Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Cara Mengenali Penipuan Berbasis AI di Media Sosial

3 min read
5 Cara Mengenali Penipuan Berbasis AI di Media Sosial
ilustrasi penipuan (magnific.com/rawpixel-com)
  • Penipuan berbasis AI dapat menyamarkan identitas, suara, dan video agar terlihat meyakinkan.

  • Pesan mendesak, tautan mencurigakan, dan permintaan pembayaran tidak wajar perlu diwaspadai.

  • Verifikasi identitas pengirim melalui kanal resmi sebelum mengikuti instruksi apa pun.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Penipuan digital semakin sulit dikenali. Itu karena AI bisa membantu pelaku membuat pesan, suara, gambar, atau video yang tampak meyakinkan. Teknologi ini memberi pelaku cara baru untuk menyamar sebagai perusahaan, pejabat, teman, bahkan anggota keluarga.

Meski punya tampilan yang semakin rapi, pola penipuan masih bisa dikenali lewat beberapa tanda. Kamu perlu memperhatikan isi pesan, cara pelaku berkomunikasi, dan permintaan yang diberikan sebelum mengambil tindakan agar tidak terburu-buru mengambil keputusan. Berikut tips yang dapat membantu kamu mengenali penipuan digital berbasis AI.

  1. 1. Periksa identitas pengirim

    ilustrasi isi pesan penipuan
    ilustrasi isi pesan penipuan (unsplash.com/@brettwharton)

    Penipu bisa menyamar sebagai bank, perusahaan, instansi pemerintah, atau orang yang dikenal korban. AI dapat membantu menyusun pesan yang lebih personal sehingga komunikasi terlihat lebih meyakinkan. Federal Trade Commission (FTC), lembaga pemerintah Amerika Serikat yang bertugas melindungi konsumen, menyebut penyamaran sebagai salah satu pola umum penipuan. Jenis penipuan seperti ini juga marak terjadi di Indonesia sebagaimana dijelaskan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

    Periksa informasi pengirim melalui kanal resmi sebelum membalas pesan. Jangan memakai nomor telepon atau tautan yang diberikan dalam pesan mencurigakan untuk melakukan verifikasi. Cari sendiri situs resmi atau hubungi orang yang bersangkutan lewat kontak yang sudah dikenal untuk memastikan identitasnya.

  2. 2. Waspadai pesan yang memaksa

    pesan di Telegram
    pesan di Telegram (unsplash.com/@christianw)

    Rasa panik biasanya menjadi bagian dari strategi penipu untuk mendorong korban bertindak cepat. Isi pesan bisa mengaku ada masalah pada rekening, anggota keluarga mengalami keadaan darurat, atau korban harus segera membayar sesuatu. FTC menyebut permintaan untuk segera bertindak sebagai salah satu tanda yang umum ditemukan dalam penipuan. Pola penipuan seperti ini juga terjadi di Indonesia. Jadi, jangan langsung mengikuti instruksi sebelum memeriksa kebenaran informasi.

  3. 3. Jangan langsung percaya suara dan video

    ilustrasi panggilan video
    ilustrasi panggilan video (unsplash.com/@hcdigital)

    AI generatif bisa dipakai untuk membuat suara yang menyerupai orang lain. FTC pernah memperingatkan soal penipuan yang memanfaatkan voice cloning untuk membuat penelpon terdengar seperti anggota keluarga korban. Pelaku kemudian bisa mengarang keadaan darurat dan meminta uang dalam waktu singkat. Di Indonesia, modus penipuan seperti ini juga bisa berupa penyamaran wajah dan suara orang terkenal seperti selebriti atau influencer. Namun, suara dan video yang dihasilkan oleh AI biasanya masih bisa dikenali dengan ciri seperti bicara kaku, terlalu halus, atau tidak natural. Jadi, jangan langsung percaya begitu saja ketika menemukan video atau panggilan yang terasa janggal.

  4. 4. Periksa tautan sebelum mengklik

    potret menggunakan smartphone
    potret menggunakan smartphone (unsplash.com/@freestocks)

    Pesan mencurigakan bisa berisi tautan yang mengarah ke situs palsu untuk mengambil informasi pribadi atau keuangan. Tampilan pesan dapat dibuat menyerupai komunikasi dari bank, perusahaan, atau layanan digital yang dikenal. Jangan mengklik tautan dari pesan tak dikenal sebelum memastikan sumbernya. Periksa alamat web melalui kanal resmi atau tik sendiri alamatnya jika perlu.

  5. 5. Curigai permintaan pembayaran yang tidak wajar

    ilustrasi pembayaran digital
    ilustrasi pembayaran digital (unsplash.com/@cardmapr)

    Cara pembayaran bisa menjadi petunjuk penting saat menghadapi penipuan digital. FTC mencatat bahwa penipu kerap meminta pembayaran lewat transfer bank, wire transfer, aplikasi pembayaran, cryptocurrency, atau gift card karena uang lebih sulit dilacak dan dikembalikan. Permintaan membeli gift card, lalu mengirim nomor kartu atau PIN, juga merupakan pola penipuan yang sudah lama ada. Selain itu, permintaan pembayaran mendadak patut diperiksa lebih lanjut, terutama jika disertai ancaman atau batas waktu yang sangat singkat. Jangan mengikuti instruksi pembayaran hanya karena pengirim mengaku berasal dari lembaga resmi atau orang yang dikenal.

    Berdasarkan data OJK hingga pertengahan 2026, tercatat ada 1.379 laporan penipuan keuangan yang terindikasi menggunakan teknologi kecerdasan buatan. Hal ini membuktikan jika penipuan berbasis AI memang menjadi ancaman nyata. Namun, pola seperti penyamaran identitas, ancaman, tautan mencurigakan, dan permintaan pembayaran masih sangat bisa dikenali. Kuncinya ialah verifikasi dengan teliti. Bagaimanapun, kecerdasan buatan pasti memiliki celah kekurangan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More