Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Bagaimana Cara Aplikasi dan Website Mengumpulkan Data Pengguna?

pexels-pixabay-533446.jpg
ilustrasi aplikasi (pexels.com/Pixabay)
Intinya sih...
  • Aplikasi membutuhkan data pengguna untuk alasan sah, seperti autentikasi, optimasi pengalaman pengguna, pemecahan masalah kinerja, dan kepatuhan hukum.
  • Metode utama pengumpulan data pengguna meliputi cookies, tracking pixels, device fingerprinting, izin akses di aplikasi, sensor dan aktivitas latar belakang, serta SDK.
  • Aplikasi mengumpulkan terlalu banyak data pengguna karena iklan dan monetisasi, pelatihan algoritma AI, persaingan dengan kompetitor, kerja sama dengan pemerintah, dan penimbunan data.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernah merasa setelah cari satu barang di internet, tiba-tiba iklannya muncul di mana-mana? Mulai dari media sosial sampai aplikasi belanja, semuanya seolah tahu apa yang kamu butuhkan.

Fenomena ini bukan kebetulan. Di balik layar, aplikasi dan website memiliki cara sendiri untuk mengumpulkan data penggunanya, mulai dari kebiasaan browsing, klik, hingga lokasi. Proses ini berjalan pelan tapi konsisten, sering kali tanpa kita sadari, dan jadi bagian penting dari cara platform digital bekerja saat ini. Yuk, kita bahas cara aplikasi dan website mengumpulkan data pengguna dan kenapa mereka melakukannya!

1. Alasan sah mengapa aplikasi membutuhkan data pengguna

Sebenarnya, aplikasi memiliki alasan yang sah untuk mengumpulkan data pengguna. Alasan-alasan tersebut meliputi:

  • Autentikasi dan keamanan - Nama dan alamat email adalah data umum yang digunakan untuk autentikasi yang sangat penting untuk keamanan. Langkah-langkah tambahan seperti autentikasi dua faktor mungkin memerlukan nomor telepon pengguna untuk mengirimkan kode.
  • Optimasi pengalaman pengguna - Setiap aplikasi yang baik melibatkan optimasi berbasis analitik untuk memberikan pengalaman terbaik kepada pengguna. Ini artinya mereka mungkin akan melacak perjalanan pelanggan digital dan data perilaku pengguna, seperti tampilan layar, klik tombol, waktu yang dihabiskan di berbagai bagian, dan pola navigasi. Pengembang kemudian dapat menggunakan data ini untuk menentukan fitur yang paling bermanfaat dalam aplikasi dan mengoptimalkannya sesuai kebutuhan.
  • Memecahkan masalah kinerja - Biasanya, aplikasi mengumpulkan data kinerja teknis, seperti laporan kerusakan, waktu loading aplikasi, kecepatan rendering layar, dan penggunaan baterai. Data ini berguna untuk memperbaiki bug kinerja dan memastikan aplikasi berjalan lancar. 
  • Kepatuhan dan persyaratan hukum - Terkadang, aplikasi dapat mengumpulkan data untuk memenuhi persyaratan peraturan. Misalnya, lembaga keuangan seperti bank dan bursa kripto harus mematuhi hukum KYC (Know Your Customer) dan AML (Anti-Money Laundering). Ini berarti mengumpulkan informasi pribadi tambahan seperti nomor jaminan sosial, alamat, dan foto.

2. Metode utama yang dilakukan untuk mengumpulkan data pengguna

Aplikasi dan situs web menggunakan teknik canggih untuk mengumpulkan informasi tentang perilaku online pengguna, seringkali tanpa pemberitahuan eksplisit:

  • Cookies - file kecil yang disimpan di browser saat kamu membuka website. Fungsinya untuk melacak aktivitasmu, misalnya halaman apa yang dikunjungi, barang di keranjang belanja, atau berapa lama kamu membuka satu halaman.
  • Tracking pixels (pixel pelacak) - ini adalah gambar super kecil yang tidak terlihat, tapi aktif saat halaman atau email dibuka. Dari sini, platform bisa mengetahui apakah email dibuka, link diklik, atau berapa lama kamu berada di halaman tertentu.
  • Device fingerprinting - metode ini membuat “sidik jari digital” dari perangkatmu—berdasarkan jenis browser, resolusi layar, font, sampai plugin yang terpasang. Bedanya dengan cookies, cara ini tetap bisa melacak pengguna meskipun menggunakan mode incognito atau memblokir cookies.
  • Izin akses di aplikasi - aplikasi biasanya minta izin akses ke lokasi, kontak, kamera, mikrofon, atau ID perangkat. Begitu kamu menekan “izinkan”, data itu bisa dikumpulkan secara terus-menerus, termasuk saat aplikasi berjalan di latar belakang.
  • Sensor dan aktivitas latar belakang - beberapa aplikasi juga memantau kebiasaan pengguna. Misalnya, aplikasi apa yang sering dibuka, pola mengetik, atau aktivitas jaringan—untuk memahami perilaku pengguna lebih dalam.
  • SDK (Software Development Kit) - SDK adalah alat bawaan dari pihak ketiga (seperti Google Firebase atau Facebook Analytics) yang ditanam di aplikasi. SDK ini mengirimkan data pengguna ke server mereka untuk analisis, iklan, atau pelacakan lintas perangkat.

3. Alasan aplikasi mengumpulkan terlalu banyak data pengguna

pexels-andersonguerra-1138735.jpg
ilustrasi Facebook (pexels.com/Anderson Guerra)
  • Iklan dan monetisasi - Banyak aplikasi mengandalkan iklan untuk menghasilkan uang. Semakin lengkap data pengguna yang dikumpulkan, semakin mudah menampilkan iklan yang tepat sasaran dan menghasilkan keuntungan.
  • Pelatihan algoritma dan AI - Meningkatnya penggunaan AI membuat data pengguna jadi sangat berharga. Beberapa perusahaan mengumpulkan data untuk melatih algoritma dan model AI, bahkan tanpa persetujuan yang jelas.
  • Bersaing dengan kompetitor - Demi unggul dari pesaing, ada aplikasi yang memantau perilaku pengguna secara tidak etis, termasuk untuk mengetahui produk lain yang mereka gunakan.
  • Kerja sama dengan pemerintah - Dalam kondisi tertentu, pemilik aplikasi bisa diminta bekerja sama dengan pemerintah atau aparat hukum untuk memberikan akses ke data pengguna.
  • Penimbunan data - Ada juga aplikasi yang mengumpulkan data berlebihan tanpa tujuan langsung, dengan alasan mungkin berguna di masa depan.

4. Bahaya mengumpulkan terlalu banyak data pengguna

Meskipun pengembang aplikasi dan website memiliki alasan khusus dalam mengumpulkan data pengguna, tapi perilaku yang berlebihan juga bisa menimbulkan bahaya, seperti:

  • Pelanggaran privasi - pengumpulan data yang berlebihan mengungkap detail pribadi tanpa persetujuan yang terkadang bisa merugikan pengguna.
  • Pelanggaran keamanan - lebih banyak data berarti target peretas yang lebih besar. Ini berisiko mengekspos data pengguna melalui kebocoran di dark web atau pencurian identitas.
  • Menurunkan pepercayaan pengguna - pelacakan agresif mengikis loyalitas. Akibatnya, pengguna akan mencari aplikasi atau website lain yang dirasa lebih aman.
  • Biaya tersembunyi bagi pengembang - Menimbun data membutuhkan server, keamanan, dan kepatuhan yang mahal.

5. Apa yang harus dilakukan untuk melindungi data pengguna

  • Hapus riwayat - Jika kamu tidak ingin melihat iklan berdasarkan aktivitas online sebelumnya, hapus cookie dan bersihkan riwayat penelusuran dan pencarian.
  • Sesuaikan pengaturan privasi - Pengaturan privasi di browser memberi kamu kendali atas informasi yang dikumpulkan situs web tentangmu. Misalnya, kamu dapat memilih untuk memblokir situs web agar tidak melihat riwayat penelusuranmu. Atau memilih untuk tidak membagikan lokasimu kepada mereka.
  • Pertimbangkan untuk menggunakan pemblokir iklan - Pemblokir iklan mencegah iklan muncul di browser. Cara kerjanya adalah dengan menyaring konten tertentu sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh program atau pengguna. Beberapa pemblokir iklan memungkinkan kamu memblokir piksel dan pelacak lain agar tidak mengumpulkan data tentangmu.
  • Tinjau pemberitahuan cookie situs web - Saat kamu mengunjungi beberapa situs web, kamu mungkin melihat pemberitahuan tentang bagaimana situs web tersebut menggunakan cookie. Pilih opsi yang paling sesuai dengan preferensimu.

Pada akhirnya, memahami alasan dan bagaimana cara pengembang aplikasi dan website mengumpulkan data ini penting agar pengguna bisa lebih sadar dan kritis saat menggunakan aplikasi. Dengan begitu, kita bisa lebih bijak dalam memberi izin akses dan menjaga data pribadi tetap aman di tengah ekosistem digital yang makin agresif.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us

Latest in Tech

See More

10 Game Penghasil Uang yang Disebut Bisa Cair ke DANA

02 Jan 2026, 20:14 WIBTech