Kehadiran bola pintar menjadi bagian dari upaya FIFA memanfaatkan AI dan teknologi pelacakan untuk membantu wasit mengambil keputusan dengan lebih cepat dan akurat. Namun, langkah tersebut hadir di tengah perdebatan panjang mengenai penggunaan teknologi dalam sepak bola, terutama sejak diperkenalkannya Video Assistant Referee (VAR). Mengutip SBS News, sebuah survei yang dilakukan Football Supporters' Association pada 2026 terhadap hampir 8.000 penggemar Liga Primer Inggris menunjukkan bahwa lebih dari tiga perempat responden menolak penggunaan VAR. Bahkan, lebih dari 90 persen di antaranya menilai teknologi tersebut telah menghilangkan kegembiraan spontan saat merayakan gol.
Para pengkritik berpendapat bahwa teknologi belum sepenuhnya menghilangkan keputusan kontroversial dalam sepak bola. Sebaliknya, teknologi dianggap hanya memindahkan kontroversi ke proses peninjauan yang lebih panjang dan membuat selebrasi gol harus tertunda. Meski demikian, FIFA tetap melangkah maju dengan berbagai inovasi baru tersebut. Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026 akan menjadi edisi terbesar sepanjang sejarah. Sebanyak 48 tim akan berpartisipasi dan memainkan total 104 pertandingan.
Pada akhirnya, keputusan akhir tetap berada di tangan wasit. Teknologi hanya berfungsi sebagai alat bantu, sementara interpretasi terhadap berbagai insiden di lapangan masih memerlukan penilaian manusia. Sensor mungkin mampu melacak posisi bola hingga hitungan milimeter, tetapi tidak bisa mengukur semangat juang pemain, magisnya tendangan bebas di menit-menit akhir, atau air mata kebahagiaan setelah gol penentu kemenangan tercipta.
Kalau menurut kamu, keberadaan bola pintar dan AI di Piala Dunia 2026 akan membuat pertandingan sepak bola lebih adil atau justru mengurangi romantisme yang selama ini membuat olahraga sepak bola dicintai miliaran orang di seluruh dunia?