Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Deepfake Diprediksi Jadi Ancaman Serius di 2026

ilustrasi Deepfake (pexels.com/Markus Winkler)
ilustrasi Deepfake (pexels.com/Markus Winkler)
Intinya sih...
  • Deepfake masuk ke arus utama dan jadi risiko rutin
  • Kesadaran pengguna biasa terhadap deepfake semakin meningkat
  • Kualitas deepfake meningkat
  • Kualitas visual dan audio deepfake semakin realistis
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Survei dari Boston Consulting Group (BCG) menemukan bahwa sebanyak 78 persen profesional di Asia Pasifik sudah menggunakan AI setidaknya setiap minggu. Angka ini lebih tinggi dari rata rata global yang berada di angka 72 persen. Adopsi yang cepat ini mendorong efisiensi kerja, tetapi juga membuka ruang ancaman baru.

Para ahli keamanan siber dari Kaspersky menilai percepatan AI ikut mempercepat evolusi kejahatan digital, termasuk deepfake. Menjelang 2026, teknologi AI generatif dan LLM tidak hanya memperkuat sistem pertahanan, tetapi juga memberi pelaku ancaman alat yang lebih murah, cepat, dan sulit dideteksi. Bagi individu dan bisnis, deepfake diprediksi menjadi salah satu risiko siber paling serius di era adopsi AI massal.

1. Deepfake masuk ke arus utama dan jadi risiko rutin

Deepfake tidak lagi muncul sebagai ancaman sporadis. Teknologi ini sudah menjadi bagian dari arus utama. Perusahaan kini lebih terbuka membahas risiko konten sintetis dan mulai melatih karyawan agar tidak mudah tertipu. Seiring volume deepfake meningkat, formatnya juga semakin beragam.

Kesadaran tidak hanya tumbuh di level organisasi, tetapi juga di kalangan pengguna biasa. Konsumen semakin sering menemukan konten palsu dan mulai memahami pola ancamannya. Kondisi ini membuat deepfake masuk ke agenda keamanan rutin, yang menuntut pelatihan berkelanjutan dan kebijakan internal yang lebih sistematis.

2. Kualitas deepfake meningkat

ilustrasi deepfake (freepik.com/freepik
ilustrasi deepfake (freepik.com/freepik

Kualitas visual deepfake sudah berada di level tinggi dan akan terus disempurnakan lewat audio yang semakin realistis. Suara menjadi area pertumbuhan utama dalam waktu dekat. Di saat yang sama, alat pembuat konten makin mudah digunakan. Kamu tidak perlu keahlian teknis untuk membuat deepfake dengan kualitas menengah.

Cukup beberapa klik, kamu sudah bisa membuat deepfake dengan cukup realistis. Kualitas rata rata meningkat, akses semakin luas, dan teknologi ini lebih mudah disalahgunakan. Kondisi ini memberi peluang besar bagi penjahat siber untuk memperluas skala serangan di 2026.

3. Tips pencegahan dari Kaspersky

Untuk melindungi transformasi berbasis AI, organisasi perlu memperkuat fondasi keamanan siber. Perbarui perangkat lunak di semua perangkat secara rutin agar celah keamanan tidak dimanfaatkan penyerang. Hindari mengekspos layanan desktop jarak jauh ke jaringan publik jika tidak mendesak, dan pastikan penggunaan kata sandi yang kuat.

Solusi keamanan tingkat lanjut seperti Kaspersky Next membantu memberi visibilitas menyeluruh di infrastruktur perusahaan, sehingga ancaman kompleks bisa dideteksi dan dinetralisir lebih cepat. Pemanfaatan intelijen ancaman terbaru juga penting agar kamu memahami taktik dan teknik yang digunakan pelaku siber saat ini.

Di saat yang sama, pencadangan data harus dilakukan secara berkala, disimpan terisolasi dari jaringan, dan mudah diakses saat kondisi darurat.

Deepfake akan menjadi ujian nyata bagi keamanan digital di 2026. Teknologinya semakin mudah diakses, sementara dampaknya kian merusak kepercayaan. Tanpa kesiapan teknis dan kesadaran pengguna, ancaman ini akan tumbuh lebih cepat dari sistem pertahanannya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us

Latest in Tech

See More

7 Game LEGO Terbaik Bertema Superhero untuk Dimainkan

19 Jan 2026, 19:05 WIBTech