Kenaikan harga RAM DDR5 akibat krisis pasokan memori global membuat AMD dan Intel kembali melirik teknologi DDR4. Kedua produsen prosesor tersebut dilaporkan tengah menghidupkan kembali platform lama yang masih mendukung RAM DDR4 sebagai alternatif bagi pengguna PC. Langkah ini cukup menarik karena industri komputer sebelumnya mulai beralih ke DDR5 yang menawarkan performa dan efisiensi lebih baik.
Lonjakan harga memori menjadi salah satu alasan utama di balik perubahan strategi tersebut. Permintaan chip memori untuk pusat data kecerdasan buatan (AI) terus meningkat, sementara pasokan yang terbatas membuat harga RAM untuk konsumen ikut terdampak. Akibatnya, pengguna yang ingin merakit atau meningkatkan kemampuan PC harus mengeluarkan biaya lebih besar, terutama ketika memilih platform yang menggunakan DDR5.
Intel dikabarkan tengah mempersiapkan prosesor baru berbasis soket LGA 1700, sementara AMD kembali mengandalkan ekosistem AM4 yang sudah lama menggunakan DDR4. Kedua platform tersebut menawarkan alternatif bagi pengguna yang ingin mempertahankan RAM generasi sebelumnya tanpa harus langsung beralih ke DDR5. Strategi ini menjadi semakin relevan ketika harga RAM DDR5 berkapasitas 32GB dilaporkan telah mencapai sekitar Rp9,7 juta.
