7 Alasan Paling Tidak Masuk Akal Sebuah Game Dibatalkan

- Artikel membahas tujuh game terkenal yang dibatalkan karena alasan unik, mulai dari keputusan internal perusahaan hingga konflik kreatif antar pengembang.
- Beberapa contoh mencolok termasuk pembatalan Silent Hills akibat perseteruan Kojima-Konami, serta Agent dan Batman: The Dark Knight karena masalah teknis dan manajemen proyek.
- Kasus seperti Among Us 2 dan Assassin’s Creed: Civil War menunjukkan bagaimana faktor strategi bisnis dan isu politik juga bisa menggagalkan potensi besar dalam industri game.
Industri game merupakan salah satu industri paling tidak pasti di dunia. Bahkan, sekadar bisa merilis sebuah game, sekecil atau sejelek apapun itu, sudah bisa dibilang sebuah pencapaian luar biasa. Kondisi ini semakin berat dari tahun ke tahun, terbukti dari banyaknya game AAA yang butuh hampir satu dekade untuk sampai ke tangan pemain, belum lagi puluhan game yang terpaksa dibatalkan setiap tahunnya. Yang menarik, tidak semua game dibatalkan karena alasan yang masuk akal di mana banyak yang justru dibatalkan karena alasan yang aneh dan sulit dipahami. Berikut beberapa di antaranya.
1. Agent

Agent, game aksi stealth berlatar Perang Dingin garapan Rockstar Games yang diumumkan pada 2009, akhirnya dipastikan batal setelah bertahun-tahun menghilang tanpa kabar. Setelah sempat memicu spekulasi lewat perpanjangan merek dagang pada 2016, game ini secara perlahan dikonfirmasi telah dibatalkan, sebagian karena Rockstar memilih fokus menggarap GTA V.
Penjelasan lebih lengkap baru datang belakangan ini, ketika co-founder Rockstar yaitu Dan Houser, mengungkap bahwa Agent sudah melalui banyak iterasi yang gagal dan tim pengembang di Rockstar akhirnya menyimpulkan bahwa game open-world bertema spionase yang benar-benar bagus itu mustahil dibuat.
2. Batman: The Dark Knight
Game adaptasi film The Dark Knight karya Christopher Nolan sebenarnya punya potensi besar. Pandemic Studios bahkan sudah mulai mengembangkannya sebelum film tersebut selesai diproduksi. Rencananya bukan sekadar game adaptasi biasa, melainkan game open-world Batman yang ambisius, lengkap dengan pengisi suara dari para aktor/aktris filmnya. Sayangnya, game ini kandas gara-gara keputusan internal yang keliru.
Pandemic ngotot menggunakan game engine buatan mereka sendiri yang bernama Odin, padahal banyak asetnya sudah terlanjur dibuat dengan game engine lain. Akibatnya, pengembangan terus molor padahal EA menuntut game ini untuk rilis pada Desember 2008. Ketika Oktober 2008 tiba dan game ini jelas tidak akan selesai tepat waktu, EA akhirnya memutuskan untuk membatalkannya.
3. Silent Hills

Salah satu momen "what-if" paling menyakitkan di sepanjang sejarah industri gaming adalah nasib Silent Hills. Game ini seharusnya digarap oleh Hideo Kojima dan Guillermo del Toro, dengan Norman Reedus sebagai pemeran karakter utama. Silent Hills pertama kali diungkap secara mengejutkan di akhir demo P.T. yang legendaris pada 2014. Di tengah kondisi seri Silent Hill yang sudah lama meredup, kehadiran Kojima jelas membawa harapan nyata.
Sayangnya, semua impian itu runtuh pada April 2015 akibat konflik internal antara Kojima dan Konami di balik pengembangan Metal Gear Solid V: The Phantom Pain, yang berujung pada hengkangnya Kojima dari perusahaan tersebut pada Oktober di tahun yang sama. Meski detail perseteruannya tidak pernah terungkap sepenuhnya, keputusan Konami membatalkan Silent Hills tetap menjadi salah satu langkah paling memicu kekecewaan di kalangan pemain.
4. Among Us 2
Impian terbesar hampir semua studio game adalah menciptakan game yang sukses hingga berkembang menjadi sebuah seri. Among Us, game deduksi sosial buatan Innersloth, mungkin adalah contoh paling nyata dari impian itu. Meski ketika dirilis pada 2018 hampir tidak ada yang peduli, game ini meledak di 2020 ketika jutaan orang terjebak di rumah akibat pandemi. Euforia itu bahkan sempat mendorong Innersloth mengumumkan Among Us 2, sebelum akhirnya membatalkannya sendiri hanya sebulan kemudian.
Innersloth beralasan bahwa mereka lebih baik fokus menyempurnakan game pertama daripada memecah basis pemain menjadi dua. Keputusan ini terbilang langka di industri game, di mana publisher biasanya tidak akan melewatkan kesempatan untuk mengeksploitasi kesuksesan sebuah game. Hasilnya? Meski popularitas Among Us kini sudah jauh menurun, game ini telah menghasilkan lebih dari US$100 juta untuk Innersloth.
5. Pirates of the Carribean: Armada of the Damned

Pirates of the Caribbean: Armada of the Damned sebenarnya adalah game aksi RPG yang menjanjikan, dikembangkan oleh Propaganda Games dan berlatar sekitar satu dekade sebelum film pertamanya. Game ini diumumkan di E3 2009 dengan respons yang sangat positif, dan pada akhir 2010 pengembangannya sudah hampir rampung sepenuhnya. Sayangnya, Disney justru membuat keputusan yang sulit dipahami yaitu membatalkan game ini dan mengalihkan seluruh SDM Propaganda untuk merampungkan Tron: Evolution.
Langkah itu diambil demi agar game tersebut dirilis bersamaan dengan film Tron: Legacy pada Desember 2010. Hasilnya? Tron: Legacy gagal memenuhi ekspektasi box office, Tron: Evolution pun tidak disambut baik oleh para pemain maupun kritikus, sementara Armada of the Damned yang hampir selesai dikerjakan terpaksa dikubur begitu saja.
6. Assassin’s Creed: Civil War
Awal tahun ini, dilaporkan bahwa Ubisoft membatalkan sebuah game Assassin's Creed yang berlatar di Amerika Serikat pasca-Perang Saudara di tahun 1860–1870-an. Karakter utamanya disebut-sebut adalah seorang mantan budak kulit hitam yang kembali ke wilayah Selatan untuk memperjuangkan keadilan dan melawan Ku Klux Klan. Pembatalannya diduga dipicu oleh dua hal yaitu kontroversi seputar Yasuke, karakter samurai Afrika di Assassin's Creed Shadows serta kondisi politik Amerika Serikat yang tengah memanas.
Bahkan, salah satu sumber menyebut situasinya "terlalu politis di negara yang terlalu tidak stabil." Pembatalannya tentu sangat disayangkan, mengingat game ini menyajikan salah satu premis paling fresh dan berani yang pernah ada di dalam serinya. Pada akhirnya, Ubisoft memilih untuk mengalah pada tekanan dan pemain berakhir kehilangan game Assassin’s Creed yang bisa jadi luar biasa.
7. Project Ragtag

Project Ragtag adalah game aksi petualangan bertema Star Wars yang dikembangkan oleh Visceral Games dengan Amy Hennig (co-creator Uncharted) sebagai sutradara. Game ini dirancang sebagai petualangan sinematik berlatar pasca-Star Wars IV dan sudah tiga tahun dalam pengembangan ketika akhirnya diumumkan ke publik pada 2016. Sayangnya, kesuksesan besar Star Wars Battlefront yang berfokus pada multiplayer membuat EA mulai mengalihkan perhatian dan SDM mereka, hingga akhirnya Visceral Games ditutup pada akhir 2017.
Game ini sempat dilanjutkan oleh EA Vancouver dengan pendekatan berbeda yaitu lebih open-world dan kurang linear, namun versi itu pun ikut dibatalkan pada awal 2019, tepat ketika EA memilih fokus menggarap Star Wars Jedi: Fallen Order. Ironis memang, karena game yang terlihat begitu menjanjikan ini malah harus dikubur demi mengejar tren game open-world.
Demikian tadi ulasan mengenai beberapa alasan paling tidak masuk akal sebuah game dibatalkan. Dari 7 game di atas, mana yang menurutmu paling layak untuk dihidupkan lagi?









![[QUIZ] Dari Sistem Operasi yang Kamu Pilih, Ini Karakter Aslimu](https://image.idntimes.com/post/20230209/arnel-hasanovic-4owsxdeas2g-unsplash-b33ed076225ba7c108c6816d368a5627.jpg)








