Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Kekurangan Membeli HP Google Pixel, Belum Ada Resmi di Indonesia

5 Kekurangan Membeli HP Google Pixel, Belum Ada Resmi di Indonesia
ilustrasi Google Pixel (Unsplash/Samuel Angor)
Intinya Sih
  • Google Pixel sering dikritik karena pembaruan fitur Pixel Drop yang tidak konsisten dan kebijakan dukungan perangkat lama yang dianggap tebang pilih.
  • Chipset Tensor buatan Google tertinggal dalam hal performa dan efisiensi daya dibanding pesaing, serta berdampak pada daya tahan baterai yang kurang optimal.
  • Kekhawatiran privasi dan ketiadaan penjualan resmi di Indonesia membuat pengguna kesulitan soal garansi, servis, serta keamanan data pribadi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Google Pixel sebenarnya memiliki performa yang mumpuni dan selalu jadi pelopor fitur AI canggih di dunia smartphone, bahkan sampai di titik membuat brand lain terkesan hanya mengekor. Namun, terlepas dari berbagai keunggulannya, Pixel tetap tak luput dari kekurangan yang sering kali membuat calon pembeli ragu. Pixel memang pilihan tepat untuk pengguna yang mengincar kecerdasan AI paling mutakhir atau sekadar cari HP harian yang serba bisa, namun tak bisa dipungkiri juga bahwa dalam beberapa tahun terakhir, ada semakin banyak pengguna yang dibuat kesal dengan Pixel. Berikut beberapa kekurangan membeli HP Google Pixel.

1. Pixel Drop sering kali tidak konsisten

thread-434934448-14144687548849080230.png
ilustrasi Pixel Drop (dok. Google)

Meski menghadirkan berbagai fitur baru layaknya hadiah kejutan bagi para penggunanya, fitur berkala "Pixel Drops" milik Google sering kali memicu rasa frustrasi karena jadwal perilisannya yang tidak pasti dan peluncurannya yang bertahap hingga berminggu-minggu. Situasi ini diperparah oleh kebijakan Google yang terkesan tebang pilih dalam memberikan pembaruan fitur. Pixel lama yang sebenarnya masih layak digunakan, termasuk yang masih dalam masa dukungan resmi seperti Pixel 6 dan 7, sering kali mendadak dihentikan dukungannya atau tidak mendapatkan fitur-fitur terbaru padahal secara performa dan kemampuan sebenarnya masih mampu menjalankan fitur-fitur anyar tersebut.

2. Daya tahan baterai tidak selalu yang terbaik

Daya tahan baterai seharian penuh selalu menjadi dambaan setiap pengguna HP, tapi Pixel malah sering mengecewakan dalam hal ini meski dibekali teknologi AI yang canggih. Pixel kerap dikeluhkan karena boros baterai secara misterius ketika digunakan sehari-hari, yang ditengarai berasal dari efisiensi chipset Tensor sendiri serta masalah hardware. Masalah ini seolah menjadi "penyakit langganan" yang tak kunjung usai dari generasi ke generasi, bahkan Pixel 10 Pro XL yang terbaru sekalipun masih menduduki posisi terbawah dalam uji ketahanan baterai jika dibandingkan kompetitornya. Singkatnya, jika daya tahan baterai adalah prioritas utama, maka Pixel bukanlah pilihan yang paling tepat.

3. Chipset Tensor tertinggal dibanding kompetitor

Google_Tensor_Photo_3_DQt1yAw.width-1300.png
ilustrasi Google Tensor (dok. Google)

Membeli HP flagship yang tidak murah tentu membuat pengguna berharap mendapatkan performa terbaik di kelasnya, namun pengguna Pixel justru harus bersiap kecewa. Penyebab utamanya terletak pada chipset buatan Google sendiri, yaitu Tensor. Meski sangat bisa diandalkan untuk kebutuhan AI, chipset ini nyatanya masih kewalahan menandingi kecepatan dan efisiensi daya milik para pesaing beratnya seperti Snapdragon, Apple A-series maupun MediaTek. Meski performa Pixel sudah cukup untuk sekadar bermain media sosial atau berkirim pesan, ketertinggalan ini tetap merugikan mengingat HP Android modern saat ini mulai difungsikan sebagai pengganti PC hingga perangkat gaming berat.

4. Masalah privasi

Terlepas dari fakta bahwa keunggulan utama Android terletak pada kebebasaan penggunaannya, Pixel tetap membawa kekhawatiran tersendiri terkait privasi dan rekam jejak Google. Laporan dari Cybernews mengungkapkan bahwa Pixel gencar mengumpulkan data pribadi di latar belakang. Selain itu, fitur-fitur canggih seperti Magic Cue mengirimkan data sensitif ke cloud, sementara fitur Now Playing menuntut mikrofon untuk terus aktif merekam sepanjang waktu. Masalah privasi ini juga semakin diperparah oleh kebiasaan buruk Google yang hobi mematikan layanan atau fiturnya secara mendadak, seperti yang terjadi pada aplikasi Pixel Studio yang resmi mati tahun ini setelah hanya bertahan dua tahun.

5. Tidak tersedia secara resmi di Indonesia

triyansh-gill-gxnnCFKaEIc-unsplash.jpg
ilustrasi Google Pixel (Unsplash/Triyansh Gill)

Yang terakhir adalah kekurangan yang tidak dari sisi performa maupun fitur, melainkan ketersediaan. Membeli Pixel di Indonesia membawa kendala utama karena HP ini tidak dijual secara resmi oleh Google di tanah air. Ketiadaan distributor resmi tidak hanya membingungkan pengguna terkait prosedur pendaftaran IMEI dan klaim garansi pabrik, tapi juga memperrumit urusan purna jual. Ketika terjadi kerusakan, pengguna jadi terpaksa mengandalkan jasa servis tidak resmi (pihak ketiga) yang kualitas pengerjaannya tidak terjamin oleh standar Google serta harga suku cadang aslinya cenderung mahal dan sulit didapat. Sebelum Google menjualnya secara resmi, Pixel kurang begitu direkomendasikan untuk dibeli di Indonesia.

Itulah tadi ulasan mengenai beberapa kekurangan membeli HP Google Pixel. Tetap tertarik membeli Google Pixel setelah membaca ulasan di atas?

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More