Review JBL Sense Lite: Open-Ear Earbuds untuk Aktivitas Harian

- Desain open-ear earbuds untuk aktivitas harian
- Kualitas audio yang seimbang dengan fitur Adaptive Bass Boost
- Baterai tahan lama hingga 8 jam pemakaian dan konektivitas Bluetooth 5.4
Open-ear earbuds kini makin populer, terutama di kalangan pengguna aktif yang ingin tetap waspada terhadap lingkungan sekitar tanpa harus melepas musik atau podcast favorit. Melihat kebutuhan itu, JBL menghadirkan Sense Lite sebagai opsi open-ear yang lebih terjangkau. Perangkat ini menyasar pelari, pesepeda, hingga komuter yang mengutamakan kenyamanan dan kesadaran situasional dibanding isolasi suara total.
Dibekali Bluetooth 5.4, kualitas panggilan yang solid, serta sertifikasi ketahanan IP54, JBL Sense Lite menjanjikan kepraktisan untuk penggunaan seharian. Berikut review singkat JBL Sense Lite.
1. Desain Open-Ear untuk ragam aktivitas

JBL Sense Lite mengusung desain ear-hook khas perangkat fitness, dengan pengait yang melingkar di belakang telinga tanpa menutup saluran telinga. Pendekatan ini ditujukan untuk pengguna aktif, mulai dari pelari, pesepeda, hingga siapa pun yang ingin tetap sadar dengan kondisi sekitar.
Posisi speaker bertumpu tepat di atas telinga yang memungkinkan musik tetap terdengar, sambil tetap memberi ruang bagi suara lalu lintas, percakapan, atau ambience gym masuk secara natural.
Dalam pemakaian jangka panjang, desain ini terasa ramah di telinga. Selama sekitar tiga jam penggunaan, Sense Lite tetap nyaman dan tidak menimbulkan rasa tertekan. Namun, bagi pengguna yang terbiasa dengan TWS in-ear konvensional, sensasi open-ear ini bisa terasa sedikit “asing” atau kurang “fit” di awal.
2. Kualitas audio
JBL Sense Lite dibekali driver dinamis berukuran 18 × 11 mm, lebih besar dibandingkan earbuds standar pada umumnya. Hasilnya adalah karakter suara yang cukup seimbang dengan bass yang terasa solid untuk kelas open-ear. Dukungan fitur Adaptive Bass Boost dari JBL juga membantu karena sistem ini menyesuaikan level bass secara otomatis dan real-time agar suara tetap terasa “hidup”.
Akan tetapi, karena desainnya terbuka, Sense Lite tidak menghadirkan kedalaman dan detail suara seperti TWS in-ear konvensional. Suara dari lingkungan sekitar tetap masuk, sehingga efek bass yang menggelegar memang tidak menjadi fokus.
Meski begitu, untuk kebutuhan lari, telepon, atau mendengarkan musik santai, kualitas audionya tergolong jelas dan nyaman. Lewat aplikasi JBL Headphones, pengguna juga bisa mengatur equalizer 10-band untuk memungkinkan penyesuaian suara sesuai selera maupun kondisi lingkungan sekitar.
3. Baterai tahan lama

Daya tahan baterai jadi salah satu nilai jual utama JBL Sense Lite. Setiap earbuds mampu bertahan hingga sekitar 8 jam pemakaian, sementara charging case menambah suplai daya hingga total sekitar 32 jam. Fitur fast charge juga cukup membantu.
Saat dicoba, pengisian daya selama 10 menit sudah cukup untuk sekitar tiga jam pemutaran, pas buat isi ulang kilat sebelum berangkat lari atau beraktivitas.
Ukuran case memang cenderung besar, wajar mengingat desain ear-hook pada earbuds-nya. Bobotnya relatif ringan meski materialnya terasa agak plasticky. Meski tidak menawarkan desain yang mencolok, case ini menjalankan fungsinya dengan baik, yaitu melindungi earbuds, menyimpan daya, dan mudah diselipkan ke dalam tas olahraga.
Proses pengisian penuh via USB-C memakan waktu sekitar dua jam, yang berarti sebagian besar pengguna hanya perlu mengisi ulang satu hingga dua kali dalam seminggu.
4. Konektivitas dan fitur
Di sisi konektivitas, JBL Sense Lite didukung Bluetooth 5.4 yang terasa stabil dalam penggunaan sehari-hari. Fitur multipoint pairing memungkinkan earbuds terhubung ke dua perangkat sekaligus. Ini cukup praktis buat pengguna aktif yang sering berpindah antara smartphone dan smartwatch saat berolahraga.
Untuk pengguna Android, proses pairing juga makin simpel berkat Fast Pair serta dukungan Google Find My Device, sehingga proses setup maupun pencarian earbuds jadi lebih cepat dan minim ribet.
Panggilan suara ditangani oleh sistem empat mikrofon dengan teknologi beamforming yang cukup memadai untuk menjaga suara tetap jelas, bahkan saat digunakan di luar ruangan dengan kondisi berangin. Desain “hydrodynamic windproof” untuk membantu meredam noise angin, meski belum sepenuhnya sempurna.
5. Harga dan perbandingan

JBL Sense Lite diposisikan sebagai open-ear earbuds entry-level yang menyasar pengguna aktif dengan bujet lebih terjangkau. Dibanderol Rp1.799.100, harganya berada di bawah pesaing utama seperti Shokz OpenMove Wireless yang dijual sekitar Rp2.400.00, serta terpaut cukup jauh dari Nothing Ear (Open) yang harganya mencapai Rp4.700.000.
Selisih harga ini membuat Sense Lite terlihat lebih ramah di kantong, terutama bagi pengguna yang ingin mencoba konsep open-ear tanpa investasi besar.
Dengan harga tersebut, JBL berhasil menempatkan Sense Lite sebagai opsi yang sangat kompetitif di kategori yang memang belum terlalu ramai. Untuk pelari, pesepeda, atau komuter yang penasaran dengan open-ear earbuds tapi belum siap merogoh kocek dalam, Sense Lite bisa menjadi pintu masuk yang masuk akal.
6. Yang Perlu Diperhatikan
Kekurangan utama JBL Sense Lite sebenarnya berakar pada konsep open-ear itu sendiri, yang bagi sebagian orang bisa jadi bukan kekurangan, tapi karakter desain. Sensasi pemakaian yang tidak “menyumbat” telinga membuat earbuds ini terasa agak canggung dan kurang “fit”, terutama bagi pengguna yang sudah terbiasa dengan TWS in-ear konvensional.
Selain itu, desain terbuka ini juga membuat Sense Lite kurang ideal dipakai di lingkungan yang sangat bising. Saat digunakan di jalanan Jakarta yang padat dan penuh suara, volume audio harus dinaikkan hingga level maksimum agar tetap terdengar jelas, yang pada akhirnya bisa mengurangi kenyamanan mendengarkan.
Di luar aspek desain, sisi kontrol juga masih bisa ditingkatkan. Touch control pada earbuds terasa kurang responsif dan minim kustomisasi, sehingga tidak selalu praktis saat digunakan sambil bergerak atau berolahraga.
JBL Sense Lite bisa jadi pilihan menarik bagi pengguna yang memprioritaskan kenyamanan, kesadaran lingkungan, dan harga yang relatif terjangkau di kategori open-ear earbuds. Desain ear-hook yang ringan, daya tahan baterai yang panjang, hingga kualitas suara yang cukup solid membuatnya cocok untuk pelari, pesepeda, atau komuter aktif.



















