Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa HP Khusus Musik Jarang Ditemukan di Pasaran?

ilustrasi iPhone sedang memutar musik
ilustrasi iPhone sedang memutar musik (unsplash.com/@usefulcollective)
Intinya sih...
  • Kebiasaan mendengarkan musik telah berubah drastis dalam satu dekade terakhir. Mayoritas pengguna mengandalkan layanan streaming ketimbang menyimpan berkas audio berkualitas tinggi.

  • Segmen pengguna yang benar-benar peduli kualitas suara tergolong niche. Produsen cenderung menghindari risiko investasi besar pada pasar sempit.

  • Tren desain smartphone menekankan bodi tipis dan ringan, sementara komponen audio kelas atas membutuhkan ruang fisik lebih besar.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Sebelum era Android dan iPhone, industri ponsel pernah diwarnai oleh perangkat khusus musik seperti Nokia Xpress Music dan Sony Ericsson Walkman. Namun, sekarang smartphone khusus musik sudah jarang ditemukan. Padahal, smartphone modern sudah menjadi perangkat serba bisa yang menggantikan banyak alat elektronik. Musik lebih sering dinikmati lewat smartphone dibandingkan pemutar musik khusus.

Pertanyaan ini sering muncul di kalangan pecinta musik dan audiofil. Pasalnya, teknologi audio sebenarnya terus berkembang dan semakin terjangkau. Realitas pasar menunjukkan arah berbeda, karena produsen lebih memilih fokus lain dibandingkan menghadirkan HP khusus musik. Selain kualitas audio smartphone modern pada umumnya sudah cukup baik, berikut adalah beberapa alasan kenapa HP khusus musik jarang ditemukan di pasaran.

1. Cara orang mendengarkan musik sudah berubah

ilustrasi aplikasi pemutar musik
ilustrasi aplikasi pemutar musik (unsplash.com/@obuol)

Kebiasaan mendengarkan musik telah berubah drastis dalam satu dekade terakhir. Mayoritas pengguna mengandalkan layanan streaming ketimbang menyimpan berkas audio berkualitas tinggi. Fokus utama pengguna lebih condong pada kemudahan akses dibandingkan kualitas suara maksimal.

Headset nirkabel juga turut menggeser perhatian dari kualitas audio internal smartphone. Proses konversi suara berpindah ke perangkat eksternal seperti TWS atau headphone Bluetooth. Kondisi ini membuat peningkatan komponen audio internal dianggap kurang relevan bagi pasar umum.

2. Pasar audiofil di industri smartphone relatif kecil

ilustrasi pemutar musik
ilustrasi pemutar musik (unsplash.com/@fhavlik)

Segmen pengguna yang benar-benar peduli kualitas suara tergolong niche. Jumlahnya jauh lebih kecil dibandingkan pengguna umum yang memprioritaskan kamera, layar, dan performa. Produsen smartphone cenderung menghindari risiko investasi besar pada pasar sempit. Sejauh ini hanya ada nubia yang berani meluncurkan HP musik lewat seri nubia Music.

Harga komponen audio berkualitas tinggi juga tidak murah. Kehadiran DAC dan amplifier mumpuni dapat menaikkan harga jual secara signifikan. Risiko produk tidak laku menjadi pertimbangan besar dalam strategi bisnis pabrikan. Bahkan, Apple memutuskan untuk berhenti produksi iPod karena dianggap kurang relevan untuk masa sekarang.

3. Dominasi desain tipis dan ringan

ilustrasi mendengarkan musik
ilustrasi mendengarkan musik (unsplash.com/@viralyft)

Tren desain smartphone saat ini menekankan bodi tipis dan ringan. Komponen audio kelas atas biasanya membutuhkan ruang fisik lebih besar. Keterbatasan ruang membuat produsen harus memilih prioritas fitur.

Baterai besar, modul kamera kompleks, dan sistem pendingin sering dianggap lebih penting. Ruang internal akhirnya dialokasikan untuk kebutuhan tersebut. Audio pun terpaksa menjadi kompromi demi desain yang menarik di mata konsumen umum. Selain itu, banyak produsen yang kini mulai mengihilangkan jack audio. Padahal, itu adalah fitur yang sangat penting bagi pecinta musik.

4. Aksesori eksternal dinilai lebih efisien

ilustrasi mendengarkan musik
ilustrasi mendengarkan musik (unsplash.com/@andriklangfield)

Kebutuhan audio berkualitas tinggi banyak dialihkan ke aksesori eksternal. Dongle DAC, headphone amplifier portabel, dan TWS premium menawarkan solusi fleksibel. Pengguna bebas meningkatkan kualitas audio tanpa mengganti smartphone.

Ekosistem aksesori juga memberi keuntungan bisnis tambahan bagi produsen. Penjualan aksesori eksternal dapat menghasilkan keuntungan besar seperti yang dilakukan Apple. Strategi ini dianggap lebih menguntungkan dibandingkan membuat smartphone khusus musik.

5. Produsen lebih memilih mengembangkan fitur lain

potret smartphone Android
potret smartphone Android (unsplash.com/@duc154)

Industri smartphone sangat dipengaruhi tren dan pemasaran. Fitur kamera canggih, kecerdasan buatan, dan layar unik lebih mudah dipromosikan. Kualitas audio sulit ditonjolkan secara visual di iklan. Klaim audio superior sering terasa abstrak bagi pengguna awam. Perbedaan suara baru terasa ketika diuji secara langsung. Faktor ini membuat fitur audio kalah pamor dibandingkan fitur yang langsung terlihat.

HP khusus musik jarang ditemukan di pasaran bukan karena produsen tidak mau merilisnya, tetapi karena kondisi market yang kurang memungkinkan. Selama mayoritas pengguna mengutamakan kepraktisan dan tren, HP audiofil kemungkinan akan tetap menjadi produk langka. Tak hanya itu, perangkat pemutar audio digital seperti Walkman dan merek lainnya sekarang masih tergolong segmented.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Latest in Tech

See More

6 Aplikasi Jalan Kaki Dapat Uang, Bisa Sehat Sekaligus Cuan

05 Feb 2026, 09:40 WIBTech