Kecerdasan buatan (AI) semakin banyak digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari mencari informasi, membuat gambar, hingga membantu pekerjaan sehari-hari. Di balik teknologi tersebut, ada infrastruktur fisik berupa data center yang membutuhkan listrik, sistem pendinginan, air, dan lahan. Artinya, perkembangan AI membawa kebutuhan terhadap sejumlah sumber daya.
Penelusuran tentang jejak lingkungan AI menjadi semakin relevan ketika sejumlah wilayah Indonesia sedang menghadapi musim kemarau dan kekeringan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat El Niño berada pada kategori sangat kuat pada September 2026, sementara sebagian besar wilayah Indonesia bagian selatan mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) ekstrem lebih dari 60 hari. Lantas, benarkah AI membutuhkan banyak air dan apa hubungannya dengan kekeringan? Berikut penjelasannya!
