabregas, Inggris yang awalnya unggul berbalik tertinggal 1-2. Argentina mencetak gol via Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez, membuat Tuchel kena serang fans gara-gara pendekatannya ini.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More