Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Produk Nintendo yang Gagal di Pasaran, Ada Virtual Boy

5 Produk Nintendo yang Gagal di Pasaran, Ada Virtual Boy
Nintendo Labo (nintendo.com)
Intinya Sih
  • Nintendo pernah gagal lewat produk seperti Virtual Boy, Wii U, dan Nintendo Labo.

  • Kebanyakan produk gagal karena pemasaran membingungkan, minim game, atau konsep kurang nyaman dipakai.

  • Meski gagal secara komersial, beberapa produknya kini jadi barang koleksi retro bernilai tinggi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Nintendo dikenal sebagai salah satu perusahaan game paling inovatif dalam sejarah industri gaming. Berbagai produk mereka, seperti Game Boy, Wii, hingga Nintendo Switch, berhasil mengubah cara orang bermain game dari generasi ke generasi. Kesuksesan tersebut membuat Nintendo memiliki reputasi kuat sebagai perusahaan yang berani bereksperimen.

Namun, tidak semua eksperimen Nintendo berhasil diterima pasar. Beberapa produk mereka justru mengalami kegagalan penjualan meski memiliki konsep yang sangat unik. Berikut ini lima produk Nintendo yang gagal secara komersial dan menuai kritik. 

1. Virtual Boy (1995)

Virtual Boy for Nintendo Switch
Virtual Boy for Nintendo Switch (nintendo.com)

Virtual Boy meluncur pada 1995 sebagai konsol dengan efek visual 3D sederhana. Perangkat ini memakai tampilan warna merah hitam yang sangat khas dibanding konsol lain pada masanya. Nintendo ingin menghadirkan pengalaman bermain yang terasa futuristik dan berbeda dari gaming tradisional.

Sayangnya, Virtual Boy justru mendapat banyak kritik setelah rilis. Sebagian pemain mengeluhkan rasa pusing dan sakit mata setelah bermain cukup lama. Minimnya game menarik dan desain perangkat yang kurang nyaman membuat penjualannya gagal total di pasaran.

2. Wii U (2012)

Wii U
Wii U (nintendo.com)

Wii U hadir sebagai penerus Wii dengan controller layar sentuh bernama GamePad. Nintendo mencoba menghadirkan pengalaman bermain dua layar melalui kombinasi televisi dan layar controller. Konsep tersebut sebenarnya cukup inovatif untuk ukuran awal 2010-an.

Namun, pemasaran Wii U dianggap sangat membingungkan bagi konsumen umum. Banyak orang mengira Wii U hanyalah aksesori tambahan untuk Wii lama, bukan konsol generasi baru. Dukungan third-party game yang lemah juga membuat Wii U sulit bersaing melawan PlayStation 4 dan Xbox One.

4. Nintendo 64DD (1999)

ilustrasi Nintendo 64
ilustrasi Nintendo 64 (unsplash.com/@patsn)

Nintendo 64DD merupakan add-on untuk Nintendo 64 yang menggunakan media diska magnetik. Perangkat ini dirancang agar pemain memiliki penyimpanan lebih besar dibanding cartridge biasa. Nintendo juga sempat merancang fitur daring dan editing konten sederhana untuk produk tersebut. Sayangnya, Nintendo 64DD mengalami penundaan panjang sebelum peluncuran. Ketika produk tersebut hadir, popularitas Nintendo 64 sudah mulai menurun di pasaran. Jumlah game pendukung yang sangat sedikit membuat Nintendo 64DD gagal menarik perhatian gamer.

4. Game Boy Micro (2005)

Game Boy Micro
Game Boy Micro (commons.wikimedia.org/Evan-Amos)

Game Boy Micro hadir dengan desain kecil dan tampilan premium yang cukup modern pada masanya. Nintendo membuat handheld ini agar lebih praktis dibawa ke mana-mana dibanding Game Boy standar. Layarnya juga cukup tajam dan casing-nya terlihat stylish untuk ukuran perangkat portabel.

Akan tetapi, perangkat ini meluncur ketika era Nintendo DS sudah mulai booming. Mayoritas gamer lebih tertarik membeli handheld generasi baru dibanding Game Boy Micro. Ukuran layar yang terlalu kecil menjadi salah satu kritik terbesar terhadap konsol ini.

5. Nintendo Labo (2018)

Nintendo Labo
Nintendo Labo (nintendo.com)

Nintendo Labo menjadi eksperimen unik yang menggabungkan Nintendo Switch dengan mainan kardus interaktif. Pengguna dapat merakit piano, robot, setir mobil, dan berbagai bentuk lain dari bahan karton. Konsep ini membuat Nintendo Labo terlihat sangat kreatif dan edukatif. 

Meski sempat viral saat pertama diumumkan, popularitas Nintendo Labo tidak bertahan lama. Harga produk dan proses perakitan dianggap cukup merepotkan bagi sebagian konsumen. Material kardus yang mudah rusak membuat banyak orang ragu membeli produk ini untuk jangka panjang. Selain itu, Labo dikritik karena dianggap terlalu mahal untuk ukuran produk yang materialnya terbuat dari kardus.

Meski gagal, beberapa produk Nintendo justru berubah menjadi barang koleksi bernilai tinggi di kalangan penggemar game retro. Hal ini membuktikan bahwa keberanian Nintendo bereksperimen kadang membuat produk mereka tetap dikenang meski tidak selalu sukses secara komersial. Adakah yang kamu punya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎

Related Articles

See More