Kehadiran Neymar Jr tidak bisa menutupi kelemahan timnas Brasil saat menghadapi lawan dari Eropa. Timnas Negeri Samba mencatatkan persentase kemenangan 42 persen bersama pesepak bola itu. Namun, mereka tetap tidak bisa membendung kekuatan kolektif timnas-timnas elite dunia.
Mayoritas pesepak bola utama timnas Brasil berkarier di liga top Eropa dengan pola permainan kaku dan otomatisasi taktis sangat disiplin. Mereka mengalami gesekan psikologis karena harus beralih ke gaya bermain intuitif dan bebas dalam waktu singkat saat jeda internasional. Neymar Jr menjadi yang paling menderita karena tetap berusaha menjadi pesepak bola jalanan di tengah skuad berstandar Eropa.
Pensiunnya Neymar Jr meruntuhkan ilusi bahwa bakat alami pesepak bola Brasil selalu lebih unggul dalam sepak bola modern. Sekarang, federasi sepak bola Negeri Samba harus bisa merombak total infrastruktur pembinaan mereka. Masa depan timnas itu bergantung sepenuhnya kepada kemauan untuk menerima bahwa era permainan yang mengandalkan kejeniusan tunggal sudah berakhir.
Singkat kata, tuntasnya kejayaan jogo bonito menandai akhir dari ketergantungan panjang Brasil terhadap keajaiban pesepak bola tunggal. Dibutuhkan revolusi pembinaan yang lebih mengedepankan taktik kolektif daripada talenta alami. Awal segar Selecao hanya bisa terwujud kalau mereka berani mengubur ego tradisional untuk mengejar kancah sepak bola modern yang sangat kompetitif.