ilustrasi RAM (unsplash.com/Harrison Broadbent)
Banyak gamer mungkin bertanya-tanya, apa sebenarnya yang menyebabkan harga konsol game naik hampir bersamaan di berbagai merek? Sekilas, sebagian orang mungkin menganggap produsen hanya ingin meraup keuntungan lebih besar. Namun, situasinya jauh lebih kompleks karena melibatkan faktor ekonomi global dan kondisi industri teknologi.
Salah satu pemicunya adalah kebijakan tarif impor yang diberlakukan Presiden Donald Trump terhadap sejumlah negara basis manufaktur perangkat elektronik. Meskipun kebijakan tersebut tidak sepenuhnya berjalan sesuai rencana, dampaknya menciptakan ketidakpastian bagi produsen hardware. Kondisi ini membuat biaya produksi dan distribusi menjadi lebih sulit diprediksi.
Faktor lain yang dinilai lebih mendesak adalah krisis RAM yang tengah melanda industri komputasi global. Perusahaan teknologi saat ini berlomba membangun pusat data AI yang membutuhkan kapasitas memori dalam jumlah sangat besar. Tingginya permintaan tersebut memicu tekanan pada rantai pasok komponen memori dan membuat biaya produksi perangkat elektronik ikut meningkat.
Produsen chip memori pun lebih tertarik memasok kebutuhan pusat data karena menawarkan keuntungan yang lebih besar. Akibatnya, pasokan RAM untuk produk konsumen menjadi lebih terbatas dibandingkan sebelumnya. Kelangkaan ini membuat biaya produksi konsol, laptop, hingga perangkat handheld ikut meningkat.
Di Indonesia, dampaknya terasa lebih besar karena dipengaruhi fluktuasi nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah. Saat kurs dolar menguat, harga perangkat impor otomatis ikut terkerek naik. Kondisi tersebut membuat selisih harga yang dirasakan konsumen lokal menjadi semakin besar.