Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
AI Google Ternyata Tak Bisa Mengeja Kata 'Google', kok Bisa?
ilustrasi logo Google (unsplash.com/Mitchell Luo)
  • AI Overview milik Google jadi sorotan karena salah mengeja dan menghitung huruf pada kata sederhana, termasuk nama 'Google', yang memicu perbincangan luas di media sosial.
  • Kesalahan terjadi karena model bahasa AI tidak membaca huruf satu per satu seperti manusia, melainkan memproses teks sebagai token atau pola bahasa berdasarkan data pelatihan.
  • Fenomena ini menyoroti paradoks AI modern: mampu memahami konteks dan menjawab pertanyaan kompleks, tetapi masih keliru dalam tugas dasar seperti menghitung jumlah huruf.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Fitur AI Overview milik Google kembali menjadi sorotan setelah sejumlah pengguna menemukan kesalahan yang cukup unik. Teknologi kecerdasan buatan tersebut diketahui beberapa kali memberikan jawaban keliru saat diminta menghitung atau mengeja huruf pada sejumlah kata, termasuk nama "Google" sendiri. Temuan ini ramai dibahas di media sosial setelah pengguna menguji kemampuan AI Overview dalam menghitung jumlah huruf pada sebuah kata. Alih-alih memberikan jawaban yang tepat, AI justru beberapa kali menghasilkan respons yang kurang akurat.

Mengutip laporan TechCrunch, Minggu (31/5/2026), AI Overview bahkan pernah menyebut bahwa kata "Google" memiliki dua huruf "P". Dalam percobaan lain, AI juga salah menghitung jumlah huruf pada kata "poop" dan "journalism". AI menyatakan terdapat satu huruf "r" dalam kata "poop" serta dua huruf "d" dalam kata "journalism", yang bahkan dieja sebagai "journadism".

Meski terdengar lucu dan mengundang gelak tawa, kesalahan ini kembali memunculkan pertanyaan mengenai akurasi AI generatif yang kini semakin banyak digunakan dalam layanan pencarian maupun berbagai aktivitas sehari-hari.

1. Mengapa AI Overview kesulitan mengeja kata sederhana?

Kesalahan ejaan pada AI sebenarnya bukan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, pengguna berbagai chatbot berbasis kecerdasan buatan kerap menguji kemampuan model dengan tugas sederhana, seperti menghitung jumlah huruf dalam sebuah kata. Menariknya, model yang mampu menulis kode komputer, merangkum informasi kompleks, hingga menjawab pertanyaan rumit justru terkadang keliru saat diminta melakukan tugas dasar seperti menghitung huruf.

Penyebabnya terletak pada cara kerja Large Language Model (LLM), teknologi yang menjadi fondasi berbagai chatbot modern. Berbeda dengan manusia yang membaca huruf satu per satu, AI tidak memproses teks secara langsung dalam bentuk karakter. Sebaliknya, sistem memecah teks menjadi unit-unit yang disebut token.

Token dapat berupa kata utuh, potongan kata, maupun gabungan karakter tertentu yang kemudian diubah menjadi representasi numerik untuk diproses oleh model. Akibatnya, kata seperti "Google" tidak selalu dipahami sebagai susunan huruf G-O-O-G-L-E. Kata tersebut lebih sering diproses sebagai pola bahasa yang memiliki makna tertentu berdasarkan data yang telah dipelajari AI selama proses pelatihan.

2. AI tidak membaca teks seperti manusia

ilustrasi logo AI (magnific.com/vwalakte)

Peneliti AI sekaligus Asisten Profesor di University of Alberta, Matthew Guzdial, menjelaskan bahwa model bahasa tidak benar-benar membaca teks seperti manusia. Ketika pengguna mengajukan pertanyaan, teks terlebih dahulu diterjemahkan menjadi representasi angka yang kemudian diproses untuk menghasilkan respons yang dianggap paling relevan. Karena itu, saat diminta menghitung jumlah huruf dalam sebuah kata, AI sebenarnya sedang mengerjakan tugas yang bukan menjadi kekuatan utamanya.

Model bahasa dirancang untuk mengenali pola, memahami konteks, dan memprediksi kata berikutnya berdasarkan kemungkinan statistik. Lewat mekanisme tersebut, AI sering kali mampu memahami maksud pengguna meskipun terdapat salah ketik atau susunan kalimat yang kurang tepat. Namun, kemampuan memahami konteks tidak selalu diikuti kemampuan untuk melakukan analisis huruf secara presisi. Inilah alasan mengapa AI terkadang bisa menjawab pertanyaan kompleks dengan baik, tetapi justru melakukan kesalahan pada tugas yang tampak sederhana bagi manusia.

3. Ketika AI unggul memahami bahasa, tetapi gagal menghitung huruf

ilustrasi Google Search (pexels.com/Sanket Mishra)

Kasus AI Overview ini menunjukkan salah satu paradoks dalam perkembangan kecerdasan buatan modern. Di satu sisi, AI mampu membantu pengguna menemukan informasi dengan cepat, memahami maksud pencarian yang kurang tepat, bahkan memberikan ringkasan jawaban secara instan. Misalnya, ketika pengguna salah mengetik suatu istilah di mesin pencari, AI sering kali tetap dapat memahami konteks pencarian dan menampilkan hasil yang relevan. Kemampuan tersebut dimungkinkan karena AI dilatih menggunakan data dalam jumlah sangat besar untuk mengenali pola bahasa.

Namun, sistem yang sama bisa saja menghasilkan jawaban keliru ketika diminta menghitung jumlah huruf dalam sebuah kata. Hal ini terjadi karena AI pada dasarnya bekerja dengan memprediksi respons yang paling mungkin muncul berdasarkan pola yang telah dipelajari, bukan memahami informasi dengan cara yang sama seperti manusia. Fenomena serupa sebenarnya tidak hanya terjadi pada AI Overview milik Google. Berbagai model AI generatif lain juga pernah mengalami kesalahan sejenis karena menggunakan prinsip kerja model bahasa yang relatif sama.

Meski semakin canggih, AI generatif tetap bisa melakukan kesalahan, bahkan pada hal-hal yang terlihat sederhana. Kasus AI Overview Google ini menjadi pengingat bahwa pengguna tetap perlu bersikap kritis dan memverifikasi informasi yang dihasilkan AI.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article