Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Jutaan Pekerjaan Terancam AI, Pakar Peringatkan Risiko Kerusuhan

5 min read
Jutaan Pekerjaan Terancam AI, Pakar Peringatkan Risiko Kerusuhan
Ilustrasi penggunaan AI (freepik.com/frimufilms)
  • AI diperkirakan mengancam hampir delapan juta pekerjaan di Inggris tanpa intervensi pemerintah, terutama posisi pemula, paruh waktu, dan administratif dalam tiga hingga lima tahun.
  • Anak muda menghadapi tekanan lebih besar: 981.000 warga Inggris usia 16–24 tahun tidak bekerja, sekolah, atau pelatihan, sementara kekhawatiran pengangguran akibat AI meluas.
  • Pakar menilai penurunan pendapatan dapat memicu keresahan sebelum pengangguran massal; reskilling, pendidikan, jaring pengaman sosial, dan kebijakan perlindungan pekerja diperlukan untuk menghadapi perubahan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Perkembangan kecerdasan buatan atau AI membuat banyak pekerjaan berubah dengan cepat. Teknologi ini memang bisa membantu pekerjaan menjadi lebih praktis, tapi di sisi lain juga memunculkan kekhawatiran soal nasib pekerja di masa depan.

Di Inggris, persoalan tersebut menjadi semakin serius karena angka pengangguran anak muda masih tinggi ketika AI mulai masuk ke berbagai sektor pekerjaan. Seorang pakar bahkan memperingatkan bahwa keresahan sosial bisa muncul jauh sebelum pengangguran massal benar-benar terjadi.

Fenomena jutaan pekerjaan terancam AI ini menarik untuk diperhatikan. Hal ini disebabkan oleh perubahan akibat AI yang gak hanya menyangkut pekerja kantoran, tapi juga berbagai profesi lain. Lantas, seperti apa dampak AI terhadap dunia kerja yang perlu kamu pahami?

  1. 1. AI bisa mengubah jutaan pekerjaan

    ilustrasi administrasi, file perusahaan, folder, dokumen, admin
    ilustrasi administrasi, file perusahaan, folder, dokumen, admin (pexels.com/cottonbro studio)

    Ancaman AI terhadap dunia kerja bukan sekadar soal perusahaan mengganti manusia dengan mesin. Menurut ekonom Carl-Benedikt Frey dari Oxford Internet Institute, perkembangan AI dapat memberikan tekanan terhadap pendapatan pekerja di berbagai bidang. Ia memperkirakan keresahan sosial bisa muncul jauh sebelum kondisi pengangguran massal terjadi. Alasannya, perubahan pendapatan saja sudah dapat menimbulkan tekanan bagi pekerja dan keluarganya.

    Laporan Institute for Public Policy Research pada 2024 memperkirakan hampir delapan juta pekerjaan di Inggris berpotensi hilang akibat AI apabila gak ada intervensi pemerintah. Pekerjaan tingkat pemula, paruh waktu, dan administratif termasuk yang paling terpapar dalam skenario terburuk selama tiga sampai lima tahun. Artinya, kelompok yang baru masuk dunia kerja bisa menghadapi tantangan lebih besar ketika perusahaan semakin mengandalkan otomatisasi. Kondisi ini membuat persaingan mendapatkan pekerjaan berpotensi semakin ketat.

  2. 2. Anak muda menghadapi tekanan lebih besar

    ilustrasi gen Z sedang diskusi
    ilustrasi gen Z sedang diskusi (freepik.com/pressfoto)

    Persoalan tersebut menjadi semakin rumit karena anak muda di Inggris memang sudah menghadapi pasar kerja yang sulit. Data dari Office for National Statistics (ONS) menunjukkan terdapat 981.000 orang berusia 16 sampai 24 tahun yang tidak sedang bekerja, bersekolah, atau mengikuti pelatihan pada April hingga Juni. Angka tersebut setara dengan 13 persen dan masih termasuk salah satu tingkat tertinggi di Eropa. Di beberapa wilayah, jumlah lowongan yang tersedia bahkan sangat jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah anak muda yang mencari pekerjaan.

    Kondisi ini membuat masuknya AI menjadi perhatian tersendiri bagi generasi muda. Penelitian King's College London menemukan bahwa lebih dari separuh masyarakat Inggris percaya AI akan menyebabkan pengangguran secara luas. Sekitar satu dari lima responden bahkan memperkirakan pengangguran akibat AI dapat mencapai tingkat yang memicu kerusuhan sosial. Di kalangan mahasiswa, pandangan tersebut lebih tinggi, mencapai 34 persen.

  3. 3. Dampaknya bukan hanya ke pekerja kantoran

    ilustrasi perbaikan saluran air, pipa air, tukang ledeng
    ilustrasi perbaikan saluran air, pipa air, tukang ledeng (magnific.com/pressfoto)

    Selama ini, pekerjaan kantoran sering dianggap sebagai kelompok yang paling rentan terkena otomatisasi AI. Namun, menurut Frey, dampaknya bisa jauh lebih luas dan mencakup pekerjaan di sektor konstruksi maupun manufaktur. AI bahkan dapat membuat konsumen melakukan sendiri sejumlah pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan bantuan tenaga profesional. Contohnya, seseorang bisa menggunakan AI untuk mencari panduan memperbaiki kerusakan peralatan rumah sebelum memanggil teknisi.

    Perubahan seperti ini gak selalu langsung menyebabkan pengangguran massal, tapi tetap dapat memengaruhi pendapatan pekerja. Jika pekerjaan sederhana semakin mudah dilakukan sendiri dengan bantuan AI, tenaga profesional mungkin hanya mendapatkan kasus yang lebih rumit. Situasi tersebut juga bisa berdampak pada pekerja magang karena mereka berpotensi kehilangan kesempatan menangani pekerjaan dasar sebagai bagian dari proses belajar. Jadi, efek AI dapat terasa secara perlahan melalui berkurangnya jenis pekerjaan tertentu.

  4. 4. Keresahan bisa muncul sebelum pengangguran massal

    ilustrasi taksi di London, Inggris, Eropa
    ilustrasi taksi di London, Inggris, Eropa (pexels.com/Daria Agafonova)

    Menurut Frey, masyarakat gak harus menunggu jutaan orang kehilangan pekerjaan untuk mulai merasakan dampak sosial dari AI. Ia menilai penurunan pendapatan sekitar 5 hingga 10 persen saja sudah bisa memicu keresahan. Sebagai perbandingan, ia menyebut pendapatan pengemudi taksi pernah mengalami tekanan sekitar 10 persen akibat perubahan yang dibawa Uber. Perbedaannya, AI merupakan teknologi yang penggunaannya dapat menjangkau jauh lebih banyak industri dan jenis pekerjaan.

    Kekhawatiran terhadap AI juga sudah terlihat sebelum teknologi tersebut menyebabkan pengangguran massal. Frey menyebut penolakan terhadap AI berkaitan dengan berbagai hal, termasuk kekhawatiran mengenai lingkungan dan pembangunan pusat data berskala besar. Jika dampaknya terhadap penghasilan dan mata pencaharian semakin terasa, ketidakpuasan masyarakat berpotensi semakin kuat. Karena itu, persoalan AI gak hanya berkaitan dengan teknologi, tapi juga kondisi ekonomi dan sosial.

  5. 5. Reskilling diperlukan agar pekerja bisa beradaptasi

    ilustrasi berangkat kerja, karyawan, komuter, stasiun kereta, transportasi umum
    ilustrasi berangkat kerja, karyawan, komuter, stasiun kereta, transportasi umum (pexels.com/MART PRODUCTION)

    Profesor Elena Simperl dari King's College London menilai perubahan akibat AI perlu dihadapi secara aktif, bukan sekadar dibiarkan berlangsung. Salah satu langkah yang disoroti adalah mempersiapkan program pelatihan ulang atau reskilling bagi pekerja. Perusahaan dan pekerja juga perlu mendapatkan pemahaman mengenai kapan AI sebaiknya digunakan dan bagaimana memanfaatkannya secara tepat. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu manusia beradaptasi ketika kebutuhan dunia kerja terus berubah.

    Pemerintah juga perlu memikirkan jaring pengaman sosial apabila tren penurunan lapangan kerja terus berlanjut. Frey menilai sistem kesejahteraan dan pendidikan yang sudah ada dapat menjadi dasar untuk menghadapi perubahan tersebut, meski kemungkinan perlu disesuaikan. Jika porsi pendapatan yang berasal dari tenaga kerja menurun, sistem perpajakan juga berpotensi perlu mengalami perubahan. Dengan persiapan yang lebih matang, transisi menuju dunia kerja yang semakin dipengaruhi oleh AI setidaknya bisa dihadapi dengan lebih terarah.

    Perkembangan AI memang menawarkan banyak manfaat, tapi perubahan besar dalam dunia kerja juga membawa risiko yang tak bisa diabaikan. Ancaman tersebut bukan hanya berkaitan dengan hilangnya pekerjaan, tetapi juga kemungkinan turunnya pendapatan, sulitnya anak muda mendapatkan pekerjaan pertama, hingga perubahan identitas dan tujuan hidup seseorang.

    Menurut Frey, jutaan pekerjaan terancam AI beserta kehilangan pekerjaan secara bersamaan akan menjadi perubahan sosial yang sangat besar serta gak mudah dilalui. Karena itu, kemampuan beradaptasi, pelatihan ulang, pendidikan, serta kebijakan perlindungan pekerja menjadi semakin penting ketika AI terus berkembang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More