5 Gebrakan Nvidia di CES 2026, Absen GPU tapi Fokus AI Fisik

- Nvidia meluncurkan platform AI terbaru bernama Rubin, dengan arsitektur komputasi terbarunya yang menawarkan lonjakan performa dan efisiensi daya yang tinggi.
- Nvidia merilis Alpamayo, model AI terbuka untuk kendaraan otonom yang mampu berpikir dan memproses alasan di balik setiap keputusan.
- Nvidia semakin serius menggarap Physical AI dengan teknologi Nvidia Cosmos dan rencana layanan robotaxi level 4 pada tahun 2027.
Nvidia kembali mengguncang panggung Consumer Electronics Show (CES) 2026 di Las Vegas dengan visi masa depan yang sangat ambisius. CEO Jensen Huang membuka acara tahun ini bukan dengan peluncuran kartu grafis konsumen baru, melainkan memperkenalkan platform kecerdasan buatan (AI) bernama Rubin. Pengumuman ini menandakan pergeseran strategi Nvidia dari sekadar penyedia perangkat keras gaming menjadi tulang punggung utama bagi industri AI.
Huang memamerkan berbagai inovasi teknologi mulai dari cip superkomputer hingga sistem mobil otonom yang mampu "berpikir" layaknya manusia di jalan raya. Meskipun absennya pengumuman GPU GeForce RTX seri baru mungkin mengecewakan sebagian kalangan gamer, Nvidia tetap memberikan pembaruan perangkat lunak DLSS untuk meningkatkan pengalaman bermain game. Berikut gebrakan menarik dari presentasi Nvidia di CES 2026!
1. Nvidia luncurkan Rubin, platform AI terbaru

Nvidia meluncurkan arsitektur komputasi terbarunya yang diberi nama Rubin, diambil dari nama astronom Vera Rubin. Platform ini didesain sebagai sistem extreme-codesigned yang terdiri dari enam komponen cip utama yang bekerja secara terintegrasi. Komponen tersebut meliputi GPU Rubin, CPU Vera, jaringan NVLink 6, Spectrum-X Ethernet, SuperNICs ConnectX-9, dan DPU BlueField-4.
Menurut TechCrunch, Rubin menawarkan lonjakan performa yang masif dengan kemampuan inferensi mencapai 50 petaflops menggunakan presisi NVFP4. Data menunjukkan arsitektur ini bekerja 3,5 kali lebih cepat dalam pelatihan model dan 5 kali lebih cepat dalam tugas inferensi dibandingkan pendahulunya, Blackwell. Efisiensi daya juga menjadi sorotan utama karena Rubin mendukung komputasi inferensi delapan kali lebih banyak per watt.
CPU Vera yang menjadi bagian dari platform ini dirancang untuk pemrosesan agen dan pergerakan data yang intensif. Cip prosesor ini diklaim memiliki performa dua kali lipat per watt dibandingkan prosesor paling canggih yang ada saat ini dalam kondisi daya terbatas. Keunggulan ini sangat penting mengingat kebutuhan komputasi AI global yang terus meroket tajam.
Tujuan utama dari platform Rubin adalah menekan biaya operasional pengembangan AI skala besar bagi perusahaan teknologi. Jensen Huang menyatakan, kombinasi teknologi ini mampu memangkas biaya pembuatan token AI hingga menjadi sepersepuluh dari biaya platform generasi sebelumnya. Sistem Rubin kini sudah dalam tahap produksi penuh dan siap digunakan oleh penyedia layanan cloud besar seperti AWS.
2. Rilis Alpamayo yang bikin mobil otonom bisa berpikir

Sorotan kedua tertuju pada Alpamayo, sebuah keluarga model AI terbuka yang dirancang untuk kendaraan otonom. Berbeda dengan sistem autopilot konvensional, Alpamayo memiliki kemampuan reasoning atau penalaran untuk memahami situasi jalanan yang kompleks dan jarang terjadi. Model ini tidak hanya mengaktifkan setir atau rem, tetapi juga memproses alasan di balik setiap keputusan yang diambil sebelum bertindak.
Secara teknis, inti dari sistem ini adalah Alpamayo 1 yang merupakan model vision language action (VLA) dengan 10 miliar parameter. Model ini dilatih end-to-end menggunakan input kamera hingga fisik, memanfaatkan ribuan jam data berkendara manusia serta simulasi sintetik. Pendekatan ini memungkinkan mobil untuk memecahkan masalah sulit, seperti menavigasi persimpangan sibuk saat lampu lalu lintas mati, tanpa perlu pengalaman sebelumnya.
Nvidia mendemonstrasikan kecanggihan Alpamayo melalui mobil Mercedes-Benz CLA terbaru. Mercedes-Benz CLA menjadi mobil penumpang pertama yang menggunakan tumpukan teknologi otonom penuh dari Nvidia dan siap mengaspal. Mobil dengan fitur AI-defined driving ini dijadwalkan hadir di Amerika Serikat pada kuartal pertama tahun ini, disusul Eropa pada kuartal kedua.
Untuk memastikan keamanan maksimal, Nvidia menerapkan sistem keamanan berlapis dengan dua tumpukan perangkat lunak. Menurut CNET, jika Alpamayo merasa kurang percaya diri dalam menghadapi situasi tertentu, sistem evaluator keselamatan akan mengalihkan kendali ke sistem guardrail klasik yang lebih sederhana. Strategi ini menjadikan sistem Nvidia sangat unik dan diklaim lebih aman dibandingkan solusi otonom tunggal lainnya.
3. Nvidia semakin serius menggarap Physical AI

Nvidia menegaskan obsesi barunya pada Physical AI, yaitu sistem kecerdasan buatan yang mampu berinteraksi dan bertindak di dunia fisik. Teknologi ini didukung oleh Nvidia Cosmos, sebuah model fondasi dunia (world foundation model) yang bertugas mensimulasikan lingkungan fisik secara akurat. Cosmos dilatih menggunakan data video dan robotika untuk memprediksi gerakan, fisika, dan interaksi objek sebelum diterapkan ke robot asli.
Penerapan Physical AI ini memungkinkan robot untuk belajar di dunia virtual Isaac Sim sebelum menyentuh dunia nyata, mengurangi risiko kerusakan dan mempercepat proses belajar. Jensen Huang mendemonstrasikan hal ini dengan menampilkan robot-robot kecil yang melompat dan berinteraksi di panggung. Nvidia juga mengumumkan rencana layanan robotaxi level 4 yang akan diuji coba bersama mitra pada tahun 2027.
Nvidia juga memperluas kemitraan strategis ke sektor industri manufaktur melalui kolaborasi dengan raksasa teknologi Siemens. Huang menyebut pabrik-pabrik masa depan akan menjadi semacam "robot raksasa" yang mengelola ribuan robot otonom di dalamnya.
Akses terhadap teknologi ini telah dibuka bagi pengembang melalui model open source yang bisa diunduh dan dikembangkan lebih lanjut. Pengembang dapat menggunakan Cosmos untuk menghasilkan data sintetik guna melatih robot atau kendaraan mereka sendiri dengan skenario yang sulit didapatkan di dunia nyata.
4. Absen GPU baru tapi perkenalkan DLSS 4.5

Bagi komunitas gamer, presentasi CES 2026 kali ini membawa kabar yang campur aduk karena absennya pengumuman kartu grafis konsumen baru. Nvidia tampaknya sengaja menahan peluncuran perangkat keras gaming baru dan lebih memilih fokus pada optimalisasi perangkat lunak. Sebagai gantinya, Nvidia mengumumkan pembaruan pada teknologi upscaling mereka melalui peluncuran DLSS 4.5.
DLSS 4.5 hadir dengan model AI transformer generasi kedua yang meningkatkan kualitas gambar dan mengurangi cacat visual secara signifikan. Fitur utama yang paling menarik adalah mode Multi Frame Generation 6x yang mampu menghasilkan lima frame tambahan untuk setiap satu frame yang di-render secara asli. Teknologi ini ditargetkan untuk gaming 4K pada monitor 240Hz agar visual tetap mulus.
Nvidia juga memperkenalkan fitur Dynamic Multi Frame Generation yang secara otomatis mengatur jumlah frame buatan berdasarkan beban kerja GPU. Fitur cerdas ini akan meningkatkan jumlah frame saat aksi dalam game menjadi berat dan menurunkannya saat beban kerja ringan untuk menjaga latensi tetap rendah. DLSS 4.5 tersedia untuk semua pemilik kartu grafis RTX, tapi fitur frame generation 6x hanya eksklusif untuk seri RTX 50.
Selain DLSS, Nvidia meluncurkan jajaran monitor G-SYNC Pulsar baru yang menawarkan kejernihan gerak setara 1000Hz. Monitor ini dilengkapi teknologi Ambient Adaptive yang menyesuaikan kecerahan dan suhu warna layar dengan kondisi pencahayaan ruangan secara real-time. Teknologi ini sudah tersedia di lebih dari 400 game dan aplikasi.
5. Rilis berbagai model AI open source untuk berbagai domain

Nvidia menutup presentasinya dengan komitmen kuat terhadap ekosistem terbuka melalui penyediaan berbagai model AI untuk publik. Perusahaan ini merilis model terbuka untuk berbagai domain seperti Clara (kesehatan), Earth-2 (iklim), Nemotron (penalaran), hingga GR00T (kecerdasan berwujud). Semua model ini telah dilatih menggunakan superkomputer Nvidia dan dirilis sebagai blok bangunan dasar bagi para pengembang global.
Terkait ketersediaan, kode dasar untuk model Alpamayo 1 sudah dapat diakses oleh pengembang melalui platform Hugging Face. Nvidia juga merilis dataset terbuka berisi 1.700 jam data mengemudi serta kerangka simulasi AlpaSim di GitHub untuk memvalidasi sistem otonom. Perusahaan rintisan hingga peneliti akademis dapat memanfaatkan teknologi ini untuk mengembangkan kendaraan otonom dengan biaya lebih terjangkau.
Untuk akses layanan cloud gaming, Nvidia memperluas jangkauan GeForce Now dengan meluncurkan aplikasi native untuk PC berbasis Linux dan Amazon Fire TV. Versi beta untuk Linux Ubuntu akan segera tersedia, diikuti oleh dukungan untuk distribusi lainnya dalam beberapa minggu ke depan. Pengguna Fire TV Stick 4K juga akan bisa menikmati streaming game berkualitas tinggi langsung dari televisi mereka mulai awal tahun ini.
Nvidia tidak lagi sekadar mengejar tren perangkat keras, tetapi ingin menjadi fondasi utama infrastruktur AI dunia. Dengan valuasi perusahaan yang kini menembus angka fantastis 5 triliun dolar AS (sekitar Rp83,8 kuadriliun), Nvidia semakin menunjukkan dominasinya di sektor teknologi. Kita kini memasuki era di mana kecerdasan buatan bukan lagi sekadar chatbot, melainkan mesin fisik yang akan hidup berdampingan dengan manusia.



















