5 Pihak yang Terdampak Krisis RAM, Bukan Cuma Konsumen

- Produsen RAM mengalami dampak pertama dari krisis dan pergeseran industri RAM.
- Produsen barang elektronik, seperti smartphone, laptop, dan PC, terpaksa menaikkan harga produk mereka.
- Konsumen merasakan dampak dari krisis RAM dengan variasi produk yang makin mengecil dan harga yang naik.
Industri teknologi kembali diguncang oleh krisis RAM yang mulai terjadi di akhir tahun 2025. Dipicu oleh peningkatan AI, krisis RAM membuat harga komponen dan produk elektronik naik hingga ke tingkatan yang tidak wajar. Hal tersebut terjadi di seluruh dunia dan membuat industri menjadi kurang stabil. Selain itu pihak yang terdampak krisis RAM juga tidak sedikit.
Pihak pertama yang sangat terdampak adalah produsen RAM itu sendiri. Kemudian perusahaan AI juga menerima dampaknya, tepatnya dampak positif. Masuk ke skala yang lebih kecil, bahkan penjual produk elektronik dan konsumen juga merasakan dampak dari krisis RAM yang kian memburuk. Bagaimana krisis RAM berdampak ke banyak pihak secara global? Di bawah ini adalah penjelasannya.
1. Produsen RAM

Dampak pertama dari krisis dan pergeseran industri RAM dirasakan oleh produsen itu sendiri. Meningkatnya demand HBM dari perusahaan AI, berbagai produsen mulai mengesampingkan produksi RAM konsumen. Dilansir CNBC, brand Crucial hengkang dari industri RAM konsumer. Crusial sendiri merupakan brand yang berada di bawah naungan Micron, salah satu produsen RAM terbesar di dunia.
Laporan dari SamMobile juga menjelaskan bahwa Samsung akan menaikkan kapasitas produksi HMB untuk AI sebesar 50 persen di akhir tahun 2026. SK Hynix juga melakukan hal yang sama seperti Samsung. Menariknya, ada rumor yang menyatakan kalau ASUS akan mulai memproduksi RAM DDR secara mandiri. Hal tersebut dilakukan untuk mengatasi krisis RAM konsumer.
2. Produsen barang elektronik

Krisis RAM mempersulit dan memaksa produsen untuk mengambil langkah yang cukup ekstrem. Salah satunya adalah menaikan harga produk. Hampir semua produsen barang elektronik melakukannya, khususnya smartphone, laptop, dan PC. Dilansir GSMArena, harga smartphone akan naik secara bertahap di tahun 2026 mulai dari 8, 10, 15, 25, hingga 40 persen.
Di dunia laptop, berbagai produsen besar seperti Lenovo, ASUS, HP, dan Acer juga memberikan surat edaran terbuka. Di surat edaran tersebut mereka menyatakan kalau harga laptop akan mengalami kenaikan signifikan. Jadi sebelum harga naik konsumen disarankan untuk membeli laptop secepat mungkin. PC juga mengalami hal yang sama di mana kenaikan harganya serupa dengan laptop dan smartphone.
3. Konsumen

Tak hanya produsen, konsumen juga terdampak krisis dan kenaikan RAM. Laman My Computer Works menjelaskan bahwa variasi produk makin mengecil sehingga konsumen tak diberikan banyak pilihan. Harga yang naik juga memaksa konsumen untuk mengeluarkan budget lebih. Nantinya di harga yang tinggi konsumen juga belum tentu bisa mendapat barang berkualitas dengan spesifikasi tinggi. Maka dari itu sebagai konsumen kamu harus cerdas dan cermat saat melakukan pembelian smartphone, konsol gaming, laptop, PC, RAM, atau SSD di beberapa tahun mendatang.
4. Penjual RAM dan barang elektronik

Harga dari produsen sudah mengalami kenaikan, otomatis penjual juga ikut melakukannya. Hal ini sudah terlihat di berbagai tempat, entah itu marketplace seperti Shopee atau di toko resmi. Contohnya berbagai smartphone seperti POCO X7 Pro, TECNO Camon 40 Pro 5G, dan Motorola Edge 60 Fusion mengalami kenaikan harga hingga Rp1 jutaan. Sebelumnya ketiga smartphone tersebut dijual sekitar Rp3 jutaan. Namun, sekarang harganya naik menjadi Rp4 juta-Rp5 jutaan. RAM dan SSD Samsung yang sebelumnya dibanderol Rp100 ribu-Rp400 ribuan sekarang juga naik menjadi Rp300 ribu hingga jutaan rupiah.
5. Perusahaan AI

Pihak lain memang mengalami kerugian akibat krisis RAM, tetapi hal yang berbeda justru terjadi pada perusahaan AI. Sebagai pihak yang menyebabkan krisis RAM dan kenaikan harga, perusahaan AI justru berpesta pora. Mereka terus membeli memori dan HBM dari produsen. Berbagai sumber juga menjelaskan bahwa ada banyak perusahaan AI yang terus tumbuh dan profitnya naik. Mereka memesan banyak memori, terus mengembangkan teknologi, memberikan inovasi, dan akhirnya berujung pada keuntungan perusahaan. Perusahaan baru juga terus tumbuh dan hadir sehingga industri AI semakin ramai.
Di beberapa tahun ke depan krisis RAM tak bisa dihindarkan. Mau bagaimanapun antisipasinya, selama perusahaan AI terus merajalela dan memesan memori, maka krisis RAM akan tetap terjadi. Pihak yang terdampak krisis RAM juga sangat banyak. Secara global hal tersebut akan mengubah dinamika pasar. Alhasil berbagai pihak hanya bisa mengikuti tren sembari menyesuaikan diri dengan keadaan baru.


















