Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Alasan Mengapa Banyak Orang Menghindari Windows 11
ilustrasi Windows 11 (dok. Microsoft)
  • Windows 11 dinilai lambat di laptop lawas karena proses latar belakang lebih berat, meski memenuhi RAM minimum; sebagian pengguna memilih Windows 10, Linux, atau ChromeOS Flex.
  • Bloatware, Start Menu yang dianggap kurang praktis, serta pembaruan yang kerap memicu gangguan membuat pengalaman penggunaan Windows 11 dinilai kurang bersih dan andal.
  • Integrasi AI seperti Copilot dan Recall, pengumpulan data, serta dorongan memakai akun Microsoft memicu kekhawatiran privasi dan membuat sebagian pengguna merasa fitur tersebut tidak diperlukan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Hampir lima tahun sejak dirilis, Windows 11 tampaknya belum mencapai tingkat penerimaan yang diharapkan Microsoft. Sebagian pengguna masih enggan melakukan upgrade, sementara yang sudah beralih pun ada yang kembali ke Windows 10 atau memilih OS lain yang lebih ringan karena merasa Windows 11 lebih lambat di PC lawas dan kerap bermasalah setelah di-update. Integrasi AI seperti Copilot dan Recall juga menimbulkan kekhawatiran, terutama terkait privasi dan pelacakan data. Selain itu, pengguna juga mengeluhkan fitur pencarian yang lambat, Start Menu yang kurang praktis, opsi kustomisasi Taskbar yang terbatas, kewajiban menggunakan akun Microsoft ketika instalasi, serta iklan yang mengganggu. Berikut ulasan lebih lengkapnya.

1. Masalah performa di laptop lawas

ilustrasi laptop lawas (Unsplash/Clastr Cloud Gaming)

Salah satu keluhan terbesar pengguna Windows 11 adalah performanya yang lambat di laptop lawas, terutama yang masih menggunakan RAM 4-8GB. Meski secara resmi Windows 11 hanya membutuhkan RAM minimal 4GB, penggunaan sehari-hari sering terasa berat karena proses latar belakangnya memakan lebih banyak memori dibandingkan Windows 10, sehingga aplikasi, File Explorer dan berbagai aktivitas lain bisa berjalan lebih lambat. Masalah performa ini memang bisa diatasi dengan menonaktifkan sejumlah aplikasi ketika startup, mengurangi animasi, memperbarui driver, mematikan layanan yang tidak penting, membersihkan penyimpanan, tetapi tidak semua pengguna ingin repot melakukannya. Karena itu, OS lain yang lebih ringan seperti Linux dan ChromeOS Flex mulai dipilih sebagai alternatif menarik.

2. Hadir dengan segudang bloatware

Windows 11 dinilai semakin dipenuhi bloatware alias aplikasi bawaan yang sebenarnya tidak terlalu berguna, namun baik Microsoft maupun brand laptop atau PC sering menambahkannya. Selain memakan ruang penyimpanan serta sumber daya di latar belakang, tampilan Windows 11 juga dianggap semakin “gemuk”, terutama pada Start Menu yang dipenuhi berbagai aplikasi tidak penting. Alhasil, karena pengalaman penggunaan terasa kurang bersih dan praktis sejak awal, sebagian pengguna memilih tetap menggunakan Windows 10 atau beralih ke Linux dan macOS daripada harus repot menghapus berbagai aplikasi yang tidak mereka butuhkan.

3. Windows Update masih menjadi masalah

ilustrasi Windows Update (Unsplash/Clint Patterson)

Selama ini, Windows Update selalu dianggap penting karena bisa meningkatkan keamanan, performa dan menambahkan fitur baru. Namun pada Windows 11, fitur penting ini justru kerap menimbulkan masalah sehingga banyak pengguna memilih untuk kembali ke Windows 10 atau beralih ke OS lain. Tak sedikit pula yang akhirnya harus mencopot update yang bermasalah atau melakukan System Restore, sementara sebagian pengguna memilih menunggu beberapa hari setelah update dirilis untuk memastikan tidak ada laporan gangguan. Situasi ini membuat Windows 11 dianggap kurang bisa diandalkan dibandingkan Windows 10 maupun OS populer lainnya, dan menjadi salah satu alasan utama pengguna mulai meninggalkannya.

4. Tidak semua pengguna menyukai integrasi AI

Dalam beberapa tahun terakhir, AI berkembang pesat dan mulai menjadi bagian dari berbagai aktivitas. Namun, integrasi AI di Windows 11 justru terasa terlalu dipaksakan bagi sebagian pengguna. Kehadiran aplikasi Copilot khusus, fitur AI di Paint dan Notepad, shortcut Copilot pada context menu hingga fitur Recall yang sempat menuai kontroversi membuat banyak orang merasa Microsoft terlalu berfokus pada AI, disaat masalah seperti performa dan stabilitas sistem masih menghantui Windows 11. Meski beberapa fitur tersebut memang berguna, banyak pengguna menilai sebagian besar diantaranya tidak terlalu diperlukan. Kini, Microsoft dikabarkan mulai mengurangi penerapan AI di sistem operasi mereka, kemungkinan sebagai upaya untuk menarik kembali pengguna yang meninggalkan Windows 11.

5. Ada kekhawatiran soal privasi pengguna

ilustrasi menggunakan Windows 11 (Unsplash/Windows)

Pengumpulan data dan fitur terkait privasi menjadi salah satu alasan sebagian pengguna meninggalkan Windows 11. Mereka menilai sistem operasi ini mengumpulkan terlalu banyak informasi, sementara Windows 10 juga bukan solusi jangka panjang karena masa dukungannya telah berakhir dan program Extended Security Updates (ESU) hanya berlaku sementara. Meski sebagian data memang diperlukan Microsoft untuk mendiagnosis serta memperbaiki masalah, pengumpulan data di luar kebutuhan tersebut tetap menimbulkan kekhawatiran bagi pengguna yang peduli privasi. Kewajiban atau dorongan untuk login menggunakan akun Microsoft turut memperburuk keadaan, karena membuat pengguna semakin sulit memisahkan PC mereka dari ekosistem Microsoft.

Itulah tadi ulasan mengenai beberapa alasan mengapa banyak orang menghindari Windows 11. Apakah kamu termasuk pengguna yang menghindari Windows 11?

Curated For You

Editorial Team

Related Article