Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Usai Bantai Milan, Kiper Bournemouth Singgung Gaya Klub Italia
ilustrasi suasana di luar stadion Vitality milik AFC Bournemouth (commons.wikimedia.org/MrIgnavy)
  • Bournemouth menang 3-0 atas AC Milan pada matchday ketiga Liga Europa dan menjaga kesempurnaan setelah memenangkan dua laga awal.

  • Michele Di Gregorio menilai mental menyerang dan keberanian mengambil risiko menjadi ciri permainan tim-tim Inggris.

  • Di Gregorio menyebut intensitas latihan serta determinasi merebut bola di Inggris jauh berbeda, dan ia masih bahagia di Bournemouth.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Jumat (23/10/2026) dini hari WIB

Bournemouth mengalahkan AC Milan dengan skor 3-0 pada matchday ketiga Liga Europa musim 2026/27. Hasil ini menjaga kesempurnaan Bournemouth setelah memenangkan dua laga awal.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Bournemouth mengalahkan AC Milan dengan skor 3-0 pada matchday ketiga Liga Europa musim 2026/27.
  • Who?
    Bournemouth, AC Milan, dan kiper Bournemouth, Michele Di Gregorio.
  • Where?
    Pertandingan berlangsung di Vitality Stadium.
  • When?
    Jumat (23/10/2026) dini hari WIB.
  • Why?
    Mental menyerang, keberanian mengambil risiko, serta intensitas dan determinasi Bournemouth menjadi pembeda di lapangan.
  • How?
    Bournemouth bermain agresif, menyerang dengan intensitas tinggi, dan berusaha segera merebut bola setelah kehilangannya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bournemouth menang 3-0 melawan AC Milan di Liga Europa. Kiper Bournemouth, Michele Di Gregorio, bercerita bahwa pemain Inggris berani menyerang dan cepat merebut bola. Ia juga merasa latihan di Inggris lebih berat. Sekarang, Di Gregorio bahagia tinggal di Bournemouth bersama keluarganya dan belum ingin kembali ke Italia.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kemenangan atas AC Milan memperlihatkan konsistensi Bournemouth di Liga Europa setelah memenangkan dua laga awal. Dari pengalaman Michele Di Gregorio, keberanian menyerang dan intensitas tinggi menjadi bagian dari filosofi tim. Ia juga menemukan kebahagiaan baru di Bournemouth bersama keluarganya selama menjalani masa pinjaman dari Juventus.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Bournemouth sukses melibas AC Milan dengan skor 3-0 pada matchday ketiga Liga Europa musim 2026/27, Jumat (23/10/2026) dini hari WIB. Hasil ini menjaga kesempurnaan Bournemouth yang memenangkan dua laga awal.

Kiper Bournemouth, Michele Di Gregorio, mengungkap perbedaan mencolok yang terlihat dalam laga di Vitality Stadium tersebut. Aspek itu menjadi pembeda di atas lapangan, yang pada akhirnya membantu The Cherries meraih kemenangan.

1. Mental menyerang Bournemouth tak pernah ciut

Di Gregorio mengaku bangga dengan mentalitas timnya yang tidak pernah gentar meski lawan yang dihadapi adalah raksasa Eropa sarat sejarah sekaliber Milan. Bournemouth, menurut Di Gregorio, memiliki filosofi yang selalu agresif tanpa peduli siapa musuhnya.

Pria kelahiran Milan, Italia, itu mengeklaim kalau tim-tim di Inggris tidak memiliki kebiasaan pasif untuk mempelajari lawan terlalu lama di awal laga. Mereka selalu berani mengambil risiko untuk menyerang, tak peduli apakah lawannya berstatus tim juru kunci atau pemuncak klasemen.

"Menurut saya, perbedaan besarnya adalah setiap pertandingan di sini dimainkan dengan ide sepak bola kami sendiri. Artinya, kami bermain menyerang dengan intensitas berbeda dibandingkan di Italia. Hal itu membuat pertandingan lebih terbuka. Tidak peduli siapa lawan yang dihadapi, baik tim papan atas maupun tim yang berada di dasar klasemen, Anda tetap bisa kalah," kata Di Gregorio, dikutip dari Football Italia.

2. Intensitas latihan di Inggris jauh lebih gila

Sejak datang ke Premier League dari Juventus dengan status pinjaman, Di Gregorio mendapat pengalaman budaya sepak bola yang benar-benar baru. Dia merasa ada perbedaan mencolok, baik di latihan atau pertandingan.

Di sesi latihan, Di Gregorio mendapati perbedaan yang sangat signifikan dari beban fisiknya. Namun, hal yang paling membuatnya kagum adalah tingginya determinasi para pemain untuk segera merebut bola saat kehilangan saat pertandingan.

"Bagi saya, intensitas adalah perbedaan terbesar, kekejaman dan semangat mereka untuk menyerang itu luar biasa," pujinya.

3. Gregorio mau balik lagi ke Italia?

Menyoal apakah akan kembali ke Italia setelah pinjamannya rampung, Di Gregorio belum ambil pusing karena fokusnya terjaga penuh di Bournemouth, tempat yang memberikannya kebahagiaan baru. Namun, hingga saat ini, Di Gregorio belum ada niatan pulang ke Italia.

"Bahkan saat berada di sini, saya masih melihat apa yang dibicarakan di Italia. Untungnya, sejauh ini saya dan keluarga belum merindukan apa pun, kami sangat bahagia di sini," tegasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article