Google Rilis Disco, Browser AI yang Bisa Bikin Aplikasi Sendiri

- Google merilis Disco, browser eksperimental dengan fitur GenTabs yang menggunakan AI Gemini 3 untuk membuat aplikasi web mini dari tab browser.
- GenTabs dapat membantu dalam perencanaan liburan, edukasi, perencanaan menu makanan mingguan, dan panduan pindah rumah antar kota.
- Disco masih tersedia secara terbatas untuk pengguna macOS di AS dan merupakan eksperimen awal yang berpotensi diintegrasikan ke produk utama Google.
Sebagai pemain besar dalam industri browser melalui Chrome, Google berupaya bereksperimen dengan cara baru menjelajah internet. Mereka baru saja memperkenalkan Disco, sebuah browser eksperimental yang dirancang untuk mengubah pengalaman browsing menjadi lebih produktif. Proyek ini hadir dari divisi Google Labs dan menawarkan pendekatan unik dalam mengelola informasi.
Fitur unggulan yang dibawa bernama GenTabs dan ditenagai oleh model AI terbaru Gemini 3. Fitur ini mampu menyulap kumpulan tab yang terbuka menjadi aplikasi web mini yang interaktif dan fungsional. Berikut berbagai fakta menarik browser Disco buatan Google ini!
1. Fitur GenTabs untuk buat aplikasi langsung di dalam browser
Disco bukanlah pengganti Chrome, melainkan sebuah wadah eksplorasi untuk melihat masa depan interaksi web. Browser ini mengintegrasikan model kecerdasan buatan (AI) Gemini 3 ke dalam inti pengalaman pengguna. Tujuannya adalah membantu pengguna menyelesaikan tugas kompleks tanpa perlu melompat antar puluhan tab yang membingungkan.
Fitur utama Disco adalah GenTabs yang berfungsi mengubah tab browser dan riwayat obrolan menjadi aplikasi khusus. Pengguna cukup memberikan perintah teks sederhana untuk mendeskripsikan alat atau aplikasi yang mereka butuhkan. AI kemudian akan memproses informasi dari tab yang terbuka untuk membangun antarmuka tersebut secara otomatis.
Berbeda dengan chatbot biasa, GenTabs bekerja di dalam wadah yang disebut Project pada sidebar browser. Wadah ini menampung percakapan chat sekaligus kumpulan tab referensi yang relevan dengan topik pencarian. Sistem ini menciptakan kolaborasi mulus antara penelusuran web tradisional dan bantuan generatif AI, dilansir The Verge.
Google menyebut konsep ini sebagai perpaduan antara Googling dan vibe coding untuk pengguna awam. Pengguna tidak perlu menulis satu baris kode pemrograman pun untuk membuat aplikasi web fungsional ini. Semua elemen yang dihasilkan dapat disesuaikan kembali menggunakan bahasa alami yang mudah dipahami.
Keunikan lain Disco terletak pada kemampuannya menjaga pengguna tetap terhubung dengan sumber asli. Alih-alih hanya memberikan ringkasan teks, GenTabs memotivasi pengguna untuk membuka website asli sebagai dasar data. Hal ini memastikan informasi yang disajikan AI tetap akurat dan memiliki rujukan tautan yang jelas.
2. Disco bisa bantu belajar, traveling hingga urusan rumah

Google mendemonstrasikan kemampuan Disco melalui berbagai skenario, misalnya, perencanaan liburan melihat bunga sakura di Jepang. GenTabs secara otomatis membuat rencana perjalanan lengkap dengan peta lokasi dan estimasi keramaian di berbagai kota. Pengguna juga bisa melihat tips perjalanan yang diambil langsung dari situs web wisata yang sedang dibuka.
Aplikasi mini yang dihasilkan bersifat dinamis dan bisa diperbarui seiring bertambahnya informasi baru dari pengguna. Jika pengguna membuka tab baru tentang hotel atau atraksi, GenTabs akan memasukkannya ke dalam rencana perjalanan. Interaksi ini lebih cair dan kolaboratif dibandingkan sekadar bertanya jawab dengan chatbot biasa.
Selain wisata, fitur ini bisa juga untuk keperluan edukasi seperti mempelajari topik sains yang rumit. Contohnya, Disco bisa membuat visualisasi interaktif 3D tentang tata surya untuk siswa sekolah dasar. Pengguna juga bisa meminta simulasi konsep entropi fisika agar lebih mudah dipahami secara visual daripada sekadar penjelasan teks.
Contoh penggunaan praktis lainnya mencakup perencanaan menu makanan mingguan hingga panduan pindah rumah antar kota. Untuk kasus pindah rumah, Disco dapat menyusun tabel perbandingan harga jasa angkut barang dan kalkulator berat barang. Semua widget ini dibuat secara instan (on-the-fly) sesuai kebutuhan spesifik pengguna saat itu.
Fleksibilitas GenTabs memungkinkan pengguna merevisi tampilan atau isi aplikasi sesuka hati lewat kolom chat. Jika hasil awal dirasa kurang pas, kamu cukup mengetik perintah revisi di kolom chat yang tersedia. AI akan segera membangun ulang struktur aplikasi tersebut agar sesuai dengan preferensi pribadi pengguna.
3. Disco masih tersedia untuk pengguna macOS di AS

Saat ini, Disco masih dalam tahap eksperimen awal dan tersedia secara terbatas untuk publik. Google Labs baru membuka akses melalui sistem waitlist bagi pengguna di Amerika Serikat (AS). Untuk peluncuran perdana ini, perangkat lunak Disco baru kompatibel dengan sistem operasi macOS.
Karena statusnya masih eksperimental, Google memperingatkan bahwa kinerja browser mungkin belum sempurna sepenuhnya. Pengguna awal diharapkan memberikan umpan balik untuk menyempurnakan fitur-fitur unik di dalamnya. Masukan ini akan digunakan Google untuk menentukan arah pengembangan Disco ke depannya.
Eksperimen ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan browser Chrome dalam waktu dekat. Namun, ide-ide terbaik dari Disco berpotensi untuk diadopsi ke dalam produk utama Google nantinya. Ini bisa mencakup integrasi fitur GenTabs ke Chrome, Google Docs, atau layanan produktivitas Google lainnya.
Tim pengembang juga sedang meneliti keseimbangan antara sifat sementara dan permanen dari aplikasi GenTabs. Mereka mempertimbangkan fitur untuk menyimpan atau membagikan aplikasi mini tersebut kepada orang lain di masa depan. Fitur ini berpotensi memperluas kegunaan Disco dari sekadar alat riset pribadi menjadi alat kolaborasi tim. Kehadiran Disco sendiri semakin meramaikan kompetisi browser bertenaga AI yang kian populer belakangan ini.



















