Sebutan "Piala Dunia Mini" biasanya disematkan pada turnamen yang memiliki level kompetitif setara Piala Dunia, tetapi dengan jumlah peserta yang lebih sedikit. Sepanjang sejarah, ada empat ajang yang diakui layak menyandang gelar tersebut. Ada yang diselenggarakan langsung oleh FIFA, jadi kerja sama induk sepak bola tingkat benua, atau bahkan pemerintahan sebuah negara.
4 Turnamen yang Sempat Disebut Piala Dunia Mini, Apa Saja?

1. Piala Konfederasi menjadi ajang bertemunya para tim juara dari seluruh benua
Inilah turnamen yang secara resmi sering dijuluki sebagai "Piala Dunia Mini." Disebut demikian sebab ajang ini mempertemukan para juara dari setiap benua, ditambah juara bertahan Piala Dunia. Selain jadi ajang pemanasan tim-tim unggulan, Piala Konfederasi sejak 2001 menjadi ajang menguji kesiapan infrastruktur tuan rumah Piala Dunia. Sayangnya, seperti dilansir Goal, FIFA resmi menghapus Piala Konfederasi pada 2019 dan menggantinya dengan Piala Dunia Antarklub dalam format baru.
2. Piala Raja Fahd, cikal bakal Piala Konfederasi sebelum diambil alih FIFA
Piala Raja Fahd adalah pendahulu Piala Konfederasi. Konsepnya adalah mempertemukan para juara tingkat benua untuk bertanding dalam turnamen. Dilansir These Football Times, edisi pertama pada 1992 hanya diikuti 4 tim, yakni Argentina (juara Copa America 1991), Arab Saudi (tuan rumah dan juara Piala Asia 1988), Amerika Serikat (juara Piala Emas CONCACAF 1991), serta Pantai Gading (juara Piala Afrika 1992). Berlangsung dalam format knockout, Argentina yang saat itu diperkuat Gabriel Batistuta menjadi kampiun setelah menekuk Arab Saudi dengan skor 3-1.
Lalu, pada edisi 1995, ada enam tim yang berpartisipasi. Mereka adalah Denmark (juara Piala Eropa 1992), Jepang (juara Piala Asia 1992), Argentina (juara Copa America 1993), Meksiko (juara Piala Piala Emas CONCACAF 1993), Nigeria (juara Piala Afrika 1993), dan Arab Saudi sebagai tuan rumah. Berlangsung dalam format setengah kompetisi, Denmark keluar sebagai juara usai menaklukkan Argentina 2-0 di laga puncak.
3. Juara Eropa dan Amerika Selatan bertemu di pertandingan Finalissima
Sejak Piala Dunia digelar pada 1930, para juara ajang sepak bola akbar tersebut hanya berasal dari Eropa dan Amerika Selatan. Fakta ini menjadi cikal bakal dari apa yang sekarang kita kenal sebagai Finalissima yang digelar oleh UEFA dan CONMEBOL. Konsepnya sederhana, yakni pertandingan yang mempertemukan juara Piala Eropa melawan juara Copa America.
Per 2026, ajang ini baru digelar sebanyak 3 kali. Para pemenangnya yakni Prancis (1985), serta Argentina yang meraih trofi edisi 1993 dan 2022. Dilansir BBC, Finalissima harusnya digelar pada Maret 2026 ini yang mempertemukan Argentina (juara Copa America 2024) dan Spanyol (juara Piala Eropa 2024) di Qatar. Namun, laga bergengsi tersebut batal sebab semua pihak yang terlibat tidak kunjung sepakat tentang stadion pengganti sebagai imbas dari konflik Iran-Israel.
4. Copa de Oro 1980 adalah perayaan 50 tahun penyelenggaraan Piala Dunia pertama di Uruguay
Dilansir Urban Pitch, ini adalah turnamen "sekali seumur hidup" dengan tujuan merayakan 50 tahun Piala Dunia pertama. Pesertanya cuma negara-negara yang pernah menjuarai Piala Dunia (Uruguay, Brasil, Jerman Barat, Italia, Argentina). Inggris jadi satu-satunya yang absen akibat keengganan tim-tim melepas pemain di tengah kompetisi, sehingga posisi mereka digantikan oleh Belanda (runner-up 1974 dan 1978).
Sebanyak 6 tim peserta dibagi dalam 2 grup yang berlangsung dalam format setengah kompetisi, lalu dilanjutkan ke fase gugur. Uruguay, tuan rumah Piala Dunia 1930, menjadi penyelenggara Copa de Oro. Yang lebih istimewa, turnamen yang berlangsung dari 30 Desember 1980 hingga 10 Januari 1981 ini mendapat status resmi dari FIFA. Uruguay keluar sebagai juara setelah mengalahkan Brasil dengan skor 2-1 di hadapan 71 ribu penonton yang memadati Estadio Centenario, Montevideo.
Kini, mayoritas turnamen "Piala Dunia Mini" sudah tinggal kenangan akibat padatnya jadwal sepak bola. Namun, tim-tim yang pernah juara tetap memamerkan trofi dari ajang tersebut dengan bangga. Sebab piala, yang didapat dengan susah payah, juga tetap sebuah pencapaian.