Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Harga Steam Deck OLED Naik Nyaris Rp5 Juta, Apa Sebabnya?
ilustrasi Steam Deck OLED (unsplash.com/Georgiy Lyamin)
  • Harga Steam Deck OLED naik hampir Rp5 juta, dengan model 512 GB kini mencapai sekitar Rp14 juta dan varian 1 TB menembus Rp16,9 juta.
  • Kenaikan harga juga terjadi pada konsol lain seperti Xbox Series, PlayStation 5 Pro, dan Nintendo Switch 2, menunjukkan tren global di industri gaming.
  • Krisis RAM akibat lonjakan kebutuhan pusat data AI serta fluktuasi nilai tukar dolar menjadi faktor utama meningkatnya biaya produksi perangkat gaming.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Industri game tengah memasuki masa yang semarak berkat kehadiran berbagai judul baru sepanjang 2026. Antusiasme pemain pun kembali meningkat seiring banyaknya game yang dirilis untuk berbagai platform. Namun, keseruan tersebut tidak sepenuhnya dirasakan oleh semua orang, terutama mereka yang belum memiliki perangkat gaming.

Di tengah ramainya peluncuran game baru, harga perangkat keras justru terus merangkak naik. Tahun 2026 menjadi periode yang cukup berat bagi calon pembeli konsol maupun handheld gaming. Steam Deck OLED menjadi salah satu perangkat yang mengalami kenaikan harga paling mencolok dalam beberapa waktu terakhir.

1. Harga Steam Deck OLED melonjak drastis

ilustrasi Steam Deck OLED (unsplash.com/Georgiy Lyamin)

Dihimpun dari situs Polygon, Senin (1/6/2026), Valve resmi mengumumkan kenaikan harga Steam Deck secara signifikan. Model Steam Deck OLED 512 GB yang sebelumnya dibanderol 549 dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp9,8 juta kini naik menjadi 789 dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp14 juta. Artinya, terdapat selisih harga hampir Rp5 juta hanya dalam satu kali penyesuaian.

Kenaikan lebih besar terjadi pada model Steam Deck OLED 1 TB. Varian tersebut kini dijual seharga 949 dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp16,9 juta setelah mengalami kenaikan 300 dolar Amerika Serikat. Lonjakan harga itu membuat Steam Deck semakin jauh dari citranya sebagai perangkat gaming portabel yang relatif terjangkau.

2. Konsol game lain ikut mengalami kenaikan harga

Xbox Series X (unsplash.com/Billy Freeman)

Steam Deck bukan satu-satunya perangkat yang terdampak tren kenaikan harga hardware. Dalam beberapa waktu terakhir, hampir seluruh produsen konsol besar melakukan penyesuaian harga pada produk andalannya. Situasi ini menunjukkan bahwa masalah yang terjadi bukan hanya dialami oleh Valve.

Microsoft lebih dulu menaikkan harga seluruh lini Xbox Series S dan Xbox Series X. Sony kemudian menyusul lewat kenaikan harga PlayStation 5 Pro yang kini mencapai 900 dolar Amerika Serikat atau Rp16 juta. Nintendo juga meningkatkan harga Switch 2 menjadi 500 dolar Amerika Serikat atau Rp8,9 juta sehingga tren kenaikan harga kini terjadi hampir di seluruh pasar konsol modern.

Meski mengalami kenaikan, harga Nintendo Switch 2 masih terlihat lebih rendah dibandingkan Steam Deck OLED terbaru. Kondisi ini menunjukkan betapa besar lonjakan harga yang diterapkan Valve pada perangkat handheld miliknya. Banyak pihak menilai Valve sebenarnya hanya mengikuti tren yang lebih dulu dilakukan para pesaingnya.

3. Krisis RAM dan AI jadi faktor utama harga konsol game naik

ilustrasi RAM (unsplash.com/Harrison Broadbent)

Banyak gamer mungkin bertanya-tanya, apa sebenarnya yang menyebabkan harga konsol game naik hampir bersamaan di berbagai merek? Sekilas, sebagian orang mungkin menganggap produsen hanya ingin meraup keuntungan lebih besar. Namun, situasinya jauh lebih kompleks karena melibatkan faktor ekonomi global dan kondisi industri teknologi.

Salah satu pemicunya adalah kebijakan tarif impor yang diberlakukan Presiden Donald Trump terhadap sejumlah negara basis manufaktur perangkat elektronik. Meskipun kebijakan tersebut tidak sepenuhnya berjalan sesuai rencana, dampaknya menciptakan ketidakpastian bagi produsen hardware. Kondisi ini membuat biaya produksi dan distribusi menjadi lebih sulit diprediksi.

Faktor lain yang dinilai lebih mendesak adalah krisis RAM yang tengah melanda industri komputasi global. Perusahaan teknologi saat ini berlomba membangun pusat data AI yang membutuhkan kapasitas memori dalam jumlah sangat besar. Tingginya permintaan tersebut memicu tekanan pada rantai pasok komponen memori dan membuat biaya produksi perangkat elektronik ikut meningkat.

Produsen chip memori pun lebih tertarik memasok kebutuhan pusat data karena menawarkan keuntungan yang lebih besar. Akibatnya, pasokan RAM untuk produk konsumen menjadi lebih terbatas dibandingkan sebelumnya. Kelangkaan ini membuat biaya produksi konsol, laptop, hingga perangkat handheld ikut meningkat.

Di Indonesia, dampaknya terasa lebih besar karena dipengaruhi fluktuasi nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah. Saat kurs dolar menguat, harga perangkat impor otomatis ikut terkerek naik. Kondisi tersebut membuat selisih harga yang dirasakan konsumen lokal menjadi semakin besar.

4. Industri game kian sulit dijangkau

ilustrasi game controller yang berada di sebelah smartphone (unsplash.com/Ryland Dean)

Kenaikan harga perangkat gaming berpotensi mengurangi jumlah pemain baru yang masuk ke ekosistem game. Padahal, developer dan publisher game membutuhkan basis pengguna yang besar agar investasi pengembangan dapat kembali. Jika harga konsol terus meningkat, akses terhadap hobi ini bisa menjadi semakin terbatas bagi banyak orang.

Masalahnya, tidak hanya dirasakan calon pembeli perangkat baru. Pemilik konsol generasi lama juga menghadapi tekanan untuk melakukan upgrade karena sejumlah game mulai meninggalkan perangkat lawas. Situasi ini membuat biaya untuk tetap mengikuti perkembangan industri game menjadi semakin tinggi.

Salah satu contohnya adalah Call of Duty: Warzone yang secara bertahap menghentikan dukungan untuk konsol generasi sebelumnya. Pemain yang masih menggunakan perangkat lama pada akhirnya harus beralih ke hardware yang lebih baru. Langkah tersebut tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit di tengah harga konsol yang terus naik.

Sayangnya, belum banyak solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi situasi ini dalam waktu dekat. Dampak krisis komponen dan kenaikan biaya produksi diperkirakan masih akan terasa selama beberapa tahun ke depan. Kondisi tersebut menjadi kabar buruk bagi gamer yang sudah terbebani harga game modern yang semakin mahal.

Untuk saat ini belum ada solusi cepat yang dapat mengembalikan harga konsol ke level yang lebih terjangkau. Pasar hanya bisa menunggu hingga krisis RAM mereda dan pasokan komponen kembali stabil. Jika permintaan dari industri AI mulai menurun, harga konsol dan perangkat gaming berpeluang turun ke level yang lebih masuk akal dalam beberapa tahun mendatang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article