Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Kekurangan Steam Frame yang Perlu Diketahui Sebelum Membelinya
ilustrasi Steam Frame (dok. Valve)
  • Steam Frame dibanderol US$1.059 untuk 256 GB dan US$1.299 untuk 1 TB, jauh di atas Meta Quest 3, tanpa peningkatan spesifikasi yang benar-benar revolusioner.

  • Headset ini memakai panel LCD 2160×2160 per mata dengan refresh rate hingga 144 Hz, tetapi kontras dan warna hitamnya tidak menyamai OLED pada sejumlah pesaing lebih murah.

  • Baterai saat game dijalankan langsung hanya bertahan 47–55 menit pada 120–90 Hz, sementara passthrough monokrom membatasi mixed reality; mode berwarna memerlukan modul US$149.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Steam Frame hadir sebagai suksesor Valve Index, menawarkan pengalaman virtual reality yang berfokus pada gaming dengan latensi rendah, foveated streaming dan kemampuan menjalankan game secara langsung. Headset VR ini juga mendukung Steam dan sistem desktop berbasis Linux, sehingga tampak seperti salah satu headset VR paling lengkap untuk gamer PC. Namun, Steam Frame bukan tanpa kelemahan. Harganya tergolong premium, sementara sejumlah aspek penting seperti kualitas layar, daya tahan baterai dan kemampuan mixed reality-nya masih berada di bawah beberapa pesaingnya. Berikut beberapa kekurangan Steam Frame yang perlu diketahui sebelum membelinya.

1. Harganya sangat mahal

ilustrasi Steam Frame (dok. Valve)

Steam Frame dibanderol di harga US$1.059 (Rp18,9 juta) untuk model dengan penyimpanan 256 GB, sementara model dengan penyimpanan 1 TB dijual di harga mencapai US$1.299 (Rp23,2 juta). Posisi harga tersebut menempatkannya di kelas premium, bahkan ketika dibandingkan dengan headset VR populer seperti Meta Quest 3 yang bisa dibeli di harga US$599 (Rp10,7 juta) atau sekitar 50 persen lebih murah daripada Steam Frame. Harga tinggi headset VR ini memang bisa dijelaskan melalui sejumlah fitur, seperti latensi rendah, dukungan terhadap katalog game Steam yang sangat lengkap, kemampuan streaming dari PC dan sistem desktop berbasis Linux yang sudah langsung tertanam. Kendati demikian, Steam Frame tidak menawarkan peningkatan spesifikasi yang benar-benar revolusioner dibandingkan headset VR lainnya. Bagi pengguna yang hanya mencari headset VR untuk bermain game, pilihan yang lebih murah sudah mampu menyediakan pengalaman serupa, bahkan menawarkan kapasitas penyimpanan lebih besar.

2. Panel LCD tidak mampu menyamai OLED

ilustrasi Steam Frame (dok. Valve)

Steam Frame menggunakan dua panel LCD dengan resolusi 2160 × 2160 piksel untuk masing-masing mata. Resolusi tersebut mampu menghasilkan tampilan yang tajam, terutama ketika dipadukan dengan refresh rate hingga 144 Hz dan teknologi foveated streaming. Bagi pengguna yang sebelumnya terbiasa menggunakan headset VR seperti Meta Quest, kualitas panelnya masih memuaskan. Masalahnya, panel LCD tidak dapat menghasilkan tingkat kontras dan warna hitam sepekat OLED. Panel OLED mampu mematikan piksel secara individual, sehingga area gelap terlihat benar-benar hitam dan warna tampak lebih baik. Kekurangan ini menjadi lebih terasa karena harga Steam Frame yang cukup tinggi dan fakta bahwa di luar sana ada beberapa headset VR seperti Bigscreen Beyond 2 dan PlayStation VR2 yang telah menggunakan panel OLED dengan harga yang lebih murah.

3. Daya tahan baterainya buruk ketika memainkan game secara langsung

ilustrasi Steam Frame (dok. Valve)

Salah satu keunggulan Steam Frame adalah kemampuannya menjalankan game secara langsung tanpa selalu terhubung ke PC. Namun, fitur ini membutuhkan tenaga pemrosesan yang besar dan berdampak signifikan terhadap daya tahan baterai. Ketika digunakan untuk streaming, baterai Steam Frame dapat bertahan sekitar 1,5 hingga 2 jam, yang masih tergolong umum untuk headset VR. Namun ketika digunakan bermain game secara langsung, daya tahan baterainya bisa turun menjadi kurang dari satu jam. Dalam pengujian yang dilakukan Gamers Nexus, Steam Frame hanya mampu bertahan sekitar 55 menit ketika memainkan game pada refresh rate 90 Hz dan 47 menit pada refresh rate 120Hz. Sebagai perbandingan, Meta Quest 3 mampu bertahan sekitar 120 menit dalam kondisi yang sama. Dalam pengaturan paling rendah pada refresh rate 72 Hz, durasi daya tahan baterai Steam Frame meningkat hingga 124 menit, namun komprominya adalah kualitas visual yang lebih rendah.

4. Passthrough monokrom membatasi fungsi mixed reality

ilustrasi Steam Frame (dok. Valve)

Steam Frame memiliki fitur passthrough yang memungkinkan pengguna melihat sekitar melalui kamera yang telah disediakan. Fitur seperti ini penting untuk meningkatkan keamanan, memeriksa HP, melihat layar lain atau menggunakan elemen augmented reality tanpa harus melepas headset. Sayangnya, passthrough bawaan Steam Frame hanya menampilkan gambar secara monokrom, bukan berwarna. Keterbatasan ini membuat Steam Frame kurang ideal sebagai perangkat produktivitas maupun untuk kebutuhan mixed reality. Pengguna juga tidak bisa dengan nyaman ketika melihat televisi, HP atau monitor lain dalam filter warna monokrom ketika masih mengenakan Steam Frame. Ironisnya, untuk bisa mendapatkan passthrough berwarna, pengguna harus mengeluarkan uang lagi untuk membeli modul terpisah seharga US$149 (Rp2,6 juta).

Demikian tadi ulasan mengenai beberapa kekurangan Steam Frame yang perlu diketahui sebelum membelinya. Tetap tertarik membeli headset VR garapan Valve ini?

Curated For You

Editorial Team

Related Article