Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Micron Prediksi Kelangkaan RAM Bisa Berlanjut hingga 2028

4 min read
Micron Prediksi Kelangkaan RAM Bisa Berlanjut hingga 2028
ilustrasi RAM (unsplash.com/Liam Briese)
  • Micron memproyeksikan permintaan RAM dan memori penyimpanan tetap melampaui pasokan sepanjang 2027 hingga 2028.

  • Peningkatan produksi DRAM dan NAND belum cukup mengimbangi kebutuhan memori untuk infrastruktur AI dan perangkat elektronik konsumen.

  • Kelangkaan memori telah mendorong kenaikan harga RAM, laptop, dan PC, serta menekan pengiriman smartphone murah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kelangkaan chip memori global diperkirakan belum akan selesai dalam waktu dekat. Pabrikan semikonduktor asal Amerika Serikat, Micron, memproyeksikan permintaan RAM dan memori penyimpanan masih akan melampaui pasokan sepanjang 2027 hingga 2028, bahkan kondisi pasar pada dua tahun tersebut diperkirakan lebih ketat dibandingkan 2026.

Prediksi tersebut menjadi sinyal bahwa tekanan pada industri perangkat elektronik masih berpotensi berlanjut. Ketika pasokan memori tidak mampu mengejar permintaan, produsen smartphone, laptop, PC, dan perangkat lainnya harus berhadapan dengan biaya komponen yang tetap tinggi, terutama ketika kebutuhan memori untuk infrastruktur kecerdasan buatan terus berkembang.

CEO Micron Sanjay Mehrotra menyampaikan proyeksi tersebut ketika perusahaan melaporkan kinerja kuartal IV tahun fiskal 2026 pada 30 September 2026. Micron bahkan belum dapat memastikan kapan keseimbangan antara permintaan dan pasokan akan kembali tercapai, sementara sebagian besar kapasitas produksi perusahaan untuk tahun berikutnya disebut sudah terjual.

  1. 1. Kondisi 2027 dan 2028 diperkirakan lebih berat

    ilustrasi RAM
    ilustrasi RAM (unsplash.com/Harrison Broadbent)

    Persoalan utama industri memori masih berada pada ketidakseimbangan antara permintaan dan kemampuan produsen menyediakan chip. Micron memperkirakan permintaan akan terus melampaui pasokan pada 2027 maupun 2028, sehingga periode kelangkaan yang terjadi sepanjang 2026 berpotensi berlangsung lebih lama dari perkiraan sebelumnya.

    Kondisi pada dua tahun mendatang bahkan diproyeksikan lebih ketat dibandingkan 2026. Sebagian besar kapasitas produksi Micron untuk tahun berikutnya sudah terjual, sementara pelanggan diperkirakan harus membayar harga lebih tinggi dibandingkan tahun ini.

    Micron juga belum memiliki gambaran pasti kapan pasokan dan permintaan dapat kembali mencapai titik seimbang. Artinya, 2028 bukan berarti kelangkaan RAM dipastikan selesai pada tahun tersebut, karena proyeksi perusahaan justru menunjukkan tekanan pasokan masih dapat terjadi sepanjang periode itu.

  2. 2. Produksi DRAM dan NAND naik, tetapi belum cukup

    Industri memori sebenarnya terus meningkatkan jumlah chip yang diproduksi. Pengiriman NAND dan DRAM diperkirakan tumbuh pada kisaran persentase rendah hingga menengah 20-an selama dua tahun ke depan, tetapi peningkatan tersebut masih dinilai belum cukup untuk mengejar pertumbuhan permintaan.

    Salah satu faktor yang membuat situasinya semakin kompleks adalah tingginya kebutuhan memori untuk infrastruktur AI. Produsen memori semakin memprioritaskan High Bandwidth Memory atau HBM untuk pusat data AI, sementara Micron memperkirakan pertumbuhan pengiriman HBM akan lebih cepat dibandingkan DRAM konvensional.

    Perubahan prioritas tersebut membuat kapasitas produksi harus dibagi antara kebutuhan infrastruktur AI dan perangkat elektronik konsumen. Meski produsen chip juga membangun fasilitas produksi baru untuk meningkatkan kapasitas, pabrik semikonduktor membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum dapat mulai menghasilkan chip dalam skala besar.

  3. 3. Smartphone murah menjadi salah satu segmen yang paling tertekan

    ilustrasi seorang perempuan sedang memegang smartphone
    ilustrasi seorang perempuan sedang memegang smartphone (pexels.com/cottonbro studio)

    Tekanan akibat kelangkaan memori sudah mulai terasa pada industri smartphone. Segmen ponsel dengan harga di bawah 100 dolar AS menjadi salah satu kategori yang paling terdampak, dengan pengirimannya turun hampir 60 persen pada kuartal II 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

    Tekanan tersebut menjadi penting karena memori merupakan salah satu komponen yang dibutuhkan hampir seluruh kategori perangkat komputasi. Ketika harga RAM dan penyimpanan meningkat, perangkat pada kelas harga rendah memiliki ruang yang lebih sempit untuk menyerap kenaikan biaya tanpa melakukan penyesuaian terhadap harga jual atau konfigurasi yang ditawarkan.

    Situasi serupa juga terlihat di Indonesia. Pengiriman smartphone secara keseluruhan tercatat turun 9 persen pada kuartal I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sedangkan pengiriman perangkat dengan harga di bawah 150 dolar AS turun 19 persen.

  4. 4. Harga RAM dan laptop ikut terdorong naik

    Kelangkaan pasokan juga mulai diterjemahkan menjadi kenaikan harga komponen di pasar konsumen. Harga RAM DDR5 di Indonesia dilaporkan telah menembus lebih dari Rp2 juta pada April 2026, padahal sebelumnya berada di kisaran Rp800 ribu hingga Rp900 ribu.

    Kenaikan biaya tersebut kemudian ikut memengaruhi harga perangkat jadi. Sejumlah penjual menyebut harga laptop mengalami kenaikan sekitar Rp2 juta sampai Rp3 juta, sementara laptop gaming dapat mengalami kenaikan hingga Rp4 juta. Penjualan di tingkat penjual tertentu bahkan disebut dapat mengalami penurunan hingga 50 persen.

    Tekanan terhadap harga PC juga diperkirakan belum sepenuhnya mereda. IDC memproyeksikan harga jual rata-rata PC meningkat 17 persen pada 2026 dibandingkan 2025, menunjukkan bagaimana persoalan pasokan memori dapat merembet dari harga sebuah komponen hingga biaya perangkat yang diterima konsumen.

  5. 5. Tahun 2028 belum tentu menjadi akhir krisis RAM

    ilustrasi RAM
    ilustrasi RAM (unsplash.com/Franck V.)

    Proyeksi hingga 2028 membuat arah pasar memori dalam beberapa tahun ke depan masih penuh tekanan. Peningkatan kapasitas produksi memang terus dilakukan, tetapi pertumbuhan permintaan, terutama untuk kebutuhan AI, membuat tambahan pasokan tersebut belum tentu cukup untuk mengembalikan keseimbangan pasar dengan cepat.

    Kondisi ini juga menjelaskan mengapa kelangkaan RAM tidak hanya menjadi persoalan bagi pengguna yang ingin membeli modul memori untuk PC. Dampaknya dapat menjalar ke smartphone, laptop, dan berbagai perangkat elektronik lain yang membutuhkan DRAM maupun NAND sebagai bagian penting dari konfigurasi perangkat.

    Bagi konsumen, proyeksi tersebut berarti periode harga memori tinggi berpotensi berlangsung lebih panjang. Micron belum melihat kapan pasokan dan permintaan akan kembali seimbang, sehingga 2028 untuk saat ini lebih tepat dipandang sebagai bagian dari periode kelangkaan, bukan sebagai titik pasti ketika harga RAM dan pasokan memori kembali normal.

Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More